"Besok lagi kalau Papa ke sini, akan lebih baik bagi loe untuk menolak. Jangan temui dia sendiri!"
Qiandra terpana, semakin tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Apa-apaan ini.
Nathan bahkan membatasi Qiandra sejauh ini. Bukan hanya Johan, tapi bahkan papanya sendiri. IQ seperti apa yang Nathan kembangkan akhir-akhir ini?
Qiandra pikir Nathan hanya lumpuh. Sepertinya dia salah. Mungkin kecelakaan itu benar-benar mempengaruhi otak belakangnya.
"Gue capek!" Qiandra meninggalkan Nathan seorang diri, berjalan cepat ke kamar untuk beristirahat.
Sepeninggal Qiandra, Nathan duduk termenung di ruang tengah. Pak Shodik yang ada di belakangnya, dibiarkan pergi ke ruang belakang.
Pernikahan ini, mulai menunjukkan pasang surut. Dan Qiandra, sikapnya tak bisa dikendalikan.
Senyum miris tampak terbentuk di bibir Qiandra, menertawakan diri sendiri. Wanita itu tak tahu. Dan tak pernah ingin tahu. Bagaimana hati Nathan terpaut padanya, mengalam ketakutan tanpa akhir akan kehilangan, mengalami krisis tak berujung akan pengabaian. Sayangnya, Qiandra tak pernah sadar.
Di mata Qiandra, kecemburuan Nathan tak masuk akal. Mengada-ada. Abnormal. Dan dinilai sebagai pembatasan. Namun, hanya Nathan yang tahu rasa pedih apa yang ia miliki. Melihat istrinya sendiri mampu tersenyum pada orang lain sementara pada suaminya sendiri tak pernah tersenyum. Tertawa pada orang lain sementara pada suaminya sendiri tak pernah tertawa. Bercanda pada orang lain sementara pada suaminya sendiri tak pernah bercanda.
Nathan tahu dia tak memiliki posisi khusus di hati Qiandra, tapi tak bisakah ia menerima apa yang Qiandra berikan pada yang lain? Canda … senyum … tawa … dan kebahagiaan.
Di dalam kamar, Qiandra melempar kotak beludru beris cincin bertahtakan zamrud di dalam laci lemari paling bawah. Hadiah ini hanya materi. Tak ada nilai emosional sama sekali. Tak ada nilai perasaan di dalamnya. Hadiah seperti itu, berapa pun mahal harganya, hanya sebatas materi dengan nominal tertentu.
Qiandra enggan menerimanya. Dia ingin mengembalikan ke Nathan, tapi pasti nanti akan terjadi perdebatan lagi. Lebih baik begini. Letakkan saja di tempat yang paling tak mencolok, biarkan benda itu bersembunyi dalam kegelapan. Anggap saja hadiah itu tak ada. Tak pernah ada.
Malam ini, untuk kedua kalinya, baik Nathan dan Qiandra, sama-sama tak makan malam. Bi Umi yang menatap sajian di atas meja, menggelengkan kepalanya dengan murung.
Ah. Lagi-lagi pertengkaran suami istri. Masakan Bi Umi menjadi korban.
…
Leslie duduk di teras rumah Nathan, menatap lelaki di sisinya yang tampak kusut dan berantakan.
Nathan yang biasanya rapi dan tergila-gila dengan kebersihan, kini tampak berantakan, masih mengenakan setelan kerja gelapnya yang kusut di sana-sini. Matanya yang biasanya menyorot tajam dan tegas, kini terlihat kuyu dan lemah.
Malam semakin larut, gerimis datang melembabkan jalanan di sekitar kompleks cluster. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan, bulan enggan memunculkan diri. Hanya langit ke abu-abuan yang terlihat mendominasi malam ini. Awan gelap menggantung berat, tampaknya gerimis yang turun akan disusul hujan lebat.
Musim penghujan tahun ini cukup lama, enggan pergi meskipun seharusnya bulan ini memasuki masa kemarau. Udara yang seharusnya panas, masih terasa lembab dengan aroma hujan yang masih sering turun sewaktu-waktu.
"Gue denger dari Bi Umi dua malam ini loe ribut sama Qiandra!" Dengan sebatang rokok di tangan, Leslie mengisap nikotin, membiarkan asapnya terbang ke dalam malam, menghilang bersama gerimis. Lampu-lampu di teras tampak remang-remang, cahayanya membuat orang yang berada di sekitar memiliki siluet.
"Ini urusan rumah tangga gue!" Nathan tak tertarik untuk membicarakan urusan rupmah tangga dengan orang lain, terutama Leslie.
Leslie adalah waniya yang tumbu dengan mewarisi karakter Tante Ella. Dia acuh tak acuh dan sedikit dingin. Di beberapa keadaan yang ia pedulikan, Leslie sering kali bersikap blak-blakan dan terbuka, melolosi batasan-batasannya sebagai perempuan.
Dalam keadaan normal, Leslie adalah wanita yant cukup masuk akal dan mudah dihadapi. Mudah memahami apa yang diinginkan orang-orang di sekitarnya, dan mampu menyaring setiap kemauan mereka. Dengan Leslie, seandainya Nathan bersedia bersama, tak akan ada konflik kecil seperti kecemburuan atau semacamnya. Leslie tak akan membiarkan hal-hal seperti itu terjadi. Sikapnya terhadap orang lain bisa sangat dingin dan cuek. Memberikan pengabaian dan rasa tak tertarik.
Sayangnya, dalam pernikahan, hal-hal tak bisa dipaksakan. Hati yang sudah terlanjur terpaut pada seseorang, mustahil untuk ditarik kembali dan diganti dengan orang lain yang lebih sesuai.
Emosi bukan suatu objek yang bisa ditukar tempat, diganti subjek, maupun dimanipulasi.
Sekali Nathan jatuh cinta pada Qiandra, begitulah nasib perasaannya hingga akhir.
"Udah gue bilang. Hanya gue yang memahami emosi loe dan seluk beluk hidup loe! Masih tetep mempertahankan Qiandra?" Leslie menggoyang-goyangkan kakinya secara periodik, sebagai gerakan bawah sadar yang ia miliki dan telah menjadi kebiasaannya.
"Kita sama-sama orang yang keras kelala. Loe punya feeling sama gue, dan feeling itu menolak menyerah, meskipun situasi gue membuat loe mustahil untul melangkah jauh. Begitu pun dengan gue. Gue punya feeling sama Qiandra. Betapa mustahil pun hubungan ini nanti membaik, gue tetep akan bertahan di sini. Di posisi ini."
Tak terkejut dengan pendapat Nathan, Leslie mengomentari kalimat Nathan dengan decihan kecil. "Ternyata loe seorang masokis!" komentarnya tanpa pikir panjang.
"Nggak berbeda dengan loe!" balas Nathan tak mau kalah.
Bukannya marah, Leslie justru tertawa lepas. Tawa ini diikuti oleh Nathan. Entah kenapa, di sisi Leslie, simpul yang Nathan miliki di hati mampu terurai, membuat hatinya lebih santai dan lebih nyaman.
Mungkin karena Nathan dan Leslie memiliki perasaan yang berat sebelah. Cinta yang sama-sama tak berbalas. Memungkinkan kondisi keduanya berada dalam frekuensi pemahaman yang sama.
"Kita dua orang keras kepala yang selalu menolak untuk menyerah, tetap memilih maju meskipun tau jalan di depan tak mudah, dan mempertahankan cinta yang sama meskipun tau perasaan ini tak dihargai oleh orang yang kita cintai!"
"Oh ya? Apa semengerikan itu deskripsi emosi yang gue miliki di depan loe?' Nathan mencoba membuat lelucon.
"Mungkin lebih parah. Gue cinta sama loe, seseorang yang nggak mungkin gue sentuh dalam hidup gue. Dan loe cinta sama Qiandra, wanita keras kepala yang mungkin tak akan pernah tau apa itu cinta. Nasib kita sama, Nathan!"
"Kalau begitu, mari kita bersulang!" Nathan mengambil cangkir kopi yang ada di atas meja dekat mereka, membuat gerakan di udara dan meminum cairan kental itu dengan kecepatan tinggi.
"Malam ini indah!" Leslie menatap langit malam yang masih kelam, tanpa sedikit pun bintang.
"Ya. Indah!" Nathan menatap satu demi satu partikel gerimis yang kini telah berubah menjadi hujan. Kilat terdengar sesekali menyambar, menyempurnakan malam ini.
…