Posesif

1106 Kata
Qiandra duduk di ruang tengah, menikmati keripik kentang di stoples sedang, membiarkan suara gigi dan keripik saling beradu membentuk bunyi "kres-kres". Qiandra menggeser channel TV, melewatkan beberapa program begitu saja, dan berhenti pada channel yang sedang menayangkan film fantasi China. Film ini jenis film yang menggunakan plot Wuxia dengan menonjolkan aksi bela diri yang intens. Kedua manik mata Qiandra berbinar, semakin menikmati suasana malam. Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Nathan masih belum terlihat keberadaannya. Mungkin lelaki itu terlalu sibuk dengan pekerjaan, mengambil lembur di hari pertama ia kerja. Sementara Qiandra, hari ini semuanya berjalan cukup normal. Berangkat jam delapan, pulang jam lima. Samar-samar, Qiandra ingat Nathan berjanji akan menjemputnya sepulang kerja, tetapi yang datang hanya sopir kantornya, Pak Niki. "Tuan sedang sibuk, Mbak. Pak Nathan mengirim saya sebagai gantinya!" Itulah penjelasan yang diberikan Pak Niki di sore tadi. Tak ingin banyak berdebat, Qiandra mengikuti intruksi Pak Niki dan pulang bersamanya. "Nyah! Udah malem. Kalau Den Nathan belun pulang juga, Nyonyah istirahat dulu aja. Nggak perlu ditunggu!" Bi Um datang ke ruang duduk, mengingatkan Qiandra agar tak terlalu menunggu Nathan. Panggilan "Nyonya" dan "Aden" sudah terbiasa didengar Qiandra, sehingga dia tidak lagi terkejut dengan sebutan aneh Bi Um. Lucu juga sebenarnya. Qiandra yang baru datang ke rumah ini dipanggil "Nyonya", sementara Nathan masih disebut "Aden". "Bentar, Bi. Ini filmnya lagi bagus. Nanti kalo filmnya selesai, aku langsung istirahat ke kamar!" Qiandra masih sibuk dengan keripiknya, tak mengalihkan padanganya dari layar TV berukuran raksasa. "Jangan tidur larut malam. Nggak baik buat tubuh!" Bi Um masih mengingatkan. Dia berjalan menuju ruang belakang, ke kamarnya sendiri. Sikap Bi Um lebih seperti seorang ibu, alih-alih bibi pembantu. Wanita itu sangat perhatian, lembut, dan penyayang. Dengan kehadiran Bi Um, kerinduannya pada Ibu sedikit terobati. Satu jam berlalu tanpa terasa. Saat film itu sedang seru-serunya di tengah konflik, Nathan pulang dengan wajah kuyu. Kemejanya kusut, dan rambutnya berantakan. Qiandra melirik lelaki itu, dan menyapa ringan. "Pulang?" tanyanya. "Ya." Nathan tersenyum, jelas tampak lelah. Hari ini Nathan memiliki jadwal konseling dan terapi untuk kakinya, sementara pekerjaan menggunung. Setelah selesai memenuhi janji terapi, Nathan menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga malam hari. Akibatnya, Rian-lah yang menderita. Si gembul itu memiliki jam kerja normal, tapi terpaksa pulang malam karena menunggu Nathan. Bisa dibayangkan seperti apa wajah Rian. Tak ubahnya seperti kain lusuh yang merana. Nathan mendekat ke sisi Qiandra, membawa bungkusan di tangannya. Keripik kentang. "Filmnya bagus?" tanya Nathan, melirik ke arah TV yang sedang menampilkan adegan perang. Stoples di pelukan Qiandra diambil, diisi ulang kembali oleh Nathan sehingga keripiknya kembali mencapai permukaan stoples paling atas. Setelah selesai melakukan reffil ulang, Nathan kembali menyerahkan stoples itu pada Qiandra lagi untuk dinikmati. "Bagus!" "Gue mandi dulu. Kalau loe lelah, balik aja ke kamar dan tidur! Jangan terlalu malam!" Nathan mengingatkan hal yang sama dengan Bi um. Qiandra lagi-lagi mengangguk, membiarkan Nathan berjalan ke ruang dalam untuk mandi. Sebagai orang yang menderita disabilitas, Nathan bisa dibilang beradaptasi dengan cepat. Dia hampir melakukan semuanya sendirian. Mengurus diri sendiri sudah menjadi kemampuannya yang paling dasar. Hanya hal-hal tertentu yang membutuhkan bantuan orang lain. Untuk mandi dan berganti pakaian, Nathan melakukannya dua kali lebih lama dari orang normal. Qiandra bisa memahami ini dengan baik. Setidaknya, dalam hal-hal kebutuhan pokok, Nathan masih tak berubah banyak dari orang normal. Hanya kapasitas waktunya saja yang perlu ditambah. Setelah film selesai, Qiandra mematikan TV, beralih ke kamar, dan berbaring miring. Nathan mengikutinya tak lama kemudian. Dia menopangkan tangan ke sisi ranjang, beralih dengan gesit dari kursi roda ke ranjang, dan berbaring di sisi Qiandra dengan napas berat. Meskipun gerakan Nathan luwes, tapi usaha untuk berpindah posisi tetap saja menbuat napas Nathan tak teratur. "Gimana kerja loe hari ini?" Qiandra mendengar Nathan berbicara. Dia tetap memunggungi Nathan, tak bermaksud untuk berbalik arah. "Lancar. Seperti biasa!" Tak ada yang spesial. Qiandra melakukan jobnya dengan baik, teman-temannya terap berinteraksi dengan normal, tanpa masalah apa pun. "Bagus!" Nathan menyentuh rambut Qiandra yang terurai di atas bantal, mengagumi bagaimana helai-helai rambut ini terasa seperti sutra paling indah dan mahal. "Loe nggak malu kan punya suami lumpuh seperti gue?" Di tengah-tengah keheningan ruangan, tiba-tiba pertanyaan ini muncul seperti bom yang dijatuhkan tanpa persiapan. Tubuh Qiandra kaku. Kedua tangannya yang saling terjalin, terasa lembab oleh keringat dingin. Malu? Apakah Qiandra merasa malu? Bagaimana Qiandra bisa menjawab? Bagaimaba jawaban itu akan diterima baik oleh Nathan? "Nggak." Qiandra menjawab tegas, tapi masih menolak untuk berbalik. "Bagaimanapun juga, kelimpuhan itu akibat dari kecerobohan gue!" Ya. Faktanya memang demikian. Jika kembali menilik masa lalu, kecelakaan Nathan dipelopori oleh Qiandra. Jika mau membahas tentang kesalahan, Qiandra lebih berhak menanggung rasa bersalah dari Nathan. Pernikahan ini adalah kompensasi. Pernikahan ini adalah tanggung jawab. "Mari kita berhenti membahas masa lalu." Nathan merasa tak nyaman. Diingatkan tentang kesalahan Qiandra, membuat Nathan berpikir bahwa pernikahan mereka adalah produk dari kecerobohan Qiandra. Menyadari ini, rasanya Nathan semakin terganggu. "Qian, mari kita sama-sama jujur. Jika di masa depan, loe atau gue, menemukan orang yang kita cinta, bisakah kita jujur satu sana lain?" Setelah lama saling terdiam, Nathan lagi-lagi mengejutkan Qiandra dengan permintaannya. Kali ini, Qiandra segera berbalik, tak bisa mempertahankan posisi tidurnya yang membelakangi Nathan. "Apa yang loe maksud?" tanya Qiandra, menatap wajah segar Nathan yang baru saja mandi dan menguarkan aroma segar, bercampur dengan after shave dan sedikit aroma mint. "Seperti yang gue katakan!" Sentuhan lembut hadir di sisi wajah Qiandra, membuat tubuhnya bergidik oleh rasa geli yang unik. "Gimana kalau gue bilang gue masih cinta sama Rifki?" Lampu kamar hanya menggunakan penerangan remang-remang, sehingga mata gelap Nathan yang penuh energi membunuh tidak tertangkap oleh Qiandra. "Gue kasih waktu setahun untuk melupakannya!" Nathan memejamkan mata sebentar, kemudian membukanya lagi dengan hati-hati. Aura membunuh di dalam sorotnya telah menghilang, tidak lagi seperti sebelumnya. "Selain itu, gue percaya sebenarnya loe nggak jatuh cinta sedalam itu sama dia!" "Nggak jatuh cinta sedalam itu? Apa maksudnya?" Qiandra mengernyitkab dahi, tak mengerti sama sekali arah pembicaraan Nathan. "Nggak apa-apa! Tidur! Sudah malam!" Nathan menepuk bahu Qiandra, membenahi letak selimut dengan benar. Jika Qiandra benar-benar jatuh cinta pada Rifki, dia tak akan pernah meninggalkan laki-laki itu demi apa pun juga. Sayangnya, takdir berkata lain. Hanya karena satu dan dua hal, hubungan mereka kandas begitu saja. Bukankah itu membuktikan Qiandra belum mengenal cinta? "Ngomong-ngomong, seandainya gue memang bisa jatuh cinta sama orang lain di masa depan, apa yang akan loe lakukan?" tanya Qiandra, suaranya terdengar hati-hati. "Nggak ada!" Nathan tersenyum sinis. Tidak ada yang akan Nathan lakukan. Paling-paling, mematahkan leher orang itu dan membuat hidupnya sulit. Tidak boleh ada yang memiliki hati Qiandra, kecuali Nathan. Tidak boleh. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN