Vera tidak tahu kalau kini wajahnya sudah memerah. Kalimat yang baru saja Bagus katakan padanya sangat-sangat mempan untuk menembus hatinya yang kemarin sangat kesal pada kelakuan cowok di hadapannya ini. “Kenapa juga gue harus jadi pacar lo? Emangnya lo suka gue?” tanya Vera menanggapi. Ada kegugupan saat dia bicara dan itu membuat Bagus tertawa kecil. “Malah ketawa!” kesalnya. Bagus segera menghentikan tawanya lalu menatap serius pada Vera yang diserang rasa gugup maksimal karena tatapan Bagus saat ini. Dia hampir meleleh kalau saja tidak bersandar pada pintu di belakangnya. Raut wajah Bagus yang sedang dalam mode serius adalah kelemahan utamanya. Hal yang suka sekali membuat hati Vera jatuh cinta tanpa bisa dikendalikan lagi. “Ver... lo mau jadi cewek gue?” DANG! Vera seperti men

