"Hey pencuri!"
Teriakku. Gadis itu langsung menoleh menatap wajahku tak suka. "Apa maksudmu?"Tanyanya.
"Kau pencuri"Tudingku.
"Aku bukan pencuri, aku hanya mengambil hak keluargaku di sini" Ujarnya dengan berkacak pinggang.
"Ya kau bukan pencuri tapi perampok, Setiap hari ngambil barang sembako warungku, dan sekarang mencuri isi kulkasku." ucapku
Aku mendekati gadis itu, lalu merampas kembali kresek hitam di tangannya.
"Itukan memang hak kami, setiap isi kulkas kami kosong, maka kami akan mengambil isi kulkasmu, toh memang selalu begitu kan? dan lagi. Apa gunanya kami punya saudara yang memiliki warung sembako. Tapi pelit berbagi bahan sembakonya pada saudara sendiri." Ujar Wulan dengan santainya.
Lalu kembali berusaha mengambil kresek hitam ini. Namun aku langsung menepis tangannya.
"Berbagi ya berbagi tapi jangan semuanya di ambil. Sadar diri dong, memang kau punya hak apa dengan isi kulkasku, aku yang membeli semua ini dengan uangku, tanpa ada sepeserpun uang dari keluargamu." Jawabku.
Jujur, aku lebih baik tak memiliki saudara macam dia, punya saudara seperti ini hanya bisanya jadi benalu, setiap hari selalu saja bikin darah tinggi.
"Wulan, ibu suruh kamu ambil bahan makanan, malah ngobrol sama si Puspa"Ujat Bibi yang main masuk saja ke dalam rumah.
Lalu dengan lancangnya ia mengulik-ngulik isi kulkasku.
"Kok tidak ada apa-apa? Ibu kamu belum belanja Puspa?"Tanya Bibi padaku.
"Bu, tadi aku sudah mengambil dan memasukkan semuanya kedalam kresek itu, tapi dia merampasnya."Kata Wulan sengit.
"Eh Puspa! Kenapa kamu marampasnya? Sinikan!"Ujar Bibi tanpa rasa malu.
"Marampas? Kata merampas itu hanya untuk orang yang mengambil milik orang lain"Ucapku.
"Eh kamu ga usah ngajarin Bibi, ya! Kamu itu masih anak kemarin. Sedangkan Bibi ini lebih tua dan lebih tahu segalanya daripada kamu, jadi apa yang di miliki kamu dan ibumu, itu juga ada hak milik kami sebagai saudaramu"
"What? Apa otak kalian sudak konslet? Sejak kapan harta saudara milik bersama saudara lain?" "Sesama saudara itu harus saling membantu. Jangan pelit-pelit lah kamu sama kami" "Yaudah nih.."Ucapku, lalu menyerahkan satu bungkus sosis pada tangan Wulan
.
"Hey apa ini!"Sentak mereka tak terima.
"Ya katanya saling bantu? Ya aku bisa bantunya segitu, lagian minyak beras kalian sudah ambilkan tadi pagi"Ucapku.
"Kami ga mau ini. Sinikan kresek hitam itu!" Bibi dan Wulan langsung menyerangku, mereka menarik kencang kresek hitam di tanganku.
"Zaman sekarang hebat, ya. Mencuri di rumah orang dengan terang-terangan"Ujar Irpan. Pria itu tiba-tiba muncul di samping kiriku dan Bang Adnan di samping kananku.
'Ku lihat tompelnya sudah ia pasang kembali. Halah nih laki masih nyamar aja.' Batinku. Tanpa sadar aku menepuk jidat ini.
"K-kamu siapa?"Tanya Wulan, bola matanya langsung berbinar-binar menatap wajah tampan irpan.
"Perkenalkan saya adik dari pria bernama Adnan"Ujarnya. Kedua wanita itu saling berpandangan.
"Kami tak percaya. Mana mungkin si buruk rupa ini, punya adik tampan seperti kamu."Kata mereka.
Irpan mengkerutkan keninganya, ia tampak kebingungan" Pria buruk rupa? Siapa?"Tanyanya. "Itu, pria buruk rupa suami dari Puspa"Jawabnya.
"Ah, kalian belum tahu seberapa tanpanya kakakku ini. Kalau kalian tahu mungkin mata kalian tak akan bisa berkedip"Ujar Irpan. dan itu membuat kedua ibu dan anak itu tertawa berbahak- bahak.
"Apa katamu dia tampan? Mana mungkin, kakakmu itu jelas si buruk rupa yang tak akan bisa menjadi pangeran tampan, seperti di dongeng-dongeng."
"Ya sudah kalau tak percaya. Suatu saat nanti jangan sampai kalian malu dan menyesal, ya." Ucap Irpan. aku terdiam mencerna perkataan adik iparku, coba nantiku cium bang Adnan. Siapa tahu dia berubah jadi pangeran, tapi bukan pangeran jadi-jadian