Kompensasi?
Qiandra menatap lantai dengan linglung. Kompensasi apa yang dimaksud di sini? Jangankan masalah kompensasi. Jika mau dicermati lebih jeli, memangnya apa yang Qiandra miliki di sini?
Jika keluarga Rajendra menginginkan kompensasi finansial, tolong lihatlah siapa Qiandra sebenarnya. Seluruh kekayaan Qiandra mungkin hanya satu persen dari kekayaan Keluarga Rajendra. Apa mereka masih membutuhkan itu?
Jika mereka menuntut kompensasi pengobatan secara total, maka itu juga tak lebih baik. Pengobatan yang terbaik sebanding dengan biayanya. Lagi-lagi ujungnya uang. Membahas tentang uang, kembali lagi pada keadaan Qiandra yang mengenaskan. Sebenarnya, Qiandra bukan orang yang kekurangan, tetapi ia juga bukan orang yang berlebihan sepanjang menyangkut tentang uang. Bisa dibilang, Qiandra hidup pas-pasan. Dia tak memiliki ruang yang cukup untuk melakukan negosiasi dengan keluarga Rajendra.
Selain kompensasi finansial dan pengobatan, kompensasi apalagi yang mereka inginkan? Jujur, Qiandra merada ditekan dan disudutkan.
"Pak, saya tau saya salah. Saya tau kecerobohan saya berakibat fatal bagi putra Bapak. Tapi saya adalah wanita biasa, latar belakang saya tidak sebanding dengan Bapak. Jujur, saya tak memiliki apa-apa untuk dinegosiasikan sebagai bentuk tanggung jawab saya. Bukannya saya berusaha mengelak, tetapi keadaan dan ketidakmampuan saya membatasi saya untuk memberikan kompensasi yang setimpal. Saya harap Bapak tidak menarik masalah ini ke hukum. Tapi jika Bapak berkeras menyerahkan kasus ini ke meja hijau, saya tak memiliki kuasa untuk menahan semua ini."
Daripada terus memutar kata dan tidak memiliki akhir, lebih baik Qiandra menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Agar Pak Subagio tahu situasi saat ini dengan baik.
"Keadaanmu untuk mengalisis sesuatu sangat teliti. Pemahamanmu pada diri sendiri juga baik!" Pak Subagio mengangguk, merasa puas oleh pengakuan apa adanya Qiandra. Banyak orang yang bertindak angkuh hanya demi harga diri. Alih-alih seperti itu, Qiandra telah mengakui situasinya dengan jujur.
Nathan yang mendengar semuanya memilih diam, hanya menjadi pengamat pasif. Wajah yang dikenal Qiandra seolah-olah telah bermetamorfosis. Sosok itu menjadi lebih dingin, lebih berjarak, dan lebih tak tersentuh. Emosi hatinya tak bisa dibaca. Fluktuasi batinnya tak bisa ditebak.
Dulu, Qiandra tak pernah takut dengan orang ini. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuat Qiandra merasa tak nyaman sekarang. Entah ini akumulasi dari rasa bersalah atas kesalahan yang ia buat, atau karena aura misterius yang kini dipancarkan dari Nathan.
"Kaki putraku adalah hal yang sangat penting. Kecerobohanmu telah mengambil hal yang sangat berharga. Separuh hidup putraku telah kamu rampok. Apakah kamu pikir lumpuh itu hanya sekadar tidak bisa bergerak? Tidak. tidak sesederhana itu. Ada harga diri yang terluka, ada mentalitas yang terguncang. Perasaan tercerabut dari dunia, seolah-olah menjalani dimensi baru yang penuh kekalahan. Penerimaan orang-orang lain tidak akan sama lagi. Perkawinannya tidak lagi bisa dipertahankan. Untuk memiliki pernikahan normal lagi, mungkin hanya akan menjadi angan-angan. Dan lebih jauh lagi, akan ada pelecehan diam-diam dari orang lain, objek pembicaraan yang tak ada habisnya, dan olok-olok kejam yang hanya terdengar di belakang punggung."
Sebagai orang yang perfeksionis, Subagio tahu apa artinya "lumpuh". Jangan dikata hanya sekadar tak bisa bergerak. Efeknya jauh dari itu semua.
Nathan yang mendengar kata demi kata yang disampaikan ayahnya, masih menjaga sikap pasifnya. Matanya yang gelap seperti sumur tua tanpa ujung, menyembunyikan kemisteriusan dan hal-hal negatif di dalamnya.
Qiandra tahu benar apa yang coba disampaikan oleh Pak Subagio. Inti dari semuanya adalah dia terlanjur merampok sebagian besar vutalitas hidup Nathan. Masa keemasannya telah hancur. Masa jayanya menitikkan noda besar yang tak bisa Qiandra perbaiki.
Rasa bersalah yang tadinya hadir secara normal, kini membesar berkali-kali lipat, menggulung hatinya yang ringkih ke dalam rasa rendah diri dan penyesalan tanpa akhir.
Mulut Qiandra bergetar samar, memilih menahan semua kata. Apa pun yang dia ucapkan sebagai respon, akan terdengar dangkal. Pengakuan serendah apa pun mengenai dirinya, percuma juga.
"Kamu lihat putraku! Kehancuran seperti apa yang dia alami saat ini. Mungkinkah di masa lalu ada hutang yang belun terbayar sehingga kamu mengambil pelunasan seperti ini?" Mega Rajendra, menangis tersedu. Qiandra sudah tak asing dengan tangis ini lagi. Dalam masa perawatannya sebelumnya, sikap seperti ini telah Mega lakukan berulang kali.
Qiandra tahu tidak ada ibu yang rela melihat satu-satunya putra yang dimilikinya mengalami kehancuran. Apalagi kecacatan fisik yang pemulihannya di bawah enam puluh persen. Semua saran-saran itu. Konseling, terapi, cek fisik, dan lain-lain, seperti omong kosong formalitas yang sia-sia. Segalanya hanya berfungsi sebagai penenang agar sang pasieb tidak jatuh dalam keputusasaan dan masih menggenggam seutas tali penyelamat terakhir. Masalahnya adalah, bagaimana jika tali penyeanat ini sama rapuhnya dengan kapas?
"Jika saya bisa melakukan sesuatu untuk menebus kesalahan saya, saya bersedia, Pak. Keadaan saya terbatas, tapi selama itu dalam kemampuan saya, saya pasti tidak akan menolak!" Qiandra menyuarakan ketulusan. Wajahnya penuh tekad, matanya menyorotkan keseriusan.
Pak Subagio menatap Qiandra lekat-lekat, menimbang keseriusan yang terpancar jelas di mata wanita muda tersebut. Setidaknya, wanita itu memiliki tekad untuk bertanggung jawab, yang menyebabkan penilaian Pak Sibagio padanyan naik beberapa poin.
Suara detak jarum jam terdengar lebih menakutkan daripada biasanya, membawa antisipasi yang tiada habisnya. Qiandra menatap cangkir kuning keemasan yang baru saja disuguhkan oleh asisten rumah tangga, memaksa dirinya untuk meraih dan meminumnya agar ketegangannya sedikir terurai. Rasa teh dengan aroma ringan membuat simpul sarafnya sedikit mengendur.
"Ada satu cara untukmu memberikan kompensasi pada Nathan. Saya akan melihat kesungguhan kamu menangani situasi dalam hal ini. Apakah benar ada ketulusan atau tidak!" Pam Qiandra saling bertatapan penuh arti pada istrinya, menimbang baik-baik apa yang akan ia sampaikan pada momen selanjutnya.
Wajah Nyonya Mega semakin tampak tegang, seperti dipelintir menjadi bentuk tak meyenangkan. Jelas apa yang akan disampaikan oleh suaminya memiliku efek besar dalam mentalitas wanita itu.
Sementara Nathan, lagi-lagi wajahnya seperti patung Hades yang terpahat sempurna. Rasanya dia bukan manusia. Hampir tak ada emosi nyata di matanya yang dalam. Qiandra sendiri terkejut dengan betapa dingin dan jauhnya kesadaran yang Nathan bangun terhadap lingkungan sekitar.
"Ya, Pak. Katakan saja." Qiandra tampaknya memilih bekerja sama dengan baik.
"Menikhlah dengan putraku."
Apa?
Apa ini?
Apakah ada sesuatu yang salah dari pendengaran Qiandra?
Melihat Qiandra tertegun lama dan linglung, Pak Subagio terlihat tak senang. Dia mengetukkan kakinya di lantai, menunjukkan kekesalan.
"Karena kamu telah membuat perkawinan putraku kacau dan masa depan putraku tak menentu, apa sulitnya memberi kompensasi serupa? Berikan perkawinan pada putraku dan serahkan masa depanmu untuk bersamanya. Perlakukan dia dengan setara, hargai dia dengan baik, dan genapi apa yang seharusnya menjadi milik putraku. Bukankah kamu sudah merampas itu? Kenapa sulit melakukan kompensasi serupa?"
…