SATU TELUR MATA SAPI ( PART 8 )

451 Kata
[Hati-hati jaman sekarang, banyak orang yang nekat melakukan persugihan. Masa jualan warung kecil aja, bisa beli perhiasan harga jutaan, pasti itu belinya, pake duit haram dari hasil ngepet mereka.]" Itu status story wa Wulan. Deg. Apa maksudnya? Perhiasan, apa status ini di tunjukan padaku? Aku begitu geram, jika benar status ini di tunjukan padaku, lihat saja, besok akan aku balas mereka. "[Siapa yang kau maksud? Aku yang penjual warung kecil? Yang bisa membeli perhiasan, dari hasil persugihan?] Komentarku mengirim pada statusnya. [Ya siapa lagi kalau bukan kamu.] Balasan Wulan, semakin membuat aku semakin panas. [Jangan asal berbicara? Aku tidak pernah melakukan hal musyrik itu] [Halah maling mana ada yang mau ngaku! Sekarang aku tahu, alasan kenapa kamu mau menikah dengan si buruk rupa itu. Suamimu itu sebenarnya bukan manusia, dia itu siluman b@bi ngepet, kan?] Balasan Wulan membuat amarahku naik sampai ke ubun-ubun. 'Beraninya dia berkata seperti itu! Suamiku bukan silum@n b@bi ngep3t, tapi dia silum@n kuda lumping' Batinku Dugh! Aku membenturkan kepalaku keras pada tembok. 'Puspa sadar. Suamimu manusia, bukan silum@n apapun" Kekehku. Sudahlah aku biarkan saja. Toh semua itu ga benar. Drtttttt.... Drttttttt.... 'Nih kuntilanak merah, benar-benar ngajak ribut.' Batinku saat Wulan mengirimkan banyak sekali pesan [Pantas saja, wajah suamimu hitam, dan tompel di pipinya itu, pasti tanda lahir bagi setiap silum@n b@bi.] [Demi gaya hidupmu yang selangit. Kamu rela melakukan persugihan. Cihhh"] [Cari uang itu yang halal napa? Bisa membeli perhiasan, dari hasil ngep3t aja bangga] Saat aku membuka pesannya lagi. Ah wanita ini kalau tidak di ladeni, semakin menjadi-jadi. Aku harus memberikannya pelajaran. [Oke, kalau kamu mengagapku melakukan persugihan. Besok siap-siap saja kamu akan aku jadikan tumbalnya] Ancamku. Setelah centang dua biru, Wulan langsung offline. Aku terbahak-bahak menertawakannya, apa dia benar-benar percaya ancamanku?. "Bu-ibu tahu tidak, di kampung kita ternyata ada orang yang melakukan persugihan loh" Ujar Bi Ning. 'Mulai lagi.."Batinku. Semua wajah ibu-ibu itu menjadi penasaran. "Memang siapa, Bu Ning?"Tanya Ibu-ibu yang lain. "Itu orangnya yang lagi jaga warung" Tunjuk Bi Ning padaku. "Hah! Masa sih? " "Ih Ibu mah, di kasih tahu, malah ga percaya" "Emang benar, Puspa? Kamu melakukan persugihan?"Tanyanya. "Kok ga nyangka saya, kamu itu masih muda, mbok ya, cari duit yang halal" "Musyrik itu namanya, Pus. Ga bakalan berkah itu uangnya" "Ah... Dia mana tahu dosa, Bu. Nikah aja sama silum@n b@bi ngep3t, makanya muka suaminya item" Ujar Bi Ning. Semua orang langsung melonggo, mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita baruh baya itu. Aku mengepalkan tanganku, tubuhku panas, saat ada orang yang berani menghina pria yang menjadi suamiku. "Suamiku bukan silum@n b@bi!" Tekanku. "Terus silum@n apa dong? Mony3t... Hahahaaa..." "Berhenti berbicara omong kosong, Bi!" Bentakku Aku sudah tahan menahan emosiku, aku maju lalu dengan berani menampar pipi kanannya. Plakkkk... "Beraninya kamu!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN