CHAPTER 16

1634 Kata
"Lalu Elena lebih sudi disukai oleh siapa? Bradley?" Kini Aldino membuka suara untuk ikut menimbrung pecakapan tidak jelas di antara kami semua . Oh stop. Kenapa sih harus membahas aku dan Bradley lagi. Seperti nggak ada hal yang bisa dibahas saja . Kenapa sih senang sekali membahas itu . Maksud ku aku sudah muak sekali membahas Bradley lagi Bradley lagi. Harus berapa kali sih aku bilang bahwa aku dan Bradley tidak ada hubungan apapun. Kenapa juga aku bisa dengan Bradley ketika kami berdua bahkan tidak dekat sama sekali . "Bradley?" Tanyaku heran. "Kenapa sih harus bahas dia terus? Tidak ada pembahasan yang lain ya? Tidak ada bosan - bosan nya seperti nya ." Lanjut ku . " Ya . Bradley menyukaimu, kan? " Tanya Michael membuat ku bingung. Suka ? Aku masih belum mengerti bagaimana orang bisa menilai seseorang suka pada seseorang padahal orang yang bersangkutan tidak pernah menceritakan apapun dan tidak pernah mengatakan apapun soal perasaaannya. Lagi pula apa juga yang harus dicerita kan? Tidak penting juga sebenarnya menceritakan ke orang yang tidak dekat. "Bradley Simpson? Teman kelas ku?" Tnaya ku lagi memastikan apakah dia benar - benar serius membawa Bradley ke percakapan ini. Aldino mengangguk . " Kau tidak tau itu ? " Tanya nya. Aku menggeleng kan kepalaku. "Kalian ini kenapa senang sekali membuat gosip ? kalian ini kan cowok. Coba deh lakuin hal yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan hal - hal kayak gini. Kok kalian malah kayak jadi anak cewek yang suka bergosip." Lanjutku. "Elena . Kamu doang kayaknya yang nggak tau . Itu sudah menjadi rahasia umum, El. Kenapa kamu tidak menyadari nya? Dia menyukaimu dan hampir semua siswa di sekolah ini tau." Lanjut Aldino. Apa itu berarti Praja juga tau? "Oh." Hanya itu yang bisa ku ucapkan. "Ya.. Lagipula kenapa kau tidak dengan Bradley saja? Dia tampan dan lumayan populer, kau bisa dibuatnya populer." Ucap Aldino. "Sudahlah kenapa jadi menggosipi urusan cinta mereka?" Praja dengan santainya menaikan satu alisnya. Ouch. Praja mengatakan itu seperti dia tidak peduli sama sekali denganku. Hei Bradley menyukaiku dan dia biasa saja? Oh! Elena kau bodoh sekali! Memangnya kau mau dia mendatangi Bradley dan menyuruhnya menjauhimu? "Oww.. Seseorang sedang cemburu disini." Michael menggoda Praja, membuat Aldino dan Ashton tertawa. "SHUT UP!" Teriak Praja. "Hei aku hanya-" "SHUT THE f**k UP!" Teriak Praja lagi belum juga Michael menyelesaikan ucapannya. Bukannya diam, Michael, Aldino, dan Ashton malah tertawa. Aku juga sebenarnya hampir tertawa melihat ekspresi Praja yang terlihat sangat... Lucu itu. Alis tebalnya ia tautkan dan pipinya terlihat kembung karena emosinya. Dia terlihat lucu dan menggemaskan. "Shut the f**k up or i will kick your f*****g ass." Ancam Praja karena teman-temannya itu tidak kunjung berhenti tertawa. "Don't swear, Praja." Ucap Ashton yang suara tawanya kini sudah mulai mereda. Lain dengan Michael dan Aldino yang masih asik tertawa. "Whatever." Praja berdiri dan meninggalkan kami semua. Dan yang di tinggalkanpun hanya bisa saling bertatapan heran. Kenapa dia? Dasar aneh dan menyebalkan! * * * "Ibu tidak pulang hari ini." Ucap Jonathan setelah menutup pintu kamarku. "Okay." Jawabku. Jonathan mengangguk dan duduk di tepi kasurku. "Kau belum tidur?" Tanyanya dengan suara halus. Kalau saja Jonathan setiap hari seperti ini :p Aku menggeleng menjawab pertanyaanya. Jonathan tidak membalasku. Jonathan malah menatap tembok kamarku dan tatapannya terlihat kosong. "Ada apa?" tanyaku. Dia melirikku lalu membenarkan posisi duduknya, sekarang kedua kakinya sudah berada di atas kasurku dan menyila. "Aku merasa ibu sudah bekerja sangat keras untuk kita berdua," Dia kembali menatap tembok. Sepertinya banyak sekali pikiran yang sedang ia pikirkan, "Dan aku tidak bisa membantu apa-apa." Jonathan tertawa kecil meremehkan dirinya sendiri. "Anak laki-laki macam apa aku?" "Jangan berkata seperti itu. Kau cerdas dan selalu mendapat nilai tinggi. Yang perlu kau lakukan hanyalah mempertahankan nilaimu agar pemerintah atau pihak sekolahmu tidak mencabut beasiswa yang kau dapatkan." Mata Jonathan menatapku dengan tatapan datar. "Aku bisa bekerja membantunya." " Jonathan. Kau ingat? Ibu bilang bahwa tugas kita berdua hanya belajar." "Aku tau. Tapi... Aku anak laki-laki dan sudah seharusnya aku yang menjadi tulang punggung keluarga." Jonathan tetap menatapku. Aku bahkan tidak bisa membaca tatapannya. Dia sangat sulit di tebak. "Sebelum ayah meninggal, dia menitipkan ibu dan kau padaku." Mata Jonathan berkaca-kaca dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memeluknya. Aku tau betul dia terbebani oleh ucapan Ayah. Sepeninggal ayah, ibu lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia bekerja sangat keras untuk kami berdua. Hidup kami berkecukupan namun ibu bilang dia bekerja untuk masa depanku dan masa depan Jonathan nanti. Aku selalu khawatir dengan kesehatan ibu. Dia bekerja terlalu keras dan belum lagi jarak dari rumah ke tempat kerjanya yang lumayan jauh. Hari ini dia tidak pulang karena lembur dan situasi ini memaksanya untuk menginap di hotel dekat tempat kerjanya. Sebenarnya ibu bisa saja pulang, tapi itu akan terlalu malam dan besoknya lagi dia harus berangkat pagi-pagi. Bukankah itu melelahkan? Dia bekerja sangat keras untuk kami berdua. Hidup kami berkecukupan namun ibu bilang dia bekerja untuk masa depanku dan masa depan Jonathan nanti. Aku selalu khawatir dengan kesehatan ibu. Dia bekerja terlalu keras dan belum lagi jarak dari rumah ke tempat kerjanya yang lumayan jauh. Hari ini dia tidak pulang karena lembur dan situasi ini memaksanya untuk menginap di hotel dekat tempat kerjanya. Sebenarnya ibu bisa saja pulang, tapi itu akan terlalu malam dan besoknya lagi dia harus berangkat pagi-pagi. "Apa aku harus bekerja diam-diam?" Aku menggelengkan kepalaku. "Jangan. Kau harus fokus dengan sekolahmu. Tiga semester lagi kau akan buat skripsi, kan?" "Apa aku sudah menjadi kakak yang baik?" Tanya Kak Jo yang terdengar sangat khawatir . Kalo boleh jujur, kak Jo bukan kakak yang baik. Tapi kak Jo adalah kak TERBAIK. Mungkin wajar saja bila dia merasa bimbang dengan apa yang dia lakukan saat ini. Semua orang juga bisa merasakan seperti itu . Seperti saat aku mempertanyakan apakah aku sudah menjadi anak yang baik? Teman yang baik? Bahkan adik yang baik? Aku juga sering menanyakan ini ke kak Jo dan kak Jo bilang bahwa aku sudah menjadi adik yang baik. Oleh karena itu ini giliran ku untuk menyemangati kak Jo dan memberikan kalimat-kalimat yang memang pantas kak Jo dengar. Aku mengangguk mantap agar kak Jo merasakan rasa yakin yang aku rasakan bahwa memang kak Jo itu sudah menjadi kakak terbaik sedunia. "Kak Jo, Kakak itu bukan kakak yangbaik. Tapi kak Jo itu kakak terbaik! Kak Jo, Walaupun kadang kau menyebalkan dengan sikap bossy mu itu. Tapi aku sungguh sangat menyayangimu. Kalo kakak mikir kakak ini bukan kakak yang baik, saat ini aku mungkin tidak di sini dan aku sudah jadi gelandangan . Tapi aku di sini dan kakak merawatku juga mencukupi kebutuhanku. Pokok nya aku tidak mau kakak terlalu memikir kan ini semua, ya!" Ucapku seraya melepaskan pelukan kami. "Kakak adalah kakak terbaik sepanjang masa. Titik. No debat. Tidak ada yang bisa mengubah pemikiranku yang ini." Timpal ku dan tertawa karena walaupun aku dan Kak Jo dekat, aku belum pernah mengatakan hal seperti ini. Tapi berarti ini momen yang tepat, kan? Kak Jo terkekeh setelah mendengar ucapan ku. Lalu setelah itu dia mengelap mata nya yang basah akibat genangan air yang tidak berhasil mengalir itu dengan jari jempolnya. Aku selalu melihat kak Jo sebagai seorang kakak yang kuat . Tapi seorang yang kuat sekali pun, ternyata tidak sekuat itu. Ada sisi rapuh, dan ini lah sisi rapuh kak Jo. Itu semua tidak masalah . Setiap orang mempunyai sisi rapuhnya masing-masing dan aku sangat menerima dengan lapang d**a kekurangan kak Jo. "Kau memang paling bisa merayuku." Ucapnya lalu mencolek hidung ku. Hmmm aku merayu nya? "Aku tidak merayu mu kak Jo. Aku berkata jujur. " Jawab ku . "Oh benar kah?" Kak Jo masih menggodaku. "Iya!" Seru ku. "Sebagai balasan kak Jo bisa membelikanku Beng Beng. hehehe." Lanjutku yang segera mendapatkan balasan colekan ke hidngku. "Tuh kanpasti ada mau nya kau berkata seperti itu. Aku kenal sekali dengan adik ku satu satu nya ini ." Ucap Kak Jo membuat ku tertawa. "Becanda! Hei kalau beng beng sih aku bisa beli sendiri." Ucap ku . "Hahaha baiklah, baiklah. Sekarang tidur deh kamu." Kak Jonathan meraih selimut dan bersiap - siap untuk menutupi tubuh ku dengan benda halus yang menghangatkan itu. Oh ya selimut ini peninggalan mama ku. Selimut berwarna hitam putih mirip dengan warna kulit sapi ini adalah kesayanganku. Karena walaupun usianya sudah lumayan tua karena menurut pengakuan ibu ku, selimut ini sudah ada sejak ibu ku remaja. Lalu Kak jo pun menyelimutiku agar adiknya ini tertidur dan merasa hangat yang mana membuatku yang sedang duduk pun terpaksa menidurkan tubuh ku. "Aku masih belum mau tidur." Ucap ku. " Lebih tepat nya aku tidak bisa tidur." Rengek ku saat selimut tersebut berhasil menutupi ujung kaki sampai d**a ku. "Kenapa? Biasanya kau sangat cepat tidur. " Lanjut kak Jo. Aku hanya bisa menggidik kan bahu ku karena aku benar - benar tidak tau kenapa aku tidak bisa tidur. "Mungkin karena kopi." Jawab ku mengingat aku sempat meminum kopi tadi siang. "Hmmm sudah tau kau susah tidur bila minum kafein." Ucap Kak Jo. "Lalu bagimana? Kau mau aku nyanyi kan?" Tawar nya dan tanpa berpikir lama, aku mengangguk. Selama ini jika aku tidak bisa tidur, Praja lah yang menyanyikanku satu atau dua lagu sampai aku tertidur. Alasan kenapa Jonathan jarang sekali melakukan itu karena pertama, dia tidak suka bernyanyi dan dia bilang suaranya jelek. Kedua, dia bilang aku hanya akan tambah tidak bisa tidur karena suaranya. Haha. Dan terakhir, dia terlalu malu untuk menyanyi bahkan di depanku. Di depan adik kandungnya. Tapi saat ini dia menawarkannya pada ku dan aku tidak akan pernah mau melewatkan kesempatan ini yang tidak akan terjadi dua kali. "Tentu saja aku mau!" Ucap ku dengan sangat antusias dan dengan begitu kak Jo pun tertawa geli melihat adiknya ini antusias. " Kapan lagi coba kau mau bernyanyi di depan ku. Apalagi bernyanyi sebelum aku tidur." Lanjut ku membuat Kak Jo tercengir malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN