CHAPTER 14

2700 Kata
Setelah percakapan yang sangat canggung tadi, aku dan Praja pun secara tidak langsung bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Walaupun canggung dan masih menempel dengan jelas di kepalaku tentang apa yang terjadi tadi, aku tidak mau memikirkannya dulu. Sepertinya Praja juga bersikap demikian. Dengan begitu, kami berdua pun akhirnya memutuskan untuk bermain wahana permainan di taman ini sebagai distraksi. Dalam diam, kami berdua memilih wahana kami masing-masing. Aku memilih untuk tetap bermain ayunan dan Praja memutus kan untuk bermain perosotan. Aku hanya terduduk diam menonton Praja yang menaiki tangga perosotan. Ia menatapku balik dan tercengir saat hendak meluncur. Namun saat dia hendak meluncur, dia diam. Lalu dia malah memanggilku. "Elenaaaa!!!" Praja teriak setelah dia sudah duduk di puncak perosotan. Aku yang sedari tadi menatapnya hanya menaikkan kedua alisku. Haruskah dia berteriak seperti itu? Kenapa sih? Kan dia sudah tau aku sedang menatapnya. Kenapa juga dia harus memanggilku lagi. Kenapa dia tidak langsung saja memberitahuku maksud dan tujuannya memanggilku. Aku tidak membalas panggilannya dan menunggunya melanjutkan ucapannya. Tapi dia tidak langsung memberitahuku tentang niatnya memanggilku. Dia menyempatkan dirinya sendiri untuk memberikan cengiran bodoh khas nya ketika ia tau ia akan melakukan hal bodoh. Wah, ini sih benar-benar tanda bahwa dia akan mengatakan hal yang konyol. Kira-kira apa yang akan dia katakan? Apa dia akan mengajakku bermain perosotan? Atau dia mau memperosotkan diri dengan cara terbalik? Apa yang ingin dia katakan sebenarnya hah? Dia masih tercengir, sepertinya dia sengaja membuatku menunggu. Astaga, cengirannya terlihat seperti anak kecil yang baru di belikan mobil-mobilan oleh ayah nya. Dia seperti bocah kecil dan aku di sini adalah kakaknya karena aku selalu menjadi orang yang tenang dibandingkan Praja yang tidak bisa diam. Hehehe. Tapi jujur saja, melihat Praja seperti bocah dan tercengir seperti itu membuat rasa ingin mencubit pipinya ke kanan dan ke kiri seperti yang selalu aku lakukan ke sepupuku sangat besar. Aku suka anak kecil dan ketika Praja terlihat seperti anak kecil, aku sangat gemas. Tapi tentu saja, aku tidak mengatakannya karena yang ada nanti dia keras kepala. Enak saja. Nanti dia malah sok imut dan membuatku illfeel. Hahaha. “Apa?” Tanyaku saat dia tidak juga mengatakan lanjutannya. Hal itu membuatku sangat tidak sabar. “Lihat aku main perosotan! Aku akan terjun bebas!” Ucapnya. Lalu setelah memintaku untuk menontonnya (yang mana sebenarnya dari tadi juga sedang menontonnya) ia pun berusaha meluncur, namun hal yang tidak terduga terjadi. Ia tidak juga meluncur karena dia tersangkut. Sepertinya perosotan itu terlalu kecil sehingga Praja tidak bisa merosot. Bokongnya terlalu pas dengan ukuran perosotannya… Ini perosotannya yang terlalu kecil atau mungkin b****g Praja yang terlalu besar? Haha becanda. Tentu saja tidak muat. Taman ini kan dibuat untuk bocah. Kita bukan bocah lagi dan harusnya sadar diri bila tidak muat. Untung saja ayunan ini masih kuat menopang berat badanku. Hehehe. "Ugh!" Dia menggerutu sendiri berusaha menggerakkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan agar bisa merosot, namun tetap saja gagal. "Ugh! Nggak muat. Sepertinya aku terlalu gendut untuk perosotan ini." Gerang nya karena ia stuck di perosotan ukuran anak kecil. Tidak tidak. Aduh, bukan dia yang gendut tapi memang perosotan nya yang terlalu kecil. Dia bodoh atau bagaimana sih? “Bukan kau yang terlalu gendut. Tapi perosotannya saja memang yang terlalu kecil. Ini kan perosotan untuk anak kecil. Wajar saja lah bila tidak muat.” Jawabku. “Iya juga ya.” Ucapnya mengakui bahwa dia salah. Entah kenapa aku terkekeh mendengar gerutuannya dan rutukannya soal badannya yang terlalu besar. Dia seperti anak umur lima tahun yang tidak bisa menyelesaikan puzzle A B C D. Tapi tetap saja, dia tetap terlihat imut dan menggemaskan. Aku juga terkekeh karena dia dari tadi mencoba untuk merosot, tapi tetap tidak bisa. Dia seperti penasaran dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa merosot; yang mana tidak bisa. Pada akhirnya dia menyerah dan menoleh ke arahku. "Elena!" Dia memanggilku lagi padahal dari tadi wajahku sudah menghadapnya dan dari tadi aku kan tidak melihat sekitar selain dia. Dia tidak usah memanggilku lagi seharusnya. Huh. “Tolong fotokan aku.” Lanjutnya dengan menunjukan ekspresi wajah sok imut. Dia menempelkan masing-masing jari telunjuk kiri dan kanannya ke pipi. “Aku sangat kiyowo.” Lanjutnya lagi dan itu membuatku tertawa. “Kiyowo apanya!” Seruku memprotes. Padahal diam-diam aku setuju kalau dia kiyowo. Dengan begitu aku hanya memutar kedua bola mataku. Dasar raja narsis. Sedetik yang lalu dia menggerutu gendut karena tidak muat dengan perosotan. Tapi sedetik kemudian dia memintaku untuk memfoto dirinya yang sedang stuck di prosotan kecil itu. Walaupun aku malas sekali melihat perubahan suasana hati nya yang tidak bisa di tebak, aku tetap bangkit dari ayunan dan menghampiri dia yang masih tersangkut. Dia memberikanku Iphonenya dan dengan malas ku raih dengan tangan kanan ku. Aku membuka aplikasi kamera dan membidik- Menyesuai kan posisi yang menurut ku bagus. Sudah mendapat posisi yang pas dan Praja juga sudah siap, aku pun mulai meng hitung mundur. "Tiga… Dua… Satu… " Cekrek… Foto pun terpotret dan Praja tercengir sangat puas saat melihat hasilnya. “Bagus.” Ucap Praja. Aku pun mengadahkan kepalaku dengan sombong. “Iya dong. Siapa dulu yang ambil gambarnya.” Ucap ku dengan sombong namun Praja langsung menepisnya. “Bukan soal siapa yang mengambil gambar. Tapi siapa yang diambil gambarnya. Ini kan karena aku terlalu tampan. Jadi wajar saja hasilnya bagus.” Ucap Praja yang tidak mau kalah. Dengan begitu kami pun kembali berdebat. Dan kecanggungan sudah tidak kami rasakan lagi. Untung saja. Setelah berdebat dan kami capek sendiri. Kami pun duduk di ayunan. "Ku dengar Bradley membuat band juga. Kau tau soa itu?" Ucap Praja yang entah kenapa random sekali karena dia tiba-tiba malah membahas Bradley. Apa dia sedang memikirkan Bradley? Tapi tunggu, Bradley membuat band? Ya kalau misalkan iya, kenapa? Lalu kalau tidak juga kenapa? Aku tidak merasa semua ini ada kaitannya denganku. Oke, mungkin Praja bertanya karena aku teman sekelasnya. Jadi aku pun menggidikkan bahuku tidak peduli. “Kau tidak tau?” Tanyanya heran. Mendengar pertanyaannya yang terdengar sangat heran karena aku tidak tau menau soal band bradley, aku pun lebih heran lagi. “Looh kenapa juga aku harus tau?” Tanyaku. “Aneh.” Ucap Praja. Aku yang mendengar ucapannya pun langsung menoleh ke arahnya. Dia sedang duduk di ayunan sebelahku sambil mengucang-ucang kan kedua kakinya. Praja yang seperti ini terlihat sangat imut. Oke, aku terlalu banyak mengatakan ini. Tapi siapa juga yang tahan dengan ekspresinya yang seperti itu? Salah kan ibu dan ayah nya yang mempunyai gen sempurna . Tapi sungguh, Praja imut sekali duduk di ayunan sambil menucang-ucang kan kaki nya seperti anak SD . Oke, ngomong-ngomong soal Bradley. Kenapa juga dia membahas Bradley? Lalu apa hubungannya dengan ku bila Bradley membuat band? Apa manfaatnya untukku? Apakah aku akan mendapat kan uang dari fakta bahwa Bradley mempunyai band? Jawaban nya adalah tidak. Jadi ya masa bodo . Lalu kenapa Praja malah heran sekali saat aku bilang aku tidak tau. Dia menyebutku aneh pula. Aku memberinya tatapan 'Lalu apa urusannya denganku bila Bradley membuat band? Aku tidak peduli' agar dia mengerti bahwa aku ini tidak tertarik dengan topik yang dia sedang bahas. Seakan mengerti dengan tatapanku, Praja pun menghentikan ayunannya dan menatapku seperti ini -> (  ̄ -  ̄ ) Dia menatap ku seperti 'apa urusan nya denganmu? Kau tidak mengerti ya?' Hm? Bagaimana bisa aku mengerti? Yang aku mengerti adalah aku tidak ada hubungannya sama sekali dengan band milik Bradley. Aku dan Bradley pun jarang sekali mengobrol. Lalu apa sih yang dia harapkan dari aku yang jarang mengobrol dari Bradley? Dia berharap aku menggosip dengan anak lain agar mendapatkan informasi bahwa Bradley membuat band? Sangat tidak penting dan aku tidak mau melakukan itu. “Kau mau aku jadi mata-mata ya?” Tanya ku karena bila Bradley mempunyai band, berarti band itu adalah saingan Daily Project. “Hah? Tidak.” Ucapnya. “Lalu kenapa? Kau takut kalah saing?” Tanya ku lagi dan dia mengernyit. “Aku tidak takut kalah saing karena Daily Project itu yang terbaik.” Ucapnya lagi. Mendengar jawabannya pun aku langsung tambah heran. Aku pun menaikkan kedua alis ku, "Sungguh. Aku bingung sekali. Kalau memang jawabannya adalah tidak, lalu kenapa juga kau mengatakanbahwa aku aneh saat aku tidak tau Bradley membuat sebuah band? Bila Bradley membuat sebuah band .Ya sudah biar kan saja. I don't even care. Not at all. Itu intinya." Jawabku dengan super duper jelas agar Praja mengerti bahwa aku tidak mempunyai urusan dengan Bradley . "Kau ini bodoh sekali. Dia kan pacar mu." Ucap Praja membuat ku menganga atas pernyataan nya. Pacar? SEJAK KAPAN? "Apa? Pacar? Kenapa kau bisa bilang begitu? Apa ada indikasi bahwa aku dan Bradley pacaran? Apa aku dan Bradley yang jarang sekali mengobrol bisa dibilang pacaran?" Tanya ku. Aneh sekali. Kenapa sih dia main bilang bahwa aku dan Bradley pacaran padahal dia tau saja tidak. Praja hanya diam. Lalu menjawab ucapan ku dengan santai . "Ya tidak tahu. Inti nya kalian kan pacar." Jawabnya. Biar ku translate dengan ucapan yang lebih jelas. Ucapan Praja adalah; "Mana aku tahu? Pokoknya menurutku kalian itu pacaran." Begitu lah sekira nya apa yang dia coba ucapkan. Menurutnya. Tolong garis bawahi bagian ‘menurutnya’. Itu kan berarti masih berupa opini dan bukan fakta. Mungkin akan lebih bisa ku terima bila dia bertanya ‘Elena, apakah kau dan Bradley pacaran? Karena aku melihat kaian seperti pacaran’ dari pada bilang ‘kan kalian pacaran’. "Sudah ku bilang berapa kali kalau dia bukan pacarku." Ucap ku lebih memperjelas lagi bahwa aku dan Bradley tidak pacaran . Serius deh. Apa sih yang membuat Praja berpikir aku dan Bradley pacaran? Lagi pula kalau aku pacaran pun aku akan cerita pada nya kan? Kalau aku dan Bradley pacaran, dia adalah orang yang pertama kali tau. Aku jamin itu. Tidak mungkin aku diam diam saja. "Lalu?" Tanya nya. LALU? Apa sih maksudnya bertanya seperti itu? Kan sudah jelas bahwa aku menjelas kan bahwa aku dan Bradley tidak pacaran . Lalu apa yang harus aku ucap kan lagi ? "Lalu apa?" Tanya ku menantang nya. Coba kita lihat apa yang akan dia jawab . "Lalu siapa pacarmu?" Tanyanya membuatku ikut menghentikan ayunan ku dan melirik nya sebentar. Lalu setelah beberapa detik, aku pun membuang pandangan ku dari Praja ke pasir yang berada di bawah telapak kaki ku. Singkat kata aku menunduk. Menunduk pasir seakan - akan aku menghitung nya. Aku ingin sekali menjawab bahwa kalau aku bisa, aku sih mau nya menjawab bahwa Praja lah pacar ku. Aku ingin dia menjadi pacarku. Tapi apa daya ku. Aku hanya seutas tali yang rapuh atau bahkan aku hanya sebutir telur puyuh yang isinya sudah busuk (?) Ah bicara apa sih aku. Intinya aku ini beda dengan Maddi yang seperti telur ayam negeri yang bagus dan… Oke, aku berlebihan. Kenapa juga aku mengumpama kan aku dan Maddi dengan sebuah telur? Aku ingin sekali menjawab bahwa kalau aku bisa, aku sih mau nya menjawab bahwa Praja lah pacar ku. Aku ingin dia menjadi pacarku. Tapi apa daya ku . Aku hanya seutas tali yang rapuh atau bahkan aku hanya sebutir telur puyuh yang isinya sudah busuk (?) Ah bicara apa sih aku . Intinya aku ini beda dengan Maddi yang seperti telur ayam negeri yang bagus dan… Oke, aku berlebihan. Kenapa juga aku mengumpama kan aku dan Maddi dengan sebuah telur? "Aku tidak punya pacar." Jawabku. Lagi lagi dengan singkat, namun jelas dan padat . Semoga saja Praja mengerti bahwa karena kami ini sahabat, tidak mungkin aku tidak cerita kepada nya. "Jadi aku tidak di anggap? Hiks." Tanya nya sambil memasang wajah sedih. Sebentar. Apa dia bilang? Apa maksud dari pertanyaan nya? Apa maksud dari ‘jadi aku tidak dianggap?’ APA MAKSUD NYA HAH? Aku sudah malah bermain puzzle dengan Praja dan aku butuh penjelasan dari apa yang dia ucapkan tadi. "Maksudmu?Aku tidak mengerti." Tanyaku, berusaha mengerti jalan pikiran bocah ini. "Aku pacarmu, kan?" Tanya nya. Wah ringan sekali ya lidah itu berbicara. Dia tidak tau apa yang dia ucapkan bisa membuatku tidak tidur semalaman. Jangan buat aku terlalu percaya diri. APA IYA AKU INI PACAR MU? Dari ujung mata ku, aku bisa lihat dia menatapku dengan tatapan lembut dan namun sangat dalam. Seolah-olah ada arti tersirat dari mata nya itu. Deg. Aku terdiam masih menunduk. Namun mataku membulat sempurna dan jantungku berdegup dengan kencang. Kenapa sih dia menatapku seperti itu? Apa dia mau menembak ku ya? "Elena..." Panggil nya dengan suara rendah dan lembut. Terdengar sangat enak di kupingku. Sial. Apa dia mau menembakku? "Hmm... Ya?" Aku berusaha agar tenggorokanku tidak tercekat saat menjawab panggilan dari nya. Suasana sangat mendukung. Taman ini mempunyai sejarah antara kita berdua karena dari kecil kita sering ke sini untuk bermain. Praja.... Aku pikir dia benar-benar menyukai Erika atau Maddi. Tapi ternyata sebaliknya. Dia menyukai ku and in fact, he was about to ask me to be his girlfriend. Aku berusaha mengalih kan pandangan ku dari pasir dan kini menatapnya dengan dalam. Aku siap. Aku siap mendengar kata-kata yang akan Praja ucapkan. Ayo Praja katakan. Jangan takut. Aku tidak akan menolakmu kok. Namun saat matanya dan mataku bertemu. Dia malah tertawa. Tawanya malah sangat kencang sehingga aku mengernyit. "Kenapa serius sekali, sih? Aku hanya bercanda. Haha." Ucap nya kemudian sambil terus tertawa. Motherfucker. Aku tidak bisa tertawa. Tapi demi harga diri ku, aku pura-pura tertawa. Dalam hati, aku menangis. Betapa menyedih kan nya aku ini. Bisa - bisa nya terlalu percaya diri bahwa Praja akan menembak ku. Konyol sekali. Dia tetap tertawa . Tapi tawa pura - pura ku sudah berhenti semenjak beberapa detik yang lalu . Kini rasa nya aku ingin menangis . Saat menyadari bahwa aku tidak ikut tertawa , Praja menoleh ke arah ku dan tawa nya terhenti . Aku ikut menatap nya namun aku tidak tau harus berkata atau bersikap apa. Oh, rasa nya aku ingin sekali meninju wajah nya. Untuk apa sih becandaan tadi? "El? Kau marah?" Tanyanya. Tapi aku hanya diam dan kini kembali menunduk . Melihat itu , Praja pun meraih dagu ku dan membuat ku menoleh ke arah nya. "Aku hanya bercanda. Sungguh." Lanjut nya lagi . Ouch. Dia malah mem per jelas ucapan nya yang mana membuat ku makin merasa sedih dan sakit. Rasanya seperti.... Memakan gula yang manis lalu habis itu kau memakan mahoni yang rasanya sangat pahit. Aku tidak menjawab nya dan memberi nya senyum. Sebisa mungkin, aku berusaha tidak terlihat kecewa karena ucapan nya. Lagi pula siapa yang bodoh? Praja tidak mungkin serius, Elena! Ugh. Kau bodoh sekali . "Hei... Jangan marah. Aku hanya bercanda. Sungguh." Ulangnya lagi. Wajahnya terlihat serius. "Maafkan aku." Dia menunduk dan memainkan jari-jari nya. Aku tau sekali jika Praja seperti ini, berarti sedang ada sesuatu yang mengganjal pikiran nya. KENAPA JADI ANEH SEPERTI INI SIH SUASANA NYA? Dengan masih merasa canggung , aku pun langsung meyakin kan Praja bahwa aku tidak apa - apa . Aku tertawa palsu dan memanggil nama nya. "Praja. Hei! Tak apa. Haha." Aku mengusap punggungnya dan membuat Praja menoleh. "Kenapa juga aku harus marah ? Haha." Palsu sekali kau Elena. "Aku tidak marah sama sekali bodoh ." Ucap ku lagi. Pembohong kau Elena. "Maaf ya, El . Aku tidak bermaksud-" Belum juga dia menyelesaikan ucapan nya . Aku malah memotong nya. "Shhh.. Tak apa." Ucap ku . Suasana menjadi sangat canggung. Aku dan Praja terdiam dan tenggelam pada pikiran masing-masing. Praja sampai seperti itu? Dia takut aku marah? Tapi kenapa? Maksudku... Hei aku tidak akan marah. Aku hanya merutuki betapa bodohnya aku hanya karena hal spele seperti itu hatiku merasa... Sakit. Aku seharusnya tau bahwa Praja hanya bercanda. * * * "Hai El." Bradley menyapaku dan duduk di tempat duduknya yang kebetulan berada tepat di belakang tempat dudukku. "Hai Brad." Sapaku. Aku menutup novel yang sedang k*****a dan memilih untuk menaruhnya ke dalam tasku. Ada apa lagi kali ini dia menghampiri ku ? Hm . "Ada PR?" Tanya Bradley . Ada PR ? Dari sekian banyak nya murid di kelas ini dia menanya kan PR pada ku ? Kenapa dia tidak tanya kan saja murid lain yang dia kenal dengan dekat ? Kenapa harus aku ? Tapi ah masa bodo . Aku tidak menanyakan pada Bradley dan langsung saja menjawab pertanyaan Bradley tentang apakah ada PR atau tidak . "Tidak ada." Jawab ku singkat . "Bagaimana akhir pekanmu?" "Lumayan." Yap. Kami megobrol tanpa menghadap satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN