CHAPTER 38

1336 Kata
Di lagu ke lima, aku kembali duduk ke tempat semula. Kalian harus tau bahwa tadi di panggung Bradley menari memutari ku dan beberapa kali dia menarikan gerakan yang aku sendiri tidak tau apa nama gerakan nya. Aku juga mengikuti nya menari. Padahal aku tidak minum alkohol, tapi aku merasa sangat lepas. Berarti untuk apa mabuk padahal kau bisa dengan bebasnya mendengarkan musik dan kau akan melayang dan terbawa suasana. Bradley sendir terlihat sangat menikmati penampilannya di atas panggung. Dan aku sendiri seperti seorang gadis yang selalu naik ke atas panggung seperti di konser Justin Bieber. Khas konser Justin Bieber adalah dia selalu menarik salah satu penontonnya di saat dia menyanyikan lagu One Less Lonely Girl. Bukan literaly di tarik oleh Justin, sih. Tapi kru Justin memilih satu gadis yang beruntung untuk naik ke atas panggung. Lalu Justin menyanyikan lagu One Less Lonely Girl sementara gadis itu duduk mendapatkan service dari idolanya tersebut. Aku bilang begini bukan karena aku ngefans pada Justin atau aku pernah ke konser Justin. Aku sih mengikuti beritanya saja karena senang melihat ada orang beruntung. AKu sungguh-sungguh merasa ikut senang. "Bagaimana bagaimana? Tadi itu menyenangkan sekali kan?” Tanya Tristan saat mereka sudah selesai tampil dan kami berlima kini berkumpul di satu meja. Aku mengangguk-anggukan kepalaku pada pertanyaan Tristan. “Iya, seru sekali.” Jawabku dengan jujur. “Lalu bagaimana menurutmu? Kami Keren, tidak?" Tanya Tristan lagi sembari menaik-turunkan kedua alisnya. Mendengar pertanyaan dari Tristan, James menjawabnya. Padahal pertanyaan itu untukku. “Iya keren dong pastinya.” Jawab James. “Percaya diri sekali kau. Kan yang ditanya itu Elena. Bukan kau. Kalau kau sih pasti menjawab keren. Kan ini adalah bandmu.” Ucap Connor. James menjulurkan lidahnya pada Connor lalu dia kembali menatapku. “Kalau aku bagaimana, El? Aku keren dan mempesona kan tadi di atas panggung?” Tanya James. Aku tertawa. “Iya kau keren. Semuanya juga keren.” Jawabku. "Harus aku akui bahwa kalian sangat keren! Aku terbawa suasana sampai tidak ingat bahwa aku sedang di atas panggung dan banyak yang menyaksikan." Ucap ku jujur. “Oh ya? Kalau begitu kita berhasil membuatmu enjoy.” Ucap James. “Iya begitu lah. Kalian pokoknya keren sekali.” Jawabku lagi sambil kali ini mengacungi kedua jempolku. “Doakan kami ya semoga kami bisa terus berkembang lebih baik.” Kini Bradley angkat bicara. Mendengar itu aku langsung mengaminkan ucapan Bradley. “Aku yakin kalian bisa, kok.” Ucapku lagi. “Hei kau sedang tidak sok baik kan pada kami sampai memuji kami seperti itu.” Ucap Connor yang kali ini diprotes oleh Bradley. “Tolong jaga kata-katanya ya. Ini tamu spesialku. Jangan sampai dia kecewa sepulang dari sini.” Protes Bradley. “Oke oke iya aku minta maaf. Hahah.” Jawab Connor. “Iya tidak apa-apa.” Jawabku. Lagi pula aku tidak merasa tersinggung sama sekali dengan apa yang Connor ucapkan. Malah aku sedang merasa senang di tengah-tengah mereka semua. Mereka sangat easy going dan aku yang sebagai orang baru di sini tidak merasa canggung sama sekali. "Oh ya? Berarti menurutmu kami itu Lebih keren dari Daily project ya?" Tanya Connor antusias. Hmmm kecuali pertanyaan itu, heiiii kenapa bawa-bawa Daily Project? Apalagi malah memintaku untuk membandingkan. Mendengar pertanyaan Connor, aku pun mengernyit. “Hei! Tidak begitu juga.” Jawabku memprotes ucapan Connor. Aku bilang band Bradley keren, tapi aku tidak bilang lebih keren dari Daily Project kan. Aku berkata ini juga bukan berarti Daily Project lebih keren. Pokoknya mereka itu sama-sama keren. “Kalian sama-sama keren tau. Lagi pula warna musik kalian juga sama. Jadi kalian sama-sama keren.” Lanjutku lagi mengambil posisi aman. Lagi pula aku memang tidak tau mana yang lebih keren. Mereka sama-sama keren. AKu sungguh-sungguh mengatakan ini. Bukan karena aku tidak enak pada band Bradley atau karena aku dan Daily Project itu dekat. Bukan karena itu. “Wah jawaban yang sangat mengambil aman.” Ucap Connor yang langsung aku respon dengan anggukan setuju. Aku setuju, itu memang jawaban teraman. Tapi bukan berarti aku berbohong. “Benar sekali. Hahaha.” Jawabku. Lalu Bradley, James, dan Tristan ikut tertawa. “Iya lah. Daily Project kan teman-temannya. Masa Elena bilang kita lebih keren.” Ucap Tristan yang bilang bahwa aku bilang mereka sama-sama keren karena Daily Project temanku. Heii mulut siapa itu. “TIdak juga. Kalian memang sama-sama keren.” Jawabku. “Yasudah ah, pembahasan ini tidak akan selesai.” Lanjutku lagi. Tristan terlihat seperti ingin membalas ucapanku, tapi ucapan dia terpotong pada saat ada dua gadis yang datang pada meja kita untuk meminta foto. “Permisi, bolehkan kita meminta foto bersama?” Tanya salah satu gadis yang rambutnya terurai. Kedatangan dua gadis imut, kami semua pun menoleh dan fokus pada kedua gadis itu. “Hai, boleh dong.” Ucap James dengan sangat antusias. “Oh aku bisa memfotokan kalian.” Tawarku dan dengan begitu si gadis yang rambutnya terurai pun memberikan ponselnya padaku. “Terima kasih sebelumnya dan maaf kalau merepotkan ya kak.” Ucap si gadis yang rambutnya terurai dengan sangat sopan. Aku tersenyum dan mengibaskan tanganku. “Ah tidak kok. Santai saja.” Ucapku. “Hei kalian sana berdiri berbaris dan pose.” Ucapku pada Bradley, James, Tristan dan Connor. Dengan begitu Bradley, James, Tristan, dan Connor berdiri dari duduknya untuk berfoto bersama dengan dua gadis itu. “Oke, tahan. Satu dua tiga.” Aku menghitung maju lalu setelah selesai membidik, aku menahan mereka. “Sebentar. Masa hanya sekali foto? Ayo ganti pose.” Lanjutku. Mereka pun berganti pose dan aku membidik sekali lagi. Setelah selesai, aku pun memberikan ponsel itu pada gadis yang rambutnya diurai. “Terima kasih kak.” Ucap si gadis itu dan kini si gadis yang rambutnya di kuncir satu ikut membungkukkan badannya padaku. “Terima kasih banyak ya kak.” Ucap salah satu gadis yang rambutnya dikuncir satu. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. “No problemo.” Ucapku. Mereka berdua terlihat sangat manis. Aku bisa menebak mereka kelas 1 SMA karena mereka sangat imut-imut. Setelah sudah selesai, mereka berdua pun kembali ke tempatnya. Aku sempat mendengar mereka seperti kegirangan dan aku ikut senang. Setidaknya aku membantu mereka agar mereka lebih senang karena aku merasa bersalah soal tadi. Ahh waktu cepat sekail berlalu… OH IYA! Ngomong-ngomong waktu, jam berapa ini? "Jam berapa ini?" Tanya ku pada Bradley saat mereka semua sudah duduk di tempat masing-masing. Bradley mengangkat pergelangan tangan nya dan melihat ke arah jam tangan nya. "Jam 10.30 malam." Jawabnya. Hah? Jam setengah sebelas malam? Ini sudah malam sekali! Ya ampun aku bisa habis diomeli oleh kak Jo karena pulang terlalu larut melebihi batas waktu yang sudah ditentukan! Kak Jonathan pasti mengamuk! "Astaga sudah larut. Aku harus pulang." Kataku tidak santai karena sudah terlanjut panik. “Rumahmu jauh tidak?” Tanya Tristan. “Dekat kok.” Jawabku. “Perlu diantar? Sini biar ku antar saja.” Tawarnya. Tapi aku menggeleng kan kepalaku dan tersenyum, aku menolaknya halus. “Tidak, Tristan. Terima kasih. Dari sini aku jalan kaki kok.” Ucapku lagi menunjukan bahwa memang dekat sekali kafe ini dengan rumahku. Lalu tanpa menunggu persetujuan dari mereka, aku berdiri dan berjalan cepat menuju ke pintu keluar. "Elena!" Bradley teriak membuatku menoleh. "Biar ku antar ya? Ini sudah larut. Kan aku yang mengajakmu." Ucapnya merasa tidak enak. Tapi aku lagi-lagi menggelengkan kepalaku, “Tidak Bradley, that’s okay. Nggak apa-apa kok aku bisa pulang sendiri.” Jawabku. “Terima kasih yaa tawarannya.” Lanjutku. Saat aku hendak melangkah lagi, tiba-tiba aku teringat bahwa aku belum pamit pada teman-teman yang lain. “Bradley, titip salam pada yang lain. Terima kasih banyak. Malam ini sangat seru.” Ucapku menitipkan salam pada Bradley dan Bradley pun menganggukkan kepalanya. “Oke, aku akan salamkan pada mereka.” Ucap Bradley. Dan ketika aku hendak melangkahkan kaki ku lagi, aku teringat sesuatu lagi… Oh iya aku kan mau mengajak kak Jo ke sini. “Bradley, apakah aku boleh ke sini lagi kapan-kapan dengan kakakku?” Tanyaku lagi. Bradley tercengir. “Tentu saja boleh. Jangan sungkan-sungkan.” Katanya lalu dengan begitu aku benar-benar pamit pada Bradley dan melambaikan tanganku padanya. Bradley ikut melambaikan tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN