Kamu tahu apa yang menyakitkan dalam hidup ini?
Sadar saat kamu kalah, tapi dipenuhi ketidakberdayaan dan hanya bisa pasif menerima apa yang terjadi.
Ketidakberdayaan ini seperti sebuah siksaan tanpa akhir, menjebak seseorang dalam kepedihan yang berlarut-larut.
Palupi duduk di lantai kamar, bersndar di balik pintu, dengan kedua kaki ditekuk seperti anak kecil. Rambut panjangnya yang tergerai berserak tak beraturan, menutupi sebagian wajahnya yang kini terlihat kacau.
Qiandra kalah. Dia kalah dengan telak.
Sebagai orang kecil yang dipaksa menghadapi keluarga agung seperti Rajendra, Qiandra tak ubahnya semut yang lemah dan hanya bisa diombang-ambingkan.
Qiandra adalah wanita yang cerdas, dan dia paham situasi dengan cepat. Kondisinya saat ini adalah kondisi kekalahan telak.
Keluarga Rajendra mulai mendaftarkan gugatan terkait kasus Nathan. Yang membuat Qiandra menyerah bukan masalah dirinya yang akan diseret ke pengadilan dan mungkin bisa terjebak di balik sel entah untuk berapa lama. Namun, yang membuatnya menyerah adalah kondisi keluarganya yang terpuruk. Ibu masuk rumah sakit karena serangan jantung. Ini adalah serangan pertama, yang mengguncang keluarga Qiandra dengan kuat. Ayah jatuh sakit dan terbaring di rumah. Qiandra bahkan tak memiliki keberanian untuk melihat mereka secara langsung. Pukulan mental itu membuat keluarga Qiandra berantakan.
Kehancuran Qiandra berdampak pada kehancuran keluarga. Mentalits kedua orang tua Qiandra tidak lagi sebaik dulu. Mereka mudah terguncang dan terpengaruh kabar buruk.
Jika ini tetap berlanjut, bukan hanya Qiandra terancam masuk sel, kedua orang tuanya pasti mengalami guncangan yang lebih hebat lagi dan Qiandra tak tahu akan sebatas apa mereka mampu menanggung. Selain itu, Qiandra memiliku dua adik wanita yang masih muda dan belum menikah. Jika Qiandra menanggung status sebagai status kriminal, kestabilan mereka dalam menjaga nama baik akan hancur juga. Mereka akan kesulitan untuk mempertahankan pekerjaan dan mencari suami di masa depan. Nama buruk mudah sekali mempengaruhi seseorang.
Didasari dengan faktor-faktor ini, Qiandra menyadari dia telah jatuh dalam ketiakberdayaan. Kedua tangannya gemetar, mengusap rambutnya yang panjang dengan desahan napas berat.
Sakit sekali menerima kekalahan yang seperti ini. Sakit sekali menjadi lemah dan tidak berdaya.
Qiandra mengguncang ponselnya sendiri, mencari kontak Rifki dengan pandangan nanar.
Cerita antara dirinya dan Rifki ditakdirkan hancur. Tujuh tahun kebersamaan berakhir tragedi. Mimpu indah yang seharusnya mereka ciptakan, tak ubahnya seperti olok-olok kejam yang menusuk mereka dari belakang.
"Ya, Sayang? Gimana situasinya sekarang?" Suara di seberang sana terdengar hati-hati, penuh kepedulian dan ketulusan.
Qiandra menatap langit-langit kamar lama, tersenyum miris pada takdir. Hei. Dia tidak pernah melakukan tindakan buruk yang merugikan nyawa orang lain. Kenapa pembalasan yang ia terima seperti hukuman mati? Dosa apa yang Qiandra lakukan di masa lalu?
"Rif." Suara Qiandra serak. Dia menguatkan mental, mencoba tetap tegak menghadapi segala kemungkinan. "Aku memilih menyerah. Menyerah dengan hubungan kita. Menyerah dengan pernikahan kita. Menyerah dengan kebersamaan kita. Ayo kita akhiri. Sebut saja aku wanita jalàng, Rif. Kamu berhak marah! Kamu bisa mengutuk!"
Lemas. Setelah menyampaikan kata demi kata, Qiandra merasa tubuhnya lemas seketika. Butuh kekuatan yang sangat besar sekadar untuk menyampaikan apa yang baru saja ia katakan.
Terdengar tawa getir dari seberang. Tawa itu semakin besar, semakin keras, seperti kepedihan yang dibawa Qiandra pada Rifki tanpa perasaan.
"Kamu wanita kejam, Qi! Kamu menyerah dengan kita semudah itu!" Rifki membalas kata-kata Qiandra dengan nada tajam yany belum pernah Qiandra dengar sepanjang hubungan mereka.
"Pernikahan kita empat hari lagi. Keluargaku, teman-temanku, kenalanku, semuanya telah menantikan ini. Untuk sampai di titik sekarang, kamu tahu sendiri betapa besar kerja keras yang aku lakukan. Kamu yakin ingin membuangnya?" Rifki bertanya getir.
Qindra adalah orang yang tidak mudah menyerah. Dia tipikal orang yang akan berlari menghadapi badai dan hujan meskipun banyak orang menahanya. Kenapa dari semua keadaan, Qiandra memilih menyerah saat ini? Kenapa harus saat ini? kenapa tidak dulu saat segalanya belum tercipta seserius ini?
"Ya. Aku menyerah dengan semuanya." Qiandra keras kepala. Situasi telah menyadarkannya, sebagai orang yang tanpa kekuatan, jika ia tetap bersikeras melawan keluarga Rajendra, seluruh keluarganya terancam hancur. Dibanding dengan Rifki, maaf, Qiandra lebih memilih melindungi keluarganya dan mengorbankan kebahagiaan sendiri. Dia bisa menanggung kehancuran diri, tapi tak akan pernah bisa menanggung kehancuran keluarga melalui tangannya. Tidak akan pernah bisa.
Terdengar desahan napas putus asa dari seberang. Rifki menelan ludah susah payah, kemudian menanggapi Qiandra dengan kalimat yang menusuk.
"Aku pikir, cintamu cukup besar untuk diterpa badai dan hujan darah. Rupanya aku salah, Qin. Perasaanmu padaku setipis ini. Bahkan tak bisa bertahan di bawah tekanan eksternal orang lain. Sejatinya, perasaan yang kamu bilang cinta padaku, mungkin sebatas suka yang kamu kamuflasekan sebagai cinta."
Yah. Bukan hanya Qiandra saja yang kalah. Rifki juga kalah. Pada pertaruhannya sendiri. Pada cintanya sendiri.
Cinta itu sangat egois. Dia akan mementingkan diri sendiri di atas segalanya. Bahkan jika dihadapkan pada resiko kehancuran orang lain, cinta akan tetap memilih jalannya sendiri. Dan Qiandra, tidak sampai setinggi itu.
Lemah. Ternyata cinta wanita itu sangat rapuh. Memilih mundur dalam detik terakhir, menjadikan kondisi keluarganya sebagai pertaruhan.
"Situasi yang memaksaku, Rif. Aku minta maaf!"
"Tidak! Bukan situasi. Situasi tidak pernah mampu memaksa hati seseorang untuk berubah. Hatimu yang tak kuat untuk menahan serangan ujian. Hatimu yang dangkal menempatkan cinta kita, Qian. Kondisi keluargamu yang kacau hanya sebuah alibi untuk menunjukkan bahwa cinta yang kamu koar-koarkan selama ini, tidak layak mengambil resiko apa pun."
"Rif!" Qiandra tahu akan sulit untuk meyakinkan Rifki. Dia hanya tak tahu ternyata akan sesulit ini. Bukan hanya kesal, tapi Rifki mulai mempertanyakan kesungguhan perasaan Qiandra. Apakab laki-laki itu tak bisa melihat ketulusannya selama ini? Apakah laki-laki itu tak memahami situasinya? Tidakkah dia tahu kondisi Qiandra kacau balau? Bagai mana Rifki bisa seegois ini?
"Aku berterimakasih. Setidaknya, pernikahan ini belum terjadi. Jika pernikahan ini berlangsung dan suatu hari nanti kamu dihadapkan pada situasi serupa, aku tahu kamu akan memilih kepentinganmu untuk meninggalkanku."
"Aku tidak seegois itu. Apa kamu tidak mengenalku selama ini, Rif? Sekejam itu kamu menilaiku?"
"Kamu tidak egois. Kamu hanya tidak bisa mencintai dengan layak. Cintamu tak ubahnya seperti barometer, menimbang semuanya dengan untung rugi. Kesulitanmu hanya sebagai pemicu yang menunjukkan nilaimu sebenarnya!"
"Rif! Tolong—"
"Tidak apa-apa, Qian. Tidak apa-apa. Aku harap suatu hari nanti kamu akan mengenal cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tidak akan pernah kamu tukar dengan apa pun. Cinta yang tidak akan tunduk di bawah rasa bersalahmu. Saat itu, kamu akan tahu apa sesungguhnya cinta."
…