Perdamaian

1091 Kata
Sinar mentari menembus ke celah-celah kisi jendela, membentuk garis panjang di lantai di ruang tengah. Suara penyiar berita pagi terdengar nyaring di ruangan berukuran lima kali enam meter, memantul di sudut-sudut dinding.   Qiandra duduk dengan kaki terlipat di atas sofa, menggenggam ponselnya di atas pangkuan. Jari-jemarinya sibuk menggulir layar, mengecek beberapa orderan dari produk marketingnya. Rambut panjang Qiandra yang panjang diikat dengan ikat rambut berwarna putih, membentuk kuncir kuda. Beberapa helai rambut liar menolak untuk diatur, mencptakan ikal-ikal kecil di depan telinga.   Tak jauh dari Qiandra, terdapat secangkir kopi hitam dengan gula ekstra yang menjadi favoritnya. Saat Qiandra ingin menjangkau kopi tersebut dan meminumnya, sebuah gerakan menghalangi.   “Masih terlalu pagi. Kopi nggak baik buat kesehatan!” Suara Nathan menghentikan niat Qiandra. Wanita itu mendongakkan kepala, menangkap sosok familier yang berada di atas kursi roda di depannya.   Nathan mengambil cangkir kopi di atas meja, menggantinya dengan lemon tea hangat dalam gelas kristal tinggi yang biasa Qiandra konsumsi. Kening Qiadra berkerut sesaat. Dia terlihat ragu-ragu, tapi kemudian meraih minuman yang dibawa Nathan. Bisa dibilang, semalam mereka mengalami pertengkaran kecil. Mungkin segelas lemon tea ini, digunakan Nathan sebagai tanda perdamaian. Sebagai wanita baik, Qiandra tak menolak dan menyambut isyarat ini dengan tulus.   “Bi Umi lagi masak ceker Lombok ijo favorit loe!” Nathan kembali bersuara. Qaindra menanggapi berita ini dengan dehaman ringan, tak terlalu antusias.   “Nat! Mulai sekarang, lebih baik loe nggak usah jemput gue. Gue punya motor matic di rumah lama, masih bagus kondisinya untuk pulang pergi bekerja!”   Qiandra masih teringat kemarahan Nathan yang tak masuk akal semalam. Jujur, Qiandra tak ingin hal-hal serupa terjadi lagi. Siapa yang tahu di masa depan Nathan mungkin bisa marah lagi dan bersikap lebih tak masuk akal terhadap teman-teman Qiandra? Jika Nathan tak mengantar jemput Qiandra, laki-laki itu tak perlu melihat kesalahpahaman serupa. Bukankah ini solusi yang lebih baik?   “Kita tetap berangkat kerja bareng. Masalah pulang kerja, loe akan dijemput Pak Shodiq kalau gue lembur malam. Seandainya kondisi gue memungkinkan untuk pulang normal, gue sendiri yang akan menjemput loe!”   “Tapi—“   “Itu pengaturannya!” Tak ada ruang bantahan, tak ada ruang untuk perdebatan. Jelas ini keputusan yang Nathan ambil secara sepihak.   “Nat,kita perlu—“   “Ada sesuatu yang masih bisa kita negosiasikan, dan ada sesuatu yang tidak bisa kita negosiasikan. Masalah antar jemput ini tidak bisa diubah!”   Bibir Nathan kaku. Dia menatap Grazilda, menyampaikan ketegasannya dalam mengambil keputusan. Untuk seseorang yang tak pernah peka dan tak mudah mengerti seperti Qiandra, ketegasan dalam memberikan batasan adalah satu-satunya cara.   “Nat!”   “Ayo sarapan. Masakan Bi Umi udah jadi!”   …   “Qian! Loe kemarin baik-baik aja, kan?” Johan, salah satu teman kerjanya yang bekerja di bagian dapur, bertanya pada Qiandra dengan ekspresi cemas di pagi hari ketika para karyawan baru saja selesai bersih-bersih meja pelangggan.   “Baik-baik saja gimana maksudnya?” Qiandra sedikit bingung.   “Laki loe kayaknya nggak suka gitu liat kita ngobrol kemarin. Gue khawatir dia berpikir terlalu jauh!” Sebagai seorang lelaki, Johan merasakan krisis nyata dari apa yang terjadi kemarin. Jelas suami Qiandra memiliki sikap yang kurang baik terhadap interaksi Qiandra bersama Johan.   “Ah. Masalah itu, ya!” Qiandra menggosok pelipisnya, tak tahu harus menjelaskan seperti apa. Johan memiliki intuisi yang hebat. “Jangan terlalu dipikirkan!” Setelah berpikir sejenak, Qiandra merasa bingung untuk mengungkapkan kejadian kemarin. Mungkin lebih baik Johan tak tahu cerita lengkapnya.   “Serius nggak terjadi apa-apa?” Johan sedikit tak yakin.   “Serius. Nggak apa-apa. Bener deh!” Qiandra cengengesan. Apakah semudah itu konflik kecilnya dibaca orang lain? Yah. Bukan hal yang menyenangkan sebenarnya.   “Bagus kalau nggak apa-apa!” Johan berbalik pergi, matanya masih menyorotkan ekspresi keragu-raguan.   Jika Qiandra berkata tidak apa-apa, seharusnya tidak apa-apa. Tetapi kenapa pagi ini Johan merasa tatapan Nathan padanya seperti tatapan seorang predator pada musuh yang melanggar teritorinya? Mungkinkah Johan saja yang terlalu banyak berpikir?   …   Hari ini, Qiandra pulang lebih sore daripada biasanya. Pak Shodiq, sopir Nathan yang beberapa waktu lalu sempat mengambil cuti, kini kembali lagi bekerja dan menjemput Qiandra setiap kali Nathan terjebak lembur. Qiandra tampak lelah, kedua matanya memerah, dan napasnya pendek-pendek. Hari ini banyak pelaanggan yang mendatangi rumah makan Q&Q. Tangan dan kaki Qiandra rasanya kram semua setelah seharian bekerja dengan mondar-mandir dari meja ke meja, memberikan buku menu, dan mengantarkan makanan berulang kali.   Jika setiap hari begini terus selama satu bulan, sudah bisa dipastikan Qiandra pingsan, tak sanggup menggerakkan ujung jarinya sama sekali.   “Bu! Ini ada titipan dari Pak Nathan!” Pak Shodiq menyerahan sebuah kotak beludru berwarna merah seukuran kepalan tangan, dengan pita kecil di atasnya.   Jelas kotak ini adalah kotak perhiasan. Dari desain dan penampilannya, tampaknya dari toko perhiasan ternama. Qiandra membuka kotak tersebut dengan hati-hati, kemudian menatap cincin bertahtakan zamrud hijau yang menawan, dengan serat-serat yang alami di dalamnya.   Ada rasa dingin di permukaan jari, sekaligus aura kemegahan dan kenggunan mulia dari zamrud yang Qiandra sentuh. Cincin ini sedikit berbobot, mungkin sekitar seratus lima puluh hingga dua ratus gram. Qiandra menimang-nimangnya dengan ragu-ragu.   “Ukurannya sudah disesuaikan dengan ukuran jari manis Ibu sebelum menikah. Tapi ada baiknya dicoba lagi. Jika ada kesalahan, nanti biar Bapak bantu untuk merombak ukuran!”   “Ini dari Nathan?” Qiandra setengah melamun. Pak Shodiq yang mendengar pertanyaan ini, menatap Qiandra dengan bodoh melalui kaca spion mobil. Bukankah Pak Shodiq sudah bilang ini dari Nathan? Apakah itu perlu diulang? Lagi pula selain Nathan, siapa lagi yang akan memboroskan hal-hal seperti ini untuk Qiandra?   “Pak?” Qiandra memanggil.   “Ya. Ya. Dari Pak Nathan!”   “Kenapa harus melalui Bapak jika ini dari Nathan? Kayak kami ngak akan ketemu aja di rumah!” Benar-benar tak masuk akal. Siapa yang akan membeli hadiah dan memberikannya melalui sopir, padahal mereka hidup dalam satu rumah yang sama. Siapa yang aneh di sini?   “Eh … itu, mungkin Pak Nathan punya pertimbangan sendiri!” Tolong jangan tanyakan pertanyaan seperti ini pada Pak Shodiq. Jangankan Qiandra, Pak Shodiq sendiri juga tak tahu alasan kenapa harus ia yang memberikannya pada Nathan.   “Jangan ditolak, Bu! Nanti saya yang akan disalahkan jika Ibu menolak!” Melihat keengganan nyata di manik mata Qiandra, Pak Shodiq segera mencari alasan cerdas.   “Apa ada konsep yang seperti itu?” Qiandra mengerucutkan bibirnya.   “Sejauh berhubungan dengan Pak Nathan, itu selalu bisa!” Pak Shodiq menatap mobil hitam metallic yang diparkir di depan rumah Nathan, alisnya berkerut-kerut samar. “Ada Tuan besar, Bu. Pak Subagio berkunjung ke sini!”   Qiandra menatap mobil hitam metallic, menatap plat yang tak asing. Sang mertua datang berkunjung rupanya.   …            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN