Di dalam mobil, suasana terasa aneh. Udara rasanya lebih rendah beberapa derajat, meskipun AC mobil telah diatur dalam suhu normal. Ada tekanan yang tak terlihat, menggantung di udara, semacam ketegangan sebelum terjadi keributan.
Qiandra menyentuh tengkuknya, menggosok bagian tersebut beberapa kali. Dia membuka mulut untuk menyapa Nathan, tapi entah kenapa, Qiandra mengurungkan niatnya. Rian yang kali ini duduk di jok belakang mobil, mengembuskan napas panjang. Wajah Nathan terlihat buruk. Biasanya dalam keadaan begini, tak ada bawahannya yang berani mendekati Nathan dalam jarak dua meter. Dengan kondisi Rian yang tak beruntung saat ini, dia hanya berharap tidak menjadi pelampiasan kemarahan Nathan.
Empat puluh menit perjalanan pulang, tak ada yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan. Rian berpura-pura sibuk dengan ponselnya, Nathan menatap jalanan dengan ekspresi dingin, dan Qiandra, satu-satunya orang yang tidak tahu menahu alasan suasana hati Nathan memburuk, hanya bisa menatap pemandangan luar melalui jendela mobil.
Setelah tiba di rumah, Nathan berhenti di pintu, menatap Qiandra, menahan wanita itu agar tak bergerak melalui sorot matanya.
Mata yang biasanya lembut, kini dipenuhi amarah. Bibir yang biasanya tersenyum, kini dipenuhi cibiran. Wajah yang biasanya memberikan kesan hangat, kini dipenuhi kegelapan, seperti mendung yang menggantung sebelum hujan.
“Jangan pernah lagi tertawa seperti itu pada laki-laki lain!”
Qiandra butuh waktu lumayan lama untuk memproses apa yang Nathan sampaikan.
Tertawa seperti itu pada laki-laki lain? Apakah maksudnya Johan?
“Tunggu tunggu! Maksud loe, loe mengomentari sikap gue dengan Johan?” Qiandra perlu memastikan.
“Jadi laki-laki itu Johan?” Tawa sinis terdengar sari bibir Nathan. “Jangan pernah sebut nama laki-laki lain di depan gue!”
Sepanjang menyangkut emosi, Nathan bukanlah orang yang toleran. Dan sepanjang dia tidak menoleransi orang, sikap yang ia ambil bisa dikatakan kejam.
Dari dulu, Nathan tidak pernah didefinisikan sebagai laki-laki baik. Tidak pernah.
“Apa yang coba loe tunjukkan dengan tertawa kayak gitu? Apa status loe sebagai istri masih juga belum bisa membatasi loe? Berbicara akrab, tersenyum sama laki-laki lain, deket di tempat umum seperti itu … loe pikir, itu pantas?!”
Nada Nathan penuh tuduhan, suaranya meninggi, otot-otot wajahnya tegang, tampak membentuk bilur-bilur hijau.
“Johan Cuma temen gue. Apa hak loe untuk membatasi gue seperti ini?”
Marah. Tak terima. Tersinggung. Semua emosi buruk bercampur padu menjadi satu di dalam hati Qiandra.
Interaksi Qiandra dan Johan masih dalam batas wajar. Cara mereka bercanda juga sebagai teman. Tuduhan dan penghakiman dari Nathan terasa mengada-ada. Diposisikan seperti ini, Qiandra merasa luar biasa kesal.
“Posisi gue sebagai suami yang memberi hak gue atas itu!”
“Jangan paksa gue untuk mengingatkan kondisi pernikahan kita seperti apa!”
Qiandra menerima dengan baik pernikahan ini. Tapi bukan berarti ia bersedia diperlakukan tak masuk akal seerti sekarang dan menanggung tuduhan hanya karena hal-hal sepele. Ayoah. Tidak bisakah Nathan bersikap normal?
“Sudah gue bilang, cepat atau lambat, pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang sebenarnya.” Nathan mengingatkan.
“Pernikahan itu memiliki asas kepercayaan satu sama lain. Tindakan loe menuduh gue sama sekali nggak masuk akal!”
“Ini bukan tuduhan. Ini sesuatu yang seharusnya loe jaga sebagi seorang istri. Komunikasi yang berlebihan dengan lawan jenis akan melahirkan hal-hal buruk. Mungkin di banyak pernikahan orang lain, perselingkuhan menjadi kejadian mayoritas. Tapi gue nggak suka dicurangi seperti itu! Gue nggak suka ditertawakan sebagai laki-laki cacat yang dibodohi istrinya sendiri di balik punggung!”
“Nathan! Jangan pernah tuduh gue dengan hal-hal amoral seperti itu!” Kemarahan yang tadinya hanya menjadi milik Nathan, kini dialami oeh Qiandra juga.
“Jaga sikap loe di luar! Menjadi w************n bukan sesuatu yang baik didengar!”
“Nathan!’
Keterlaluan. Ini sangat keterlaluan. Qiandra belum pernah disudutkan seperti ini, seolah-olah ia bukan wanita yang baik dan rentan melakukan pelanggaran di banyak tempat.
“Pahami posisi loe dengan baik.”
“Loe piker loe siapa? Loe pikir loe berhak membatasi gue? Jangan pernah bermimpi!”
Qiandra bukan jenis wanita yang mengedapankan emosi dan suka membuat keributan tak masuk akal. Setiap kali ia dihadapkan pada kondisi krisis, Qiandra termasuk orang yang mampu mengonntrol diri dengan baik.
Hanya saja, kali ini menjadi pengecualian. Amarah dan rasa tersinggung Qiandra berada di ambang batas. Nathan berhasil memaksa Qiandra melewati garis yang ia tetapkan.
Sepanjang usia dewasa Qiandra, semua orang menghargainya, mempercayai tindakan yang ia ambil. Bahkan Ibu tidak pernah secara terang-terangan membatasi Qiandra, melarangnya melakukan hal-hal yang tak seharusnya. Bukan karena tidak peduli, tetapi beliau sangat mempercayai Qiandra. Seorang Qiandra dinilai mampu memilah-milah hal-hal baik dan buruk.
Kini, baru sebulan lebih Qiandra menikah, dia telah dicurigai Nathan hingga sejauh ini, menanggung tuduhan asal-asalan.
Sungguh mengesalkan.
“Jangan paksa gue untuk mengambil tindakan keras, Qian!” Nathan mengarahkan kursi rodanya ke kamar, membiarkan Qiandra berdiri seorang diri dalam keheningan.
Perdebatan antara Qiandra dan Nathan sampai di telinga Bi Um. Namun, sebagai orang yang telah mengalami asam manis kehidupan, wanita sepuh itu memilih berpura-pura tak tahu. Anak muda memiliki hormon tinngi. Bertengkar sebentar, setelah itu pasti akan kembali berbaikan. Siklus pernikahan normal.
Meskipun Bi Umi tahu latar belakang dan alasan sesungguhnya pernikahan Nathan dan Qiandra, Bi Umi masih meletakkan harapan tinggi pada mereka. Dia berharap entah bagaimana, pernikahan ini akan berhasil pada akhirnya. Rumah tangga Nathan telah gagal sekali. Jangan sampai mengalami kegagalan untuk kedua kalinya.
Sore ini suasana di antara Nathan dan Qiandra, tidak sebaik hari-hari sebelumnya. Mereka saling mengunci mulut satu sama lain, memilih tidak berbicara dan membiarkan ketegangan menggantung di antara keduanya.
Wajah Nathan terlihat suram. Dia menatap layar laptop di depannya lama, mengetuk keyboard dengan tenaga di atas rata-rata.
Sulit untuk membuat Qiandra menerima pernikahan ini. Lebih sulit lagi membuat Qiandra memiliki ketulusan pada Nathan. Wanita itu seperti Kristal es. Dingin, keras, dan berjarak. Setiap kali Nathan berpikir ada cellah untuknya maju dan menggali hati Qiandra lebih dalam, setiap kali itu pula Qiandra menunjukkan tolakan yang menyadarkan Nathan di mana posisi mereka masing-masing.
Tidak selayaknya seperti pasangan yang akan berjalan bergandengan bersama pada umunya, Nathan dan Qiandra lebih mirip musuh asing yang melakukan gencatan senjata demi kepentingan bersama.
Lantas, yang menjadi pertanyaan adalah, ke mana tujuan mereka? Apakah pada akhirnya memiliki target yang akan mereka raih bersama?
Malam datang, membawa curahan hujan deras yang mengguyur Jakarta dengan hebat. Suara petir menyambar-nyambar. Kisi-kisi jendela berderak, terbentur air hujan yang jatuh dengan kecepatan tinggi.
Malam ini, untuk pertama kalinya dalam sebulan, baik Nathan dan Qiandra sama-sama mengabaikan makan malam yang telah disisapkan Bi Umi.
Sepasang suami istri, saling menjaga kesunyian, memilih menutup mulut dan memperbesar jarak di antara mereka.
Tidak ada yang maju untuk berinisiatif meminta maaf, dan tidak ada yang toleran untuk memaafkan lebih dulu.
Keduanya sama-sama keras kepala.
…