Qiandra berdiri di sisi jalan, menatap kendaraan yang berlalu lalang, matanya menatap kosong. Di atasnya, ada lampu tinggi, mendesis kecil, sesekali cahayanya berkedip-kedip meragukan. Mungkin sebentar lagi cahaya itu akan mati tak lama lagi. Di bawahnya, kerikil -kerikil kecil bertebaran, bercampur dengan daun kering yang berguguran. Angin sesekali membawa mereka, membiarkan daun-daun berwarna kuning beterbangan dan jatuh lagi ke sisi jalan yang lain. Qiandra menatap jari-jari tangannya yang transparan, rok putihnya yang melambai seolah tertiup angin, dan rambut panjangnya yang tergerai panjang. Jika ada orang yang sungguh-sungguh mampu melihatnya, jiwanya tak ada perbedaan dengan hantu. Mungkin, memang begitulah sebutannya. Menyedihkan. Namun, yang paling menyedihkan bukan eksistensin

