"Nathan, kita sama-sama tau gimana perasaan gue sama loe!" Leslie duduk berhadapan dengan Nathan, mereka berada di restoran tak jauh dari kantor Nathan.
Wajah Leslie sebenarnya bisa dikatakan manis, seandainya rambutnya lebih dipanjangkan, pakaiannya lebih feminim, dan gesturnya lebih halus.
Sayangnya, wanita dua puluh delapan tahun itu memiliki kebiasaan yang hampir bertentangan dengan kelembutan seorang perempuan. Telinganya bertindik satu, mengenakan topi hitam dengan pet miring, duduknya seperti remaia laki-laki di awal masa pubertas dengan dua kaki bersilang, bahkan, kebiasaan utama yang tak bisa dihindari Leslie adalah merokok.
"Omong kosong apa lagi yang loe buat kali ini?" Nathan memandang steak di depannya tanpa selera.
Bukan rahasia lagi di antara mereka jika Leslie menyimpan perasaan khusus terhadap Nathan. Pengakuan ini telah Leslie sampaikan sejak empat tahun yang lalu, sebelum pernikahan Nathan yang pertama.
Hanya saja, perasaan Leslie bertepuk sebelah tangan. Di mata Nathan, Leslie hanya sebatas sepupunya, seseorang yang tumbuh bersamanya dari kecil dan menjadi bagian kerabatnya yang berhubungan baik.
"Selalu saja menyangkal!" Bukannya tersinggung, Leslie justru tertawa kecil. Dia menyesap sebatang rokok di antara jari jemarinya, membiarkan asapa rokol tersebut mengotori udara di sekitar mereka.
"Dulu loe nikahin Stephanie. Wanita jalàng itu! Sudah gue bilang Stephanie nggak ada bedanya sama wanita malam yang hanya bergantung pada uang, kejayaan, dan kenikmatan duniawi!" Nada Leslie menyindir, bibirnya miring, membentuk seringai sinis.
Siapa pun yang punya mata, bisa melihat Stephanie bukan orang yang baik. Entah kenapa Nathan bersedia menikahinya. Mungkin laki-laki itu buta, atau mungkin sengaja mencari istri level rendah sehingga pernikahan mereka bisa dijadikan semacam permainan bersama tanpa resiko. Siapa yang bisa memahami arah pikiran Nathan di masa lalu?
"Ceramah loe dalem juga!" Nathan meraih gelas minuman di depannya, menyesapnya perlahan. Sayangnya ini coke, seandainya saja ada minuman yang lebih keras. Mungkin bisa sedikit menenagnkan kondisi pikiran Nathan. Diingatkan tentang cinta dan romansa selalu membuat Nathan merasa enggan.
"Sekarang loe nikahin Qiandra. Sekilas gue liat, karakternya nggak sejalàng Stephanie. Tapi kita sama-sama tau caranya bersikap sama loe bukan sikap seorang istri. Ekspresi wajahnya menunjukkan dia tawanan perang yang terpaksa berkorban dalam pernikahan!"
Cengkeraman di gelas minuman Nathan semakin kencang, membuat gelas tersebut bergetar beberapa kali hingga ujungnya nyaris menumpahkan minuman.
Leslie tepat menyentuh luka yany Nathan miliki. Luka yang ia ingin hindaro, tapi selalu gagal.
"Leslie, pahami batasan loe!" Nathan tak menyembunyikan kemurkaan.
Leslie adalah orang yang tak mengenal takut. Dia mengatakan apa yang dia rasa benar, menyampaikan sesuatu tanpa tedeng aling-aling, dan akan selalu menghadapi konsekuensi terberat dari sikapnya sendiri tanpa keluhan.
Leslie jenis wanita yang suka memancing api.
"Gue menyampaikan fakta lapangan. Loe tolòl, Nat. Loe bodòh. Kenapa menceburkan diri dalam dua pernikahan yang bobrok? Pertama dengan w************n, kedua dengan wanita yang dia sendiri enggan menjalani hidup bersama loe! Apa loe tipe masokis yang suka rasa sakit? Kalau gitu, kenapa nggak masul club BD*M aja? Mau gue share linknya?"
"Sudah cukup? Mulut loe terlalu liar, Les. Pantea nggak ada laki-laki yang serius dan bertahan lama di sisi loe!"
"Karena gue bukan wanita munafik yang akan menahan laki-laki tanpa kemauan kedua belah pihak. Loe anggap perasaan gue ke loe adalah perasaan dangkal, Nat? Berapa lama lagi gue perlu buktiin gue serius?" Leslie mengatakan kalimat ini dengan mantap, tanpa kerendahan diri sama sekali.
Jika wanita normal mengungkapkan perasaannya dengan lembut dan malu-malu, Leslie adalah wanita keras yang akan mengakui hal-hal itu dengan jujur dan apa adanya. Pengakuannya lebih seperti deklarasi kokoh, tanpa meninggalkan jejak kelemahan dan feminimitas perempuan. Alih-alih wanita lembut yang mengejar pujaan hati, Leslie lebih mirip jenderal wanita yang mengejar bawahannya. Dua perandaian yang jauh berbeda.
"Les, di depan gue, loe hanya sepupu. Ikatan sepupu ini akan tetap ada, terus selamanya. Jadi jangan hancurkan hubungan kita lebih buruk lagi!"
"Apa loe laki-laki kolot yang menolak wanita hanya karena dia sepupu?" Leslie mencibir. Mulutnya membentuk kerucut kecil, bukti ia mengolok-olok kata-kata Nathan.
"Gue laki-laki yang nggak akan menerima wanita yang nggak gue suka!"
"Oh jadi loe nggak suka gue? Suka itu masalah waktu, semakin loe lama mengenal gue, semakin perasaan itu akan tumbuh berkembang!"
"Cukup, Les! Cukup!"
"Jika suatu hari nanti loe akhirnya nggak ngedapetin hati Qiandra dan loe lelah, gue harap saat itu loe mulai bisa realistis, Nat! Di dunia ini, ada sesuatu yang memang nggak diperuntukkan satu sama lain. Ada sesuatu yang ditakdirkan nggak berbalas!"
"Selalu ada pilihan apakah orang mau bersikap realiatis atau tidak. Sepanjang itu menyangkut hidup gue, keputusan apa pun itu, loe nggak celàh untuk membalikkannya!"
"Dasar keras kepala!" Leslie mengangkat kedua tangannya ke atas, berhenti mendesak Nathan untuk saat ini. Di tahu kapan harus menarik batas kembali untuk menyeimbangkan situasi.
"Restoran ini enak juga!" Leslie mengomentari menu yang dia pesan, memakannya dengan gerakan cepat dan gesit, tanpa malu-malu. "Santai saja, kali ini gue yang traktir!" Leslie tertawa renyah melihat wajah Nathan yang cemberut. Wajah seperti ini biasanya adalah wajah yang selalu ingin dihindari oleh orang lain. Setiap kali Nathan menunjukkan ekspresi ini, tak banyak orang yang mampu tetap berada di sisinya tanpa tertekan oleh sikapnya yang suram.
Leslie berbeda. Dia telah mengembangkan semacam ketahanan tertentu pada sikap Nathan yang tidak menyenangkan. Ah. Lelaki ini memang lebih menyulitkan daripada lelaki kebanyakan. Tapi justru itulah daya tariknya.
"Jangan ganggu gue lagi saat kerja!" Nathan memperingatkan.
"Itu tergantung keadaan!" Leslie masih menanggapinya dengan berani.
"Berhentilah bersikap keras kepala, Les!" Nathan membalikkan kursi rodanya, meninggalkan makanan yang baru saja dia sentuh beberapa suap. Selera makannya hilang gara-gara Leslie. Wanita itu benar-benar merepotkan.
"Hati-hati, Nathan!" Tidak menanggapi peringatan Nathan, Leslie justru melambaikan tangannya dengan santai, sebagai tanda perpisahan.
…