Stephanie

1116 Kata
Stephanie duduk di kursi berbantalan tebal, tenggelam dalam lamunan yang panjang. Di depannya, ada minuman berwarna merah menggoda dengan kandungan alkohol yang tinggi. Ini adalah gelas ketiga yang Stephanie konsumsi sore hari. Sam, kakaknya, sudah menyerah untuk membujuk wanita itu menghentikan tindakannya. “Apa yang harus gue lakukan?’ Stephanie bermonolog seorang diri. Dia menghadap dinding, satu tangannya mengusap perutnya yang membuncit.   Ada makhluk yang tumbuh di dalam dirinya, membesar dan menuntut untuk diakui. Hanya saja, makhluk ini hadir dalam keadaaan dan waktu yang salah. Sesuatu yang datang tidak tepat, hanya akan memperumit suasana. Membuat keadaan emosi Stephanie tak menentu.   “Mau loe gugurin?” tanya Sam, menyesap sebatang rokok di antara jari tengah dan jari manisnya.   “Gue takut resiko!”   Masih teringat dengan jelas bagaimana Mama Stephanie meninggal karena pendarahan saat menggugurkan bayinya yang terakhir. Sebagai wanita yang belajar dari pengalaman, Stephanie tak akan melakukan kesalahan serupa. Dia tak akan melakukan jalan yang sama dengan sang Mama. Pelajaran buruk hanya perlu dilakukan sekali, tak perlu berulang dua kali.   “Biarin aja bayi itu tumbuh. Loe bisa mengirimkannya ke panti asuhan jika nggak mau membesarkan.”   “Apa cuma itu pilihannya?” Gelas di depan Stephanie telah kehilangan isinya, menyisakan setitik cairan merah di dasar gelas.   Stephanie hamil. Sungguh merepotkan. Lebih merepotkan lagi, anak ini hadir di saat kritis, ketika Stephanie telah resmi bercerai dari Nathan.   Kembali pada Nathan? Jelas tidak mungkin. Dia tak sanggup jika harus menghabiskan seluruh hidupnya dengan orang disabilitas. Lagi pula, toh saat ini Nathan telah menikah dengan orang lain. Stephanie tak tertarik menciptakan keributan yang tak perlu. Untuk apa? Drama tanpa keuntungan hanya akan memperumit suasana.   “Ada satu lagi opsi tersisa. Mungkin bayi itu bisa menjadi bahan tawar untuk keluarga Rajendra!”   Sama halnya dengan Stephanie, Sam, lelaki berwajah Indo-Eropa berusia tiga puluh dua tahun yang merupakan kakak kandungnya, adalah orang yang sangat pintar dalam memperhitungkan sesuatu. Hidup adalah serangkaian kalkulator yang bisa kita rencanakan arahnya mau ke mana. Selama itu menguntungkan, apa salahnya dijalankan?   Bayi yang ada di dalam perut Stephanie, hanya bernilai sebagai asset masa depan, tak lebih.   “Menurut loe, berapa nilai bayi ini?” Stephanie tersenyum penuh makna, otaknya membentuk perhitungan matematika dalam waktu yang singkat.   “Tergantung situasi. Lepaskan saja saat nilainya tinngi!”   “Tapi gue sendiri nggak yakin terhadap sesuatu. Identitas anak ini,sedikit … tak bersih.” Stephanie menggosok pelipisnya, tak terlalu suka kenyataan ini.   “Justru itulah nilainya. Anak itu memiliki harga yang tinggi!” Sam mengembuskan asap nikotin, membuat ruang tengah apartemen di daerah Kuningan ini penuh aroma alkohol dan rokok yang menyesakkan. Saling berpadu.   “Begitu.” Stephanie mengangguk, tak terlalu yakin. Ada secercah rasa bersalah yang menyusup ke dalam hatinya, menyusup pelan-pelan melalui nurani yang masih tersisa.   Namun, pada dasarnya, sering kali manusia adalah makhluk yang egois. Suara hati mudah dikalahkan oleh kepentingan sesaat. Terlebih lagi, jika kepentingan itu berhubungan dengan kesejahteraan diri.   “Jangan terlalu sensitif. Loe hanya hamil. Jangan jadikan kehamilan ini merampas kebebasan dan kebahagiaan loe yang sesungguhnya. Anak mampu tumbuh, bahkan tanpa orang tua. Percaya sama gue, sekali pun nanti loe jadi ibu, bukan berarti fungsi loe akan diikat sepenuhnya! Pahami kondisi yang terbaik. Buat pilihan yang terbaik!” Sam mengingatkan.   Tak bisa berkata-kata, Stephanie hanya menggerakkan gelas Kristal di tangannya dengan gerakan lemah.   Hidup itu seperti alkohol. Sebagian besar orang mencari kita untuk bersenang-senang. Setelah peran itu selesai, yang tersisa hanya kekacauan di pagi hari.   …   Satu bulan berlalu tanpa terasa. Hari-hari Nathan dan Qiandra berjalan seperti biasanya, tak mengalami perkembangan, tapi juga tak mengalami kemunduran. Tak ada keintiman, tapi juga tak ada pertengkaran. Stabil. Damai. Setidaknya, di permukaan. Mereka berdua seperti dua orang yang menandatangani perjanjian damai dan mengambil langkah aman bersama.   Qiandra tak terlalu ikut campur dengan urusan Nathan, baik dalam pekerjaan maupun dalam masalah personal. Tak pernah ingin tahu riwayat kesehariannya, dan tak membatasi apa pun.   Namun, sejauh ini Nathan bersikap lebih baik dari Qiandra. Memang, setiap hari laki-laki itu masih sering melakukan lembur sehingga ia selalu pulang di atas jam selapan malam. Tapi ia selalu memberikan penjelasan pada Qiandra, bersikap selayaknya suami yang lurus. Qiandra tak terlalu menanggapi, dalam hati, tak terlalu peduli juga. Toh ini hanya formalitas semu.   Hingga hari ini, terjadi sesuatu di luar kebiasaan mereka.   Sore ini, tak seperti biasanya, Nathan tidak mengambil lembur dan menjemput Qiandra dengan Rian sebelum jam pulang Qiandra berakhir. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, Qiandra keluar bersama Johan, yang kebetulan satu shift dengannya.   “Sialann! Barusan pelanggann yang kita layani sulitnya minta ampun.” Johan mengeluh, geleng-geleng kepala oleh tingkah laku sebagian orang yang ia nilai tak masuk akal.   “Yang ibu-ibu pake syal sutra merah sama suaminya dengan jaket kulit hitam itu, ‘kan?” Qiandra menanggapi, sembari berjalan menuju pelataran parkir khusus karyawan. Saat ini, Qiandra menghadap ke Johan, sama sekali tak menyadari mobil Nathan yang diparkir tak jauh darinya.   “Iya! Pertama dia pesen miae ayam ceker, eh dikasih sesuai orderan, dia bilang katanya pesen yang mie ayam sayap. Waktu diganti, dia bilang lagi, jadinya mau bakso balungan sapi. Ini orang bener-bener kebangetan. Itu dua orderan kan akhirnya mubadzir!”   “Iya, gue denger itu dari Si Elli. Katanya orang itu nggak mau bayar tagihan, ‘kan? Dia bilang kualitas makanan kita nggak sesuai standar. Komplain ke Bang Andi, eh malah jadi ribut. Heran gue, ada gitu ya … orang yang seperti itu.” Siapa pun yang mendapat pelanggann spesial seperti itu, mudah untuk dibuat kesal dan merasa gedek sendiri.   “Katanya Feli, orang itu dua minggu lalu pernah ke sini, emang orangnya suka bikin ribut. Ada yang bilang dia sengaja bikin komplain dan ribut biar dapat free makan, alias makan gratis. Masih kesel gue kalo inget. Semoga besok nggak lagi-lagi deh gue ketemu orang seperti itu. Karakternya bikin orang keki.”   Qiandra berbincang dengan asik, berdiri lama sekitar dua belas menit. Kebetulan saat itu, angina berembus kencang, membawa beberapa daun jatuh ke tanah. Ada selembar daun yang jatuh di atas kepala Qiandra, tak jauh dari jepit merah yang ia kenakan.   “Sebentar, ya!” Johan mengambil daun tersebut, kemudian membuangnya ke tanah dengan sembarangan. Sebenarnya ini adalah gerakan yang sederhana, praktis, bahkan bisa dikatakan reaksi otomatis sesama teman.   Namun, dalam sekejap mata setelah tindakan itu, Nathan membuka jendela mobil, menatap Qiandra dengan tajam, dan memanggil namanya. Nadanya tinggi, mengandung kemarahan.   “Terlalu asyik ngobrol? Berapa lama lagi gue harus nunggu?!”   Qiandra dan Johan menoleh bersama, sama-sama terkejut oleh nada peringatan ini.   “Nathan?” Dahi Qiandra berkerut.   “Masuk ke mobil!”   Johan tak bisa berkata-kata, hanya menatap Qiandra yang berjalan pelan menuju sauminya.   Sebenarnya Johan tidak merasa melakukan kesalahan sama sekali, tetapi kenapa sekarang dia merasa dihakimi oleh tatapan suami temannya sendiri?   Ini sedikit aneh.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN