“Jadi kau bersembunyi lagi, Jean? Ck!” Noname tampak duduk sendiri di meja makannya. Sibuk mengiris-iris daging yang terlihat masih setengah matang itu. dengan perasaan jengkel, Noname terus mengiris daging tersebut seolah ia melakukannya pada seseorang. Di hadapannya bahkan terdapat kursi yang ia tempelkan wajah Jean di sana. “Kau tahu. Aku begitu perhatian dan sayang padamu. Kalau aku tak menahan diri, mungkin kau sudah menjadi onggokan daging saat kau masih sekecil ini.” Noname membuat ukuran tinggi badan dengan tangannya sendiri, “Tidak. Bahkan kau masih sekecil ini saat itu,” sambungnya sambil tertawa miris. Di ruangan yang temaram itu, Noname sibuk bicara sendiri sambil meneguk winenya. Semua makanan yang tersaji sama sekali tidak menarik perhatiannya. Rasa kesalnya terus membunc

