Sikap Nathan

1053 Kata
Petang menyapa. Langit menampilkan semburat merah di ufuk barat. Udara terasa turun beberapa derajat, menunjukkan mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Di ruang duduk, seorang lelaki berusia enam puluhan menikmati secangkir kopi tanpa gula, duduk dengan auranya yang istimewa. Mata tuanya masih menunjukkan kejelian. Gurat-gurat di wajahnya membuat ekspresi kebapakannya menguat. "Papa ke sini, hanya untuk melihat keadaan pernikahanmu dengan Nathan!" Subagio meletakkan kembali cangkir yang ia genggan di tatakan. Dia menggosok pangkal hidungnya berulang kali, mengamati Qiandra secara menyeluruh. Nathan adalah putra tunggal keluarga Rajendra. Dia titik harapan Subagio dan Mega. "Pernikahan kami baik-baik saja!" Qiandra mengangguk ke Bi Umi, memberi isyarat padanya untuk membawakan kudapan dari dapur. "Benarkah?" Nada Subagio menunjukkan kesanksian. Entah dia pengamat yang cermat, atau dia lelaki cerdik yang mampu merasakan kebohongan. Secara keseluruhan, pernikahan Nathan dan Qiandra baik-baik saja. Hei, setidaknya, pernikahan ini bukan ladang ranjau yang menyimpan bahan ledak di mana-mana. Mereka bisa bersikap baik dan menjaga kedamaian, itu sudah lebih dari cukup. Namun, jika ukuran pernikahan dinilai baik selama pernikahan itu menunjukkan hubungan intim layaknya suami istri pada umumnya, dalam hal ranjang dan perasaan, maka Qiandra mendefinisikan pernikahan ini jauh dari kata baik. Jadi … mana maksud Subagio sesungguhnya? Baik seperti apa yang ia maksudkan? "Kamu tau, kan, Qian. Pernikahan putraku sebelumnya belum memiliki putra sama sekali. Aku dan Mega sudah tua, semakin dekat dengan akhir hidup penghujung usia. Tidak bisakah kami memiliki cucu lebih awal?" Boooom. Ini seperti bom nuklir yang dijatuhkan di Heroshima di hari yang cerah dan damai. Lagi-lagi urusan yang dibahas adalah cucu. Bagaimana Qiandra harus merespon? Pernikahannya baik, tapi tidak melewati batas dari apa yang disebut peraturan tak terucap. Memiliki anak adalah sesuatu yang tak bisa Qiandra janjikan. Bagaimana dia bisa memenuhinya jika tak ada bayangan sama sekali dirinya melakukan hal-hal khusus dengan Nathan? "Aku dan Nathan akan berusaha keras untuk itu! Kondisi Nahan, tidak terlalu memungkinkan untuk melakukan hal-hal secara berlebihan. Lagi pula, kami kan masih muda, Pa. Masih ingin melewati masa-masa bahagia dua orang saja!" Qiandra memberikan alasan yang terdengar masuk akal. "Anak adalah prioritas utama. Ingat itu!" Subagio tak memberikan kesempatan Qiandra untuk membantah. Mata Subagio kembali jatuh ke tubuh Qiandra, mengamati dengan cermat keseluruhan menantunya sendiri. Seolah-olah dia sedang mengamati suatu produk, menilainya, dan mereview dalam hati. Diamati sedemikian rupa, membuat Qiabdra merasa tak nyaman. Dia mengalihkan tatapannya, mengamati pola lantai bergaris-garis. Subagio berada di kediaman Nathan cukup lama. Qiandra menanggapi setiap pertanyaan mertuanya dengan sopan. Rasa ingin tahu Subagio tentang pernikahan putranya sangat besar, dan pertanyaan yang ia lontarkan semakin menderltail. Tentang bagaimana Nathan memperlakukannya selama ini, kapan ia pulang kerja, bagaimana sikap Nathan dalam menghibur Qiandra, dan pertanyaan sejenisnya yang jumlahnya tak lagi terhitung. Mertua Qiandra memiliki karakter posesif yang sangat kuat terhadap Nathan. Sehingga dia selalu ingin tahu apa yang Nathan lakukan dalam pernikahan ini secara menyeluruh. Saat Nathan pulang, Papa masih sibuk mengobrol dengan Qiandra. Mereka kali ini membahas tentang pola mengasuh anak. Sepertinya obsesi Subagio dalam hal anak cukup besar, sehingga pembicarannya selalu mengacu pada kehadiran bayi. "Pa! Tumben Papa ke sini!" Nathan masuk ke ruang tengah, kali ini ia di dorong oleh Pak Shodiq di belakangnya. Setumpuk dokumen dengan map berwarna-warni berada di pangkuan Nathan, sepertinya perlu ia pelajari secara pribadi. "Nathan! Kamu sudah pulang. Sepertinya Papa terlalu asik berbincang jadi lupa waktu." Subagio melirim arloji di tangan kiri, menyadari jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. "Papa pulang dulu! Kamu baik-baik, ya, sama Qiandra!" Dengan kalimat itu, Qiandra ditinggalkan begitu saja oleh mertuanya di ruang duduk bersama Nathan. "Hati-hati!" Hanya inilah tanggapan Nathan, sama sekali tak menoleh ke belakang, atau pun mengantarkan kepergian Papa ke ruang depan. Sepertinya hubungan antara ayah-anak mereka cukup kaku dan tidak dekat satu sama lain. "Berapa lama Papa ada di sini?" tanya Nathan tiba-tiba. Qiandra mengerutkan kening, kemudian menjawab pertanyaan Nathan dengan datar. "Sekitar dua setengah jam!" Dua setengah jam? Jari-hari Nathan menekan map di tangannya, tampak kaku dan tegang. Selama itu Papa di sini? "Apa aja yang dia lakukan?" tanya Nathan lagi. "Membicarakan masalah cucu. Nathan, kita sama-sama tau gue belum siap melangkah sampai ke sana. Jika loe menginginkan anak, ada baiknya loe cari rahim lain yang bersedia menampung benih loe dan membesarkannya sebagai janin. Kita bisa mengakuinya sebagai anak setelah bayi itu dilahirkan!" Mengingat betapa kerasnya Subagio menginginkan anak, Qiandra khawatir Papa akab terus merongrong hidupnya selama Qiandra belum memiliki keturunan. "Sejauh itu loe memikirkan tentang anak?" Nathan mengembuskan napas panjang, menyandarkan tubuh belakangnya dengan lelah ke kursi roda. Anak. Sialan. Siapa di sini yang mencoba menantang garis bawahnya? Qiandra atau Papa? "Papa terlalu terobsesi memiliki cucu!" Hanya inilah penjelasan singkat yang mampu Qiandra berikan padanya. "Dia yang terlalu terobsesi, bukan gue!" Nathan terdengar penuh sarkasme. "Lain kali dia datang, loe nggak boleh terlalu lama berbincang sama mbokap!" Apakah ini … pembatasan lagi? Qiandra terlihat shock. "Loe menyuruh gue untuk mengambil jarak sama mertua gue sendiri?" "Ya. Itulah yang gue inginkan. Nggak pantes wanita yang sudah menikah berbincang dengan laki-laki lain dengan akrab di rumahnya sendiri." "Laki-laki lain itu mbokap loe sendiri, Nathan. Laki-laki yang menjadi ayah biologis loe sendiri!" "Penyelewengan bisa saja terjadi terlepas dari status dan tempat!" Saat Nathan kemarin mencurigai hubungan Qiandra dengan Johan, meskipun itu berlebihan, tapi masih sedikit bisa dimengerti. Kali ini, objek kecemburuan adalah ayah Nathan sendiri. Bagaimana Qiandra bisa membalas kata-kata Nathan? Siapa sebenarnya di sini yang mengalami cacat mental dini? "Gila! Loe bener-bener gilà! Bapak loe sendiri loe curigai? Gue nggak tau lagi gimana syaraf otak loe mengalami degradasi!" Qiandra setengah berteriak. "Gue berhak menyatakan sikap, Qian! Percakapan yang terlalu dalam dengan durasi waktu panjang adalah sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang istri. Apa loe paham itu!" "Nggak! Gue nggak paham dengan pola pikir loe yang aneh itu! Nathan, Pak Subagio adalah Papa loe sendiri. Loe pikir, pembicaraan kami akan seperti apa? Dan loe pikir, moral gue serendah apa sampai hal-hal sedeehana ini dicurugai negatif di mata loe?" "Jangan terlalu banyak membantah, Qian. Pokoknya mulai sekarang, loe nggak boleh bercakap-cakap seperti itu lagi sama mbokap, kalau nggak, gue mungkin lepas kendali!" Qiandra tak membalas kalimat peringatan Nathan. Dia meraih cangkir di atas meja, membawanya ke dapur untuk dicuci. Nathan bahkan bisa curiga dengan ayah kandungnya sendiri. Qiandra merasa tak berdaya dalam sekejap. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN