Jika Satria telah mendapatkan lampu hijau. Dan kebahagiaannya sudah di depan mata. Tapi tidak dg Evan. Evan merasa sangat kecewa setelah mendengar pembicaraan Satria dan Om Deon, Papah Ayara. Hatinya sangat hancur. Lebih mirisnya hancur sebelum tersentuh. Dan Evan pun harus mengakhiri cintanya. Mengakhiri cinta yg belum pernah di mulai. Mungkin memang tidak akan pernah untuk di mulai.
Di rumah, Evan terus memutar otak. Berfikir akan bagaimana dg hidupnya. Saat cintanya tak terbalas. Bahkan tak berpihak padanya. Akhirnya Evan memutuskan untuk melanjutkan studi bisnisnya di luar negeri. Dulu memang Papah Evan menyarankan demikian. Tapi Evan menolak karena ia pikir untuk apa toh ia akan tetap menjadi seorang CEO nantinya dan dia juga ingin mencari kekasih di negeri ini.
Tapi ternyata keputusannya dulu telah salah. Keputusan itu membuat dirinya terluka. Jadi sekarang Evan akan menerima kembali tawaran Papahnya untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Evan pun mengemasi barang-barangnya. Sambil berucap dalam hati.
" Mungkin ini emang yg terbaik. Semoga kamu bahagia bersama Satria, Ayara. Aku yakin Satria bisa menjaga dan membahagiakan mu. Biarlah aku simpan sendiri cinta ini. Meskipun tak pernah terbalaskan. Aku akan tetap mengagungkan. Dan kau, aku ikhlaskan. " ucap Evan dalam hati sambil melihat foto Ayara yg ia ambil dari sosmed
Setelah semua rapih. Evan lalu turun kebawah untuk berbicara tentang hal ini kepada Papahnya. Karena Evan memilih untuk melakukan pemberangkatan besok pagi.
" Pah, Papah. Evan mau ngomong. " panggil Evan sambil menghampiri Papahnya yg sedang sibuk di ruang kerjanya
" Ada apa si Van? Mau ngomong apa? " tanya Papah Evan sambil meletakkan pulpen yg di pegangnya
" Pah Evan mau deh lanjutin S2 Evan di luar negeri. " kata Evan to the poin
Sontak Papah Evan pun terkejut hingga menutup laptopnya dg cepat.
" Kamu serius Van? Dulu ngga mau. Kenapa sekarang tiba tiba mau? Kesambet apa kamu Van? " tanya Papahnya penasaran
" Eeemmmm iyaa ngga papa Pah. Biar lebih mantep aja nanti kalo udah jadi CEO. " kata Evan beralasan dg sedikit berfikir
" Yakin cuma karena itu? Bukan karena putus cinta? " tanya Papah Evan menebak sambil menaikkan alisnya
" Papah apaan si. Putus cinta sama siapa coba? " kata Evan kesal dan sedikit malu karena Papahnya tau maksud kepergian Evan sebenarnya
" Sama anaknya Deon. " jawab Papah Evan sambil menaik turunkan alisnya
" Ayara maksud Papah? Ayara kan udah punya cowo. " kata Evan yg tanpa sadar membuka sendiri alasannya untuk pergi
" Iyaalah Ayara siapa lagi emang anaknya Deon. Nah tuh kan pasti karena Ayara udah punya cowo, jadi kamu milih ke luar negeri untuk pelarian. " kata Papah Evan tepat sasaran
" Apaan si Pah. Orang Evan pengen lebih belajar bisnis lagi dg baik. " kata Evan terus mengeles
" Papah ngga ngelarang kamu pergi Van. Tapi inget studi ini bukan main-main. Papah ngga mau kalo studi ini cuma di jadiin pelarian cinta kamu. Papah mau, kamu harus serius menjalaninya. Setelah itu kamu akan langsung memegang perusahaan Papah yg di Jakarta. Ngerti kamu? " kata Papah Evan tegas dan dg sorot mata tajam
" Iyaa Pah Evan ngerti. " jawab Evan lirih
" Inget cinta itu akan datang sendiri tanpa harus mencari. Apalagi kalo kita sudah menjadi orang berdasi. " kata Papah Evan yg sok puitis
" Dih sok puitis banget Papah. Tapi Evan ngga mau cari pasangan yg karena Evan itu berdasi Pah. Evan mau cari pasangan yg tulus, yg menerima Evan apa adanya. " jawab Evan
" Kaya Ayara maksud mu? Evan kalo kalian di takdirkan bersama pasti akan bersama. Pasti akan ada jalan yg menyatukan kalian. Karena sesuatu yg sudah tercipta untukmu. Pasti akan menemukan jalannya untuk datang kepada mu. " kata Papah Evan seperti pujangga
" Wuih keren juga Papah. Ternyata pinter merangkai kata kaya pujangga cinta. " ucap Evan sambil bertepuk tangan
" Jangan salah. Makannya Mamahmu bisa klepek-klepek sama Papah, Hahahaha. " jawab Papah Evan sambil tertawa. Evan pun ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya
" Yaa udah Pah. Evan cuma mau ngomong itu. Evan berangkat besok pagi. Tapi besok Evan mau ke rumah Om Deon dulu mau pamitan dan bilang makasih. " kata Evan sambil beranjak dari tempat duduknya
" Pamitan sama Om Deon apa sama anaknya? Hahahaha. " ledek Papah Evan
" Apaan si Pah. " jawab Evan kesal lalu pergi begitu saja
" Jadilah Laki laki yg tangguh Van. Jangan lemah karena cinta. " teriak Papah Evan karena jarak Evan dg nya yg sudah cukup jauh
Karena Papah Evan berkata sambil berteriak. Alhasil Evan pun mendengar dg sangat jelas ucapan Papahnya. Tapi Evan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan.
Pagi ini tertulis menjadi pagi yg bahagia. Tapi ternyata di balik kebahagiaan itu menyiratkan sebuah pilu. Yaa karena kebahagiaan yg tertulis itu untuk Satria dan Ayara. Sedangkan yg merasakan pilu adalah Evan.
Ayara dan Satria bangun lebih awal. Karena mereka akan melakukan perjalanan pagi yg lumayan jauh. Setelah mandi dan berganti pakaian. Ayara mengecek kembali barang bawaannya. Setelah dirasa semua sudah lengkap. Ayara membawa ranselnya dan turun ke bawah.
Pagi ini Aku memakai pakaian yg sangat simple. Aku memakai setelan Hoodie. Untuk hoodienya berwarna mocca dan celananya berwarna putih dg list mocca di sampingnya. Lalu aku memakai jilbab dan sneakers yg senada dg hoodienya. Yaa aku memilih setelan Hoodie, selain karena perjalanan jauh. Ini juga masih sangat pagi dan dingin untuk memakai baju modis. Hehehehe. Karena jam baru menunjukkan pukul setengah 6 pagi.
Aku turun kebawah menuju meja makan untuk mengisi perutku lebih dulu. Ternyata Mamah sudah ada di dapur sedang memasak nasi goreng.
" Heeemmm baunya bikin makin laper Mah. " kataku sambil menghirup aroma nasi goreng
" Yaa udah makan dulu sebelum berangkat. Nih Mamah ambilin. " kata Mamah sambil memberikan sepiring nasi goreng spesial
" Makasih Mamah ku yg cantik dan baik. " jawabku sambil unjuk gigi dan menerima piringnya
" Abisin yaa Ayara. " perintah Mamah sambil menaruh menu sarapan di meja makan
" Iyaa Mah. Papah belum bangun Mah? " tanyaku sambil melihat kanan kiri mencari Papah
" Udah lagi mandi. Bentar lagi juga turun. " jawab Mamah sambil duduk dan mengambil makanan
Lalu aku melanjutkan makan ku. Sedangkan Mamah menunggu Papah datang. Dan Mamah menyiapkan makanan yg akan dimakan ke dalam piring. Selesai aku makan, Satria membunyikan klakson mobilnya. Tanda bahwa dia udah ada di depan rumah. Kemudian Satria memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Yaa benar benar timing yg sangat pas. Pas Satria datang, pas aku sudah selesai sarapan. Hehehehe.
" Assalamualaikum. " salam Satria saat memasuki rumah
" Waalaikumsallam. " jawabku antusias
" Are you ready baby? " tanya Satria sambil menaikkan alisnya dan mengulurkan tangannya
" Ready dong. " jawabku semangat
" Nak Satria ngga sarapan dulu? " tanya Mamah sambil berjalan menghampiri kami
" Udah Tante tadi sarapan roti dan s**u. " jawab Satria sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya
" Sarapan lagi aja sini. Tante bikin nasi goreng spesial. Ayoo. " ajak Mamah membujuk
" Makasih Tante. Takut nanti kesiangan, panas di jalan. " kata Satria
" Panas di jalan, apa udah ngebet banget pengen pergi berdua? " kata Papah sambil menuruni anak tangga
" Hehehehe Om bisa aja. " jawab Satria sambil tersenyum malu
" Inget yaa kalian harus jaga diri. Jangan macem macem. Kalo sampe macem macem, Satria yg akan Papah suruh bertanggung jawab. " kata Papah tegas
" Iyaa Om. Insha Allah Satria ngga akan macem macem dan akan menjaga Ayara dg baik. " jawab Satria dg tegas juga. Papah pun menganggukkan kepalanya
" Berapa hari kalian disana? " tanya Mamah
" Cuma 3 hari Tante. Ngga lama kok. " jawab Satria sambil tersenyum
" Iyaa udah kalian hati hati yaa. Ngga usah ngebut. Tante titip Ayara yaa Sat. " pesan Mamah sambil mengusap lenganku
" Iyaa Tante. " jawab Satria menganggukkan kepalanya
" Iyaa udah ayoo Sat berangkat. " ajakku pada Satria sambil menepuk lengannya
" Iyaa udah ayoo. Kalo gitu Satria pamit yaa Om Tante. Doain kita biar bisa selamat sampai tujuan dan pulang dg keadaan baik baik aja. " pamit Satria sambil mencium tangan Mamah Papah
" Amin. Hati hati yaa. " jawab Mamah
" Om titip anak Om yaa. " sambung Papah
" Iyaa Om Tante. " jawab Satria singkat
" Mah Pah Ayara berangkat yaa. " pamitku yg juga mencium tangan Mamah Papah sebelum pergi
" Hati hati yaa sayang. Kabarin Mamah atau Papah kalo udah sampai. " ucap Mamah yg kemudian memelukku erat
" Jaga diri baik-baik yaa Ayara. " kata Papah yg juga memelukku dan Mamah
Yaa memang terkesan sangat berlebihan. Cuma pergi 3 hari dan perginya cuma ke Purwokerto aja Papah Mamah sampai sebegitunya. Padahal jarak Jogja Purwokerto hanya sekitar 4 jam. Tapi yaa memang selama ini aku belum pernah pergi jauh cuma sama cowo. Baru kali ini aku melakukannya. Jadi mungkin wajar aja kalo orang tua berat melepaskan anak gadisnya yg baru pertama kali pergi jauh bersama pria.
Setelah acara berpamitan yg penuh drama. Aku dan Satria masuk ke dalam mobil. Lalu Satria membuka jendela mobil dan membunyikan klakson saat akan menyalakan mesin. Mobil melaju melewati Mamah dan Papah. Kamipun saling melambaikan tangan. Terlihat Mamah yg di peluk Papah karena sedih aku pergi.