CHAPTER 15

1936 Kata
Yap. Kami megobrol tanpa menghadap satu sama lain. Aneh sekali bukan? Rasanya seperti aneh karena kami berdua tidak menatap satu sama lain selagi berbincang. Tapi masa bodo deh. AKu tidak peduli. Lagi pula aku masih sebal kepada Praja dan entah kenapa aku juga menjadi sebal pada Bradley. Aku membelakanginya-Karena memang tempat duduknya berada di belakangku. Padahal bisa saja kalau aku menoleh ke belakang dan bercengkrama dengannya dengan saling berhadapan. Tapi aku sangat malas untuk itu, lagi pula Praja pernah bilang bahwa dia tidak suka jika aku bercengkrama dengan Bradley. Tapi anehnya, dia senang sekali mengejek ku dengan Bradley. Sebentar. Kenapa juga aku malah memikirkan Praja? Kalau dia marah memangnya kenapa? Aku juga marah padanya. Tapi aku tidak bisamarah untuk waktu yang lama sih. Jadi ah terserahlah. Aku pun bingung dengan apa yang sebenarnya ingin aku ucapkan. Masih jadi tanda tanya besar kenapa Praja melakukan itu karena hei… dia egois sekali. Aku juga tidak suka melihat dia bercengkrama dengan Maddi! Kalau begitu ayo kita tidak usah dekat Bradley dan Maddi biar satu sama dan tidak ada yang di rugi kan. Aku pernah bertanya kenapa dia tidak suka melihat ku dengan Bradley. Tapi jawaban Praja sangat tidak memuaskan alias dia tidak menjawab pertanyaan ku dan memilih untuk membelok kan topik yang tidak ada kaitan nya dengan pertanyaan yang aku tanya kan. Begitu lah kira nya Praja. Dia egois, pemarah, seperti anak kecil, mood nya berubah-ubah. Tapi aku menyukainya dan aku tidak bisa melihat lelaki mana pun yang menurut ku oke dibanding dengan Praja. Menurutku Praja adalah cowok terkeren yang aku sukai. Titik. No debat pokoknya. "Lumayan? Lumayan apa?" Tanya Bradley membuyarkan lamunanku. Lumayan apa? Apakah aku harus menjelaskannya secara detail? Karena sebetulnya aku malah sekali menjelaskan hal ini padanya. Bila aku disuruh untuk memilih antara Praja dan Bradley . Aku jelas memilih Praja. Yap, Praja lebih keren di banding dengan Bradley yang memang adalah seorang pujaan para murid cewek di sekolah ini. Kalau misal Bradley menyukai ku dan Praja juga menyukai ku dan mereka berdua menembak ku di saat yang bersamaan. Aku akan memilih Praja tanpa berpikir panjang. Banyak sekali alasan nya sebenar nya. Walau pun tadi aku ada sebut sifat-sifat yang tidak terlalu baik yang Praja punya, tapi Praja juga mempunyai sisi baik. Dia sayang binatang, dia peduli dengan teman-teman nya, dia peduli kepada ku dan kepada Kak Jo. Dia selalu menemani ku di saat terburuk pun dia masih tetap menemani ku. Dia perhatian sekali dan dia adalah sosok cowok ideal bagi ku. Plus dia juga anak band yang mana lebih keren dibanding dengan Bradley walau pun band bradley sudah bisa tampil di kafe . “Lumayan seru." Jawab ku dengan senyum yang ter pantri di bibirku. Senyuman yang agak aku paksa kan karena aku tidak memiliki pilihan lain selain bersikap ramah . Tidak lama kemudian teman sebangku ku datang dan menatap Bradley dengan tatapan membunuh. Aku tidak tau apa yang membuat Alice sebegitu bencinya dengan Bradley. Tapi aku bersyukur kehadrian Alice membuat Bradley enyah dari samping ku "What?" Terdengar nada risih dari suara Bradley. Sepertinya Bradley tidak tau kalau Alice itu galak sekali . Kalau dia menentang ALice tanda nya dia mati. Aku sarankan kau untuk menyerah dan kembali ke tempat duduk mu saja, Bradley ! Walaupun Bradley berlagak sok tidak mengerti dengan apa yang Alice bicara kan . Namun seperti biasa, Alice tidak menghiraukan Bradley dan langsung mendaratkan tas nya di meja. "Pergi sana ke tempat duduk kau sendiri." Ucap Alice mengusir Bradley dengan sangat frontal . Dengan begitu Bradley pun bangkit dari duduk nya dan kembali ke tempat duduk nya tanpa berkata satu kali pun kepada Alice . Dia hanya menatap ke arah ku dan aku mengangguk sebagai tanda bahwa aku berkata "sudah deh sana ikuti saja kemauan Alice dan jangan coba - coba menentang nya." Tapi dari pada aku harus mengatannya dengan frontal, aku lebih suka mengangguk saja . Karena anggukan bisa bermakn apapun dan Bradley tidak akan sakit hati bila aku hanya mengangguk. Kecuali bila aku juga ikut mengusir Bradley dan Bradley mungkin akan sakit hati . Tapi toh aku tidak mengatakan apa pun kan . "I hate him." Bisik nya . Aku yang sering sekali mendengar Alice berkata seperti itu untuk Bradley hanya menatap Alice seperti 'Aku tau itu Alice bodoh. Kau sudah mengatakan nya beribu-ribu kali.'. Dan Alice membalas tatapan ku dengan kekehan kecil. "Ups maaf. Hehe. Tapi sungguh aku sangat membencinya." "Jangan seperti itu. Benci dan cinta hanya di bedakan dengan garis tipis. Kau bisa keliru dengan itu." Ejekku dan Alice menggelengkan kepalanya dengan cepat. "No! NO WAY." Aku terkekeh saat dia memutar kedua bola matanya merasa terganggu dengan ejekanku. Kalau Praja sedang berada disini , dia pasti langsung mengejek Alice dengan ucapan spontan nya yang kadang menyebal kan. "Kenapa kamu sangat membeci dia, sih, Alice?" Tanya ku. Sebenarnya pertanyaan ku itu bukan karena aku tidak setuju bila Alice membenci Bradley . Hanya saja sampai detik ini aku tidak tau alasan dia kenapa dia membenci Bradley . "Aku tidak punya alasan untuk itu sejujur nya . Aku juga tidak butuh alasan , kan ?" Alice bertanya balik dan aku hanya bisa terdiam karena bingung . "Kenapa begitu?" Tanya ku lagi sekarang terdengar mirip sekali dengan bocah TK yang penasaran akan hal baru yang baru saja dia lihat atau dia dengar dan memaksa mama nya untuk menjelaskan hal itu. " Hmmm… Sebenarnya Bradley teman TK ku." Ucap Alice. What? No… "Serius? Aku baru tau." Ucapku. "Ya karena memang baru aku kasih tau. Kalau kamu tau tanpa aku kasih tau itu sudah sangat aneh sih." Ucap Alice dan aku setuju juga dengannya. Aku bukan anak kepo yang mengkepokan kehidupan temanku lewat sosial media nya. Aku lebih suka mendengar cerita dari teman ku sendiri tanpa harus mencari tahu lebihi detail. Bila Alice cerita berarti memang dia ingin cerita, bila Alice tidak ingin cerita berarti memang dia tidak ingin cerita. Sesimple itu saja sih logika ku. Lagi pula apa yang kita lihat di sosial media tidak sepenuh nya benar. Sosial media penuh dengan kebohongan. Oh aku tidak mengatakan ini mewakili orang lain atau aku mengatakan ini bukan untuk menjelek - jelek kan orang lain. Aku mengatakan ini karena aku sendiri pun tidak seratus persen jujur dengan orang - orang di sosial media ku. Aku selalu memposting apapun yang bahagia . Aku tidak menunjuk kan kesedihan ku pada dunia . Kesedihan biar saja aku telan sendiri karena tidak ada juga yang peduli. Dan sebenarnya niat ku memposting hal - hal atau moment moment bahagia ku itu karena aku ingin membuat kenangan yang bisa aku lihat lagi di masa yang akan datang . "Ah sudah deh pokoknya gitu . Nggak penting juga kita bahas si Bradley." Ucap Alice. "Oke, aku tau. Tapi beri aku satu alasan saja kenapa kau bisa sangat membenci dia ." Aku masih memaksa Alice untuk cerita . Tapi aku janji bila Alice tetap tidak mau cerita , aku tidak akan memaksa nya lagi . "Oke, baik lah . Aku membenci nya karena dia jahil dan pernah menyangkutkan sepatu ku di atas atap kelas yang kebetulan saat itu sedang bolong . Aku menangis dan teman - teman ku memanggil wali kelas. Walaupun Bradley mengakui kesalahan nya dan sudah meminta maaf, aku tetap sebal pada nya dan tidak mau berbicara dengan nya . " Ucap nya. "Wow... kamu sangat tidak pemaaf ya." Ucapku diselipi lelucon dan membuat Alice memukul tangan ku pelan. "Oh stop it. Mari lupakan soal Bradley dan ayo kita bahas soal lain. " Ucap Alice. "Kau sudah lihat ini?" Alice menyodorkan Handphone nya ke arah ku dan aku pun melihat apa yang dia coba tunjuk kan kepada ku. "Lihat apa?" Tanya ku seraya meraih Handphone nya dan melihat apa yang Alice coba tunjukkan kepadaku. "Lihat saja sendiri." Ucap nya. Aku mengangguk dan memfokuskan mata ku pada layar Handphone nya. Di sana terlihat foto ku yang sedang tertidur sambil melipat kedua tangan ku di depan d**a . . Tunggu! Ini pasti Praja. Ku scroll layar Handphone Alice dan mendapati kalimat yang membuat ku memutar kedua bola mataku. @Praja : Bayi kera yang sedang tertidur pulasss... BERANI SEKALI DIA MENGUPLOAD FOTOKU DI i********: DAN MENULIS CAPTION SEPERTI ITU ?? ? ? DIA MAU PERANG HAH? * * *. "Hei! Itu bukan aku yang mengupload!" Elak Praja. "Tapi tanganku." Lanjutnya dan selepas itu tertawa terbahak-bahak. "Sama saja ! Hapus foto itu." Perintah ku , sedikit agak memaksa karena aku ingin sekali Praja menghapus foto itu . "Tidak." Jawab Praja dengan sangat menyebal kan . Mendengar jawabannya, aku meninju lengannya dan dia mengaduh sakit. Rasakan itu. Ha. "Hei tenagamu seperti kuli, ya?" Dia terkekeh walaupun masih mengusap-usap area lengan yang ku tinju. Dia ini tau tidak sih kalau dia itu menyebalkan sekali? Bisa - bisanya dia bilang aku ini kuli. Sudah tau aku ini meninju dia dengan amarah yang terpendam . Sudah rusak citra ku yang sudah ku bangun sebagai orang yang memiliki karisma dan anggun . Kini orang - orang bisa melihat wajah ku yang sedang sangat jelek dan aku akan dijuluki Elena si ratu tidur dan tidak ada jaga image nya sama sekali. Wow terima kasih Praja. "Kuli, huh?" Tanya ku. Ayo saja coba sebut sekali lagi kalau berani. "Ya. Kuli." Jawab Praja yang terdengan serperti menantang dari pada menjawab pertanyaan ku. Kalau kita teliti dari nama nya, Praja dalam bahasa melayu adalah 'yang berkuasa'. Tapi di sini dia tidak bisa begitu karena tidak ada yang lebih berkuasa di sini. CANGKAM ITU! "Kau menyebalkan." Ucapku kemudian karena memang Praja sangat menyebalkan dan aku snagat tidak suka bila berdebat dengan Praja. Dia tidak mau mengalah dan aku sangat tidak ingin berdebat. "Kau juga." Jawab Praja. TAPI LIHAT SAJA DIA SANGAT MENYEBALKAN. BAGAIMANA AKU TIDAK EMOSI? "Kau lebih." Jawabku lagi tidak mau kalah. Enak saja kalau aku mengalah. Biar saja dia yang mengalah. Hih/ "Kau lebih dari lebih." Jawabnya lagi. Wah ini sih namanya mau perang dengan ku . Kenapa sih tidak sekali saja dia mengalah dan tidak menjawab lagi? Kenapa dia selalu mau melawan ku dan tidak mau mengalah ? "Kau." Ucap ku. "Kau." Balasnya tetap tidak mau mengalah . "Praja!" Panggilku , kini aku sudah mulai kehabisan kesabaran . "Elena!" "Wow kalian terlihat cute saat seperti ini." Ashton membuat kami berdua menoleh. "Kenapa kalian tidak pacaran saja?" Lanjutnya. "Dengan kuli ini? Oh tidak terima kasih." Ucap Praja lalu memakan dua biji kacang yang sudah dia kupas sebelumnya. Apa? Kurang aja sekali dia. Walaupun aku merasa sedikit sakit karena langsung berpikiranbahwa tentu saja Praja akan lebih memilih Maddi dibandingkan denganku. Aku meninju lengannya sekali lagi dan kali ini lebih kencang. "AH!!!" Teriak Praja. "Why did you punch me?" "Why did you call me a named?" Hening.... Praja tidak menjawabku dan malah asik memakan kacang. "Karena dia menyukaimu, El." Ucap Michael yang buru-buru mendapat lemparan kacang dari Praja. "f**k you." "Tapi benarkan apa yang aku ucapkan?" Praja menatapku sebentar lalu kembali menatap Michael. "Ya." Jawabny santai. Tenang saja. Aku tidak akan blushing. Mereka-Terutama Praja-hanya bercanda. "Haha aku hanya bercanda," Ucap Praja. Benar, kan? "Lagi pula aku tidak menyukai wanita kuli sepertinya." Lanjut Praja dan menunjukku dengan dagunya. Oh ya, ya, ya.. -_- "Aku juga tidak sudi disukai oleh pria jahil dan menyebalkan sepertimu." Balasku. Aku berbohong. "Oouuuhhh!!!" Michael menepuk-nepuk dadanya. "Itu sakit sekali. Dia tidak sudi disukai oleh ku.. Oouuhhh." Lanjut Michael. Lagi-lagi Praja melempar Michael dengan kacangnya karena merasa di ejek. "Hei kalau mau melempar yang sudah di kupas, dong!" Protes Michael. Namun walaupun protes, Michael tetap memungut kacang itu dan memakannya. Tentu setelah ia kupas. Ha. "Lalu Elena lebih sudi disukai oleh siapa? Bradley?" Kini Aldino membuka suara. Oh tidak. Please jangan bawa-bawa Bradley lagi. Aku sudah lelah menanggapi pertanyaan seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN