Qiandra menatap langit-langit kamar dengan linglung. Motif lingkaran yang saling terhuhung terlihat sama, semakin lama semakin terlihat kabur dan pudar. Tatapan Qiandra tak fokus, melayang pada pembicaraan yang terjadi dengan keluarga Rajendra hari ini.
Pernikahan.
Mereka meminta Qiandra bertanggung jawab terhadap Nathan melalui perkawinan.
Qiandra mendesis panjang, menendang dinding kamar kontrakan yang berlapis walpaper bunga melati. Qinadra meringis saat ujung kakinya sakit ketika berbenturan dengan dinding bata.
Menikah? Apakah keluarga Rajendra pikir pernikahan bisa semudah itu diatur?
Benar, Qiandra memang bersalah karena melakukan kecerobohan yang berakibat pada kecelakaan Nathan. Benar, Qiandra telah mendorong hancurnya perkawinan Nathan secara tidak langsung. Benar, Qiandra merampas kestabilan dan mentalitas Nathan secara permanen.
Namun, bukan berarti dia bisa membayarnya dengan pernikahan. Pertama, Qiandra akan menikah enam hari lagi dari sekarang. Semua persiapan sudah diatur. Kedua, bahkan jika Qiandra tidak berencana menikah dalam waktu dekat, ia tak berpikir untuk menikah demi alasan-alasan konyol selain cinta. Setidaknya, dengan Rifki Qiandra menemukan cinta dan kasih sayang yang syabil. Dengan Nathan? Jangan terlalu banyak berharap.
Sewaktu mereka masih remaja, Nathan pernah mengejar Qiandra cukup lama. Tapi, dia tak tergerak. Sekarang, meskipun ditekan oleh keadaan, Qiandra masih tak tertarik terlibat dengan Nathan, meskipun didasari rasa bersalah.
Mendengar permintaan Pak Subagio, tentu saja Qiandra menolak. Tak ada wanita normal di dunia ini yang sanggap mentransaksikan pernikahannya sendiri. Pak Subagio dan Bu Mega, langsung terlihat tersinggung. Tapi Qiandra sendiri tak merasa bersalah. Hidup adalah pilihan, dan Qiandra akan memilih apa pun yang menutut hatinya benar.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Rifki yang tahu Qiandra sempat dibawa untuk melakukan pembicaraan serius dengan keluarga Rajendra, terdengar khawatir saat menghungi Qiandra melalui panggilan aplikasi sosial.
"Ya. Nggak perlu khawatir, Mas!" Qinadra menenangkan. Tidak mungkin dia akan terbuka dan mengatakan keluara itu menginginkannya melakukan pernikahan konyol demi kompensasi. Jika Rifki tahu, Qiandra takut dia akan membunuh seseorang.
"Apa saja yang mereka katakan sama kamu? Apakah mereka merendahkanmu? Melukai harga dirimu?"
"Tidak, Rif, Jangan berimajinasi terlalu tinggi!"
Rifki terlalu intuitif. Lagi-lagi Qiandra harus mentupi semuanya dengan hati-hati. Jujur, Qiandra merasa tak nyaman jìka harus terbuka dengan Rifki tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Mereka hanya minta kompensasi. Tapi kamu tau kan keadaanku seperti apa. Jadi sepertinya aku nggak bisa ngasih kompensasi seperti yang mereka harapkan sebelumnya. Udah, ngobrol tentang itu doang!" Untuk menenangkan Rifki, Qiandra memilih kebohongan lain.
"Serius mereka nggak ngapa-ngapain kamu?"
"Nggak. Beneran deh, nggak boong!"
…
Apa yang Qinadra pikir akan baik-baik saja, berubah dalam hitungan hari. Satu hari setelah penolakan Qiandra pada keluarga Rajendra mengenai pernikahan yang diminta oleh mereka, mereka bergerak orang dengan mengirim orang ke orang tua Qiandra yang tinggal di Tanah Abang untuk membicarakan kasus ini.
Senja setelah cahaya matahari kehilangan warna semburatnya, Qiandra dikejutkan oleh panggilan dari Tasya, adik pertamanya yang tinggal bersama orang tua mereka.
"Ya, Sya? Ada apa?" Qiandra mengira panggilan ini adalah panggilan rutin biasa yang tujuannya untuk bertukar kabar kedua orang tua.
"Apa Kakak akhir-akhir ini terlibat kasus kecelakaan?" Tasya bertanya panik. Nadanya tinggi di bagiab akhir. Suaranya bergetar, menunjukkan kegugupannya.
"Ada apa, Ca?" Qiandra terpaku. Dia mendapatkan firasat yang kurang baik.
"Ada empat orang datang ke sini barusan, meminta pertanggungjawaban atas nama Kakak karena kata mereka, Kakak menyebabkan putra keluarga Rajendra mengalami kecelakaan dan menderita kelumpuhan!" Tasya sedikit terisak. Dia tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Orang-orang itu tampak tegas dengan banyak otot dan kekuatan di tangan. Tampaknya kali ini kakaknya telah membuat kesalahan yang cukup serius. Tasya takut pada nasib yang akab terjadi selanjutnya.
"Kak! Kak! Tolong katakan semua itu salah, Kak! Bunda pingsan, Ayah linglung. Para tetangga pada berbaris ke sini, mencari tau apa yang terjadi. Orang-orang itu sekarang udah pergi. Mereka bilang jika tidak ada niat baik dari KakK dan kompensasi yang diminta tidak diberikan, mereka akan menarik kasus ini ke pengadilan! Kakak! Tolong jelaskan semua ini! Ada apa sebenarnya?" Tasya mulai sedikit tenang, meskipun kata-kata yang ia sampaikan masih terdengar agresif dan dipenuhi kebimbangan.
Qiandra membeku. Dia tak pernah mengira keluarg Rajendra akan mengirim sekelompok orang ke rumahnya di Tanah Abang. Orang tua Qiandra memiliki hati yang sensitif dan sangat peka. Guncangan seperti ini, apalagi menyebut-nyebut tentang pengadilan, pasti akan membuar mental mereka syok.
"Sya. Kakak memang membuat kecerobohan di jalan sekitar lima belas hari yang lalu. Atas kecerobihan Kakak, orang itu lumpuh." Qiandra akhirnya membuka pengakuan.
Qiandra sadar segalanya sudah berada di luar kendali. Jika dia tetap menutupi fakta yang ada, dia takut ke depannya nanti keluarga Rajendra melakukan hal-hal yang lebih serius. Tuhan tahu kelurga Palupi adalah titik kelemahannya yang palinh fatal. Qindra bisa menahan segala serangan, tapi sepanjang menyangkut keluarganya, terutama orang tuanya, Qiandra lemah. Sama sekalu tak memiliki daya untuk tetap berdiri tegak.
Qiandra tak terlalu kaget bagaimana keluarga Rajendra bisa menemukan alamarnya. Sejauh itu tentang keluarga Rajendra, tak ada yang meragukan kemampuannya dalam menggali informasi. Jika mereka ingin, bahkan jika objek informasi ada di bawah tanah sekali pun, mereka tetap bisa menemukannya.
"Jadi semua itu bener ... Ya Tuhan, Kak. Mau gimana lagi sekarang? Seminggu lagi akan nikah, orang-orang itu berkata jika Kakak tidak juga memberikan kompensasi serupa, dia akan membuat pernikahan Kakak berantakan. Ayo kita saling terbuka, berapa kompensasi yang mereka inginkan? Jika Kakak lagi nggak ada uang, aku dan Ayah bisa mengusahakan sisanya. Semua terserah Kakak!" Nada suara Tasnya diwarnai kewaspadaan. Jika sampai pihak luar menekan keluarga mereka sebegitu rupa, pastinya kompensasi yang mereka inginkan tidak akan sedikit jumlahnya. Tasya menoba mencari jalan keluar yang memungkinkan.
"Tasya … apa kamu pikir, solusinya semudah itu? Mereka tidak menginginkan uang. Mereka menginginkan lebih dari itu?"
"Lebih? Apa maksudnya lebih?"
"Mereka ingin Kakak membayar dengan pernikahan!"
…