SATU TELUR MATA SAPI ( PART 9 )

412 Kata
Plakkkk... "Beraninya kamu!" Bi Ning memegang pipinya kesakitan. "Kenapa aku harus takut? Sedangkan bibi saja berani memfitnah ku tanpa bukti!" Ucapku. Wajah Bi Ning begitu memerah, ia tampak tengah menahan emosinya. "Kalau kamu tidak melakukan pesugihan lalu dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli set perhiasan itu?"Tanyanya. "Bibi tahu sendiri kan ada orang yang datang memberikan perhiasan itu, dia bilang apa? itu hadiah pernikahan ku bukan? jadi aku tidak membelinya" "Tapi..." "Tapi apa? Kalau memang aku melakukan pesugihan, pasti yang akan menjadi tumbal pertama yaitu Bibi. Tapi nyatanya Bibi masih hidupkan?"Ucapku. Wajah Bibi bak kepiting rebus, ia menghentakkan kakinya, lalu pergi. "Lu jangan kesini! Kalau lu kesini. rencana gue bisa hancur " Ucap Adnan, pada seseorang yang tengah berbicara di ponselnya. "Plis lu jangan menggacaukan semuanya"Pinta Bang Adnan. "Bang..."Panggilku. Banga Adnan tampak gugup. "Rencana? Apa maksudmu rencana?"Tanyaku. "Oh i-tu saudara aku rencana mau kesini"Jawabnya gugup. 'Saudaranya? Apa dia juga mirip sepertinya yang seperti berasal dari alam silum@n kuda lumping, atau dari jenis ah, ga tahu? "Kamu punya saudara?"Tanyaku. "Punya. Kami dua bersaudara"Jawabnya. "Kapan ia datang, Bang?"Tanyaku, aku jadi penasaran dengan wajah saudara suamiku itu, apa bentukannya sama?. "Hari ini katanya. Sebenarnya dia sudah mau hampir sampai." Tin! Suara klakson mobil terdengar dari arah depan rumahku. Aku berjalan ke arah depan untuk melihat siapa yang datang. Siapa yang bertamu, memakai mobil pula? "I-ini siapa?"Tanyaku pada Bang Adnan yang mengekor di belakangku. "Ini Irpan, saudara abang"Jawabnya. Mataku membulat kenapa mereka berbeda, yang satu seperti pangeran istana, yang satu pangeran kuda lumping? Pria yang baru saja turun dari mobil terlihat menahan tawanya, saat melihat wajah Bang Adnan. Apakah ada yang aneh? "Lu ngapain pake beginian?"Tanya Irpan. Lalu mencomot tompel di pipi Bang Adnan. Plukk! Omg. Itu tompel- tompelan. Aku terkejut bukan main. "Ini wajah ngapain sih di item-itemin?"Tanya Irpan lagi, kali ini pria itu ingin mengusap wajah Bang Adnan dengan sapu tangan miliknya. Namun dengan sigap Bang Adnan menghidar. "Gue udah bilang, lu kesini cuma mau ngancurin rencana gue kan?" Ujar Bang Adnan. Namun saudaranya itu malah tertawa, lalu mengalihkan perhatiannya padaku. "Eh kakak ipar. Kenalkan irpan adik Bang Adnan" Ucapnya mengulurkan tangan padaku. "Puspa.."Ucapku membalas uluran tangannya. "Dek, boleh saudara abang tinggal beberapa hari di sini?"Tanya Bang Adnan. "Ga papa, asalkan dia kuat saja"Jawabku. "Maksudnya kuat apaan, Mbak?"Tanya Irpan. "Kuat kalau setiap hari harus panas telinga di sini"Jawabku. Tak lama dari itu. Wulan datang dengan membawa kresek hitam, wanita itu membuka isi kulkasku, lalu tanpa permisi memasukan semuanya ke dalam kantong itu. "Hey pencuri!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN