"Sebagai wanita, kamu cukup cerdas untuk mengambil langkah yang tepat!" Bu Mega berkomentar, menatap Qiandra cukup lama. Mata tua wanita itu adalah mata pengamat yang tajam. Bermodal tahun-tahun penuh perhitungan terhadap kehidupan.
Dua hari lalu, sejak Qiandra menyerah mengikuti kemauan keluarga Rajendra, sikap Bu Mega mengalami perubahan halus. Sikapnya tidak bisa dikatakan hangat, tetapi setidaknya lebih lunak daripada sebelumnya. Tidak ada lagi kutukan dan serangan verbal yang dia lancarkan pada Qiandra.
Qiandra tidak memiliki banyak harapan. Kondisi seperti ini sudah menjadi kondisi yang baik. Semakin ke sini, ekspektasinya pada segala sesuatu tidak lagi setinggi dulu. Benar kata orang. Semakin lama hidup, semakin sederhana cara berpikir kita. Hal-hal muluk-muluk tidak lagi seambisius pada awalnya. Mungkin, ini sebuah proses untuk menjadi realistis.
"Saya meninggalkan pernikahan saya!" Qiandra tersenyum, ada kehampaan nyata dalam suaranya. Keluarga Rajendra bukannya tidak tahu Qiandra akan menikah dalam waktu dekat ini. Infirnasi sepenting ini mustahil tidak ditemukan oleh mereka.
"Pernikahan hanya suatu proses dalam hidup. Aku akan memastikan kamu mendapatkan apa yang kamu butuhkan saat hidup bersama putraku. Stephanie mulai melayanykan gugatab cerai. Tidak butuh waktu lama bagi pengadilan m:emberikan perceraian pada Nathan." Bu Mega memberikan gambaran baru mengenai putranya.
Tak ingin berbasa-basi lebih jauh lagi, Qiandra hanya mengangguk kecil.
Hampa. Hodupnya ke depan hanya akan ymenemui kehampaan besar. Seseorang yang dengan suka rela masuk ke dalam jebakan pernikahan dangkal, hanya akan menemui akhir yang tidak menyenangkan.
"Ibu harus menepati janji. Tidak akan ada lagi konflik yang saya dan keluarga saya hadapi di masa depan!" pinta Qiandra. Dia ingin memastikan langkahnya ini tidak membawa bahaya yang tersembunyi pada keluarganya.
"Ya. Say berjanji. Kita berdua adalah wanita cerdas. Masing-masing tau apa yang harus kita lakukan di masa depan. Jangan singgung putraku secara sengaja. Dia adalah satu-satunya mutiara yang ada dalam pernikahanku dan Subagio."
Lagi-lagi Qiandra diam. Angin sore menerpa lengan kedua wanita yang duduk di bagian out door sebuah restoran ternama, membawa jejak hawa dingin yang samar. Senja sebentar lagi datan. Langit mengambil kecerahannya sedikit demi sedikit.
"Saya tidak akan membuat keributan dan memicu pertengkaran lebih dulu dengan putra Ibu!" Sebuah janji yang akhirnya Qiandra berikan dengan penuh pertimbangan.
Qiandra tidak akan bersikap munafik. Untuk meyakinkab diri ia akan mengabdi dengan suka rela terhadap Nathan, bersikap tulus layaknya istri, ia tak bisa menjamin demikian. Emosi bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan oleh seseorang terhadap orang lainnya.
Hanya inilah yang bisa Qiandra janjikan. Dia akan bersikap cukup masuk akal, tidak akan menyerang psikis dan fisik Nathan secara langsung, teteapi dengan premis Nathan tidak memprovokasinya dulu. Jika Qiandra terprovokasi, maka selayaknua wanita, ia tetap akan memberikan respon alami berupa perlawanan.
Ibu Mega pun tahu keadaan ini dengam baik. Ia juga bukan orang poloa yang tidak tahu apa-apa. Untuk sampai pada persetujuan Qiandra meikahi putranya, itu sudah langkah yang besar. Dia tak ingin mendorong Qiandra lebih jauh lagi. Masa depannya bersama sang putra menjadi pertentuan.
"Ya. Janjimu sudah cukup. Selama kamu menjaga sikap, aku yakin putraku akan cukup masuk akal dan tidak memberimu kesulitan. Ngomong-ngomong, berikan aku satu dua cucu. Pernikahan Nathan dan Stephanie terlalu kering. Bahkan tak ada seeorang yang akan memanggilku nenek!" Bu Mega menggeleng lemah, dalam hati mengutuk Stephanie yang egois. Karirnya sebagai model terancam bahaya jika ia melahirkan. Selalu ada alasan ini itu setiap kali mereka tak kunjung memberikan generasi baru pada keluarga Rajendra.
"Anak adalah sesuatu yang tak bisa saya janjikan!" Qiandra berkata getir. Dia menatap semburat merah di ufuk barat, mengagumi bagaimana langit menciptakan cahaya seperti ribuan kristal di atas sana. Qiandra selaly jatuh cinta dengan alam. Senja adalah salah satunya.
"Nathan pasti menginginkannya!"
"Itu bisa kita bicarakan nanti. Setidaknya, tunggu sampai saya mampu beradaptasi dengan semua perubahan yang ada di masa depan!" Sebagai seorang wanita yang kehilangan rencana hidupnya dalam waktu sesaat dan dilempar seperti mainan di alur lain yang dipaksakan, Qiandra masih mengalami sakit kepala. Bayangan Rifki dan sikapnya yang dingin bekum hilang dari memori ingatannya.
"Baiklah. Saya percaya saka kamu. Dan mengenai Rifki," Bu Mega mengingat laki-laki muda yang seharusnya menjadi suami Qiandra dalam hitungan hari. Pembubaran pernikahan pasti membawa konsekuensi serius bagi Qiandra. Bu Mega sedikit bersimpati. "Saya menawari sejumlah kompensasi padanya. Setidaknya, dia sekarang bisa membuka bengkel sendiri dan mengembangkan apa pun minatnya dalam otomotif!" Bu Mega terlihat tidak lagi terlalu bersalah. Bagaimanapun, dia sedah menebus apa yang ia tebus. Bukankah ini mempermudah segalanya?
"Ibu betmaksud menyampaikan bahwa Rifki, calon suami saya, menerima sejumlah uang atas batalnya pernikahan kami?" Qindra tertawa getir.
"Ya. Itu yang saya maksud. Mulai sekarang, kamu tak perlu dihantui rasa bersalah. Aky sudah membereskan apa yang perlu dibereskan!" Kompemsasi itu jelas bukan jumlah yang kecil. Dengan jumlah segitu, seharusya tidak akan menyulitkan kehidupab Rifki di masa depan. Laki-laki itu seharusnya berterimakasih, bukan? Mega percaya untuk sekadar membuka usaha mandiri dan bertahan hidup hingga setahun kemudian, Rifki tak akan memiliki kendala yang berarti.
"Maaf, Bu. Saya tidak akan percaya itu!" Qiandra menolak dengan tegas. Rifki yang ia tahu, tak akan pernah sudi dibayar oleh wanita asing hanya karena kenyamanan. Tidak. Rifki terlalu memegang prinsip.
"Tidak percaya? Apa yang tidak kamu percayai? Mendengar laki-lakimu merendahkan diri dengan menerima kompensasi, atau mendengarku membereskan masalah ini dengan uang? Entah yang pertama atau terakhir, jawabannya tetap sama. Rifki, laki-laki yang kau umbar memiliki kesetiaan setinggi langit, nyatanya tidak lebih dari sebagian besar orang yang aku jumpai!" Bu Mega mengeluarkan satu kotak rokok, kemudian mengambil salah satu isinya dan menghidupkan pemantik dengan gerakan anggun. Rupanya dia perokok aktif.
"Rifki adalah orang yang tidak bisa Anda sentuh!" Qiandra mengepalkan kedua tangannya membentuk tinju, membiarkan kuku-kuku tajamnya menggores permukaan kulit hingga memberikan bekas yang dalam.
"Selama kita memiliki uang, selama itu pula kita mampu meyentuh apa pun. Ini adalah agitasi dasar setiap manusia. Kekuatan uang bisa dibilang kekuatan utama!" Bu Mega tersenyum kecil, tak terlalu peduli apakah Qiandra percaya denyan fakta yang ia sebutkab atau tidak. Nanti, pelan-pelan, wanita itu pasti tahu apa yang terbaik baginya dan apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Uang akan menjadi pengendali kuat.
"Ingat. Setelah perceraian Nathan beres, pernikahanmu pada Nathan akan segera terjadi. Aku ingin putraku mendapatkan situasi yang baik dalam pernikahan ini. Sekali saja aku mendengar kamu melecehkan putraku, aku tidak akan diam saja. Aku adalah ibu yang sangat protektif!"
…