Cemburu

1209 Kata
Segelas lemon tea diangsurkan pada Qiandra, yang kini sedang menikmati program pagi di salah satu stasiun TV. Melihat lengan Nathan, Qiandra tercengang untuk sesaat. Semalam mereka memiliki kondisi yang kurang harmonis. Mungkinkah ini sebagai bentuk perdamaian? "Berapa kali gue bilang? Kopi nggak baik buat kesehatan jika dikonsumsi sebelum sarapan!" Nathan meraih cangkir di atas meja, menyingkirkannya ke dapur. Sikap Nathan tidak lagi sekeras tadi malam. Dia tampak santai dan kembali bersikap lembut seperti biasanya. Qiandra mengembuskan napas lega, diam-diam bersyukur atas suasana hati Nathan yang membaik. Qiandra bersandar di sandaran sofa, meniup lemon tea yang Nathan sajikan dengan hati-hati. Manisnya sesuai selera Qiandra, dan campuran lemonnya tak terlalu banyak. Tampaknya Nathan terbiasa menakar gula dengan standar yang Qiandra terapkan. Hari ini seharusnya Qiandra libur. Tapi berhubung Wawan memiliki kepentingan keluarga, hari libur Qiandra ditukar olehnya. Hal seperti ini sering terjadi. Jatah libur setiap orang yang bekerja di Q&Q adalah empat hari. Sistemnya acak, sehingga bisa diambil satu kali dalam satu minggu selain hari Sabtu dan Minggu. Hanya saja, terkadang ada beberapa kepentingan dari karyawan yang menuntutnya mengambil libur di luar jadwal, sehingga mereka saling menukarnya dengan yang lain. "Libur kan hari ini?" Nathan bertanya, meluncurkan kursi rodanya ke ruang tengah dari dapur dengan kecepatan sedang. "Nggak jadi. Liburnya ditukar hari Kamis besok!" Qiandra menjelaskan dengan singkat. "Kalau gitu, ayo sarapan. Biar berangkatnya bisa lebih pagi!" … Qiandra duduk di dapur, menikmati es jeruk yang dia buat sendiri bersama Elli. Kebetulan hari ini pelanggàn tak seramai biasanya. Qiandra bisa sedikit lebih santai dan tak terlalu lelah. "Woi. Ngelamun aja loe!" Dikejutkan oleh Feli, Qiandra dan Eli menoleh bersamaan. "Loe hari ini kayaknya lagi kurang fokus, Qi. Ada apa?" Feli melihat ekspresi Qiandra yang kusut. Elli, yang duduk di sisinya, ikut mengangguk, membenarkan kata-kata Feli. "Bad mood gue. Laki gue ternyata curigaan!" Qiandra teringat akan kejadian pagi tadi. Seperti biasanya, Qiandra diantar oleh Nathan. Saat ia turun dari mobil, kebetulan dia tidak hati-hati dan hampir jatuh ke selokan di depan rumah makan. Kebetulan, Johan yang baru saja keluar dari area parkir karyawan, melihat kejadian ini dan menarik Qiandra di waktu yang tepat. Hasilnya, Nathan menatap Johan dengan sorot membunuh. Asli. Itu adalah adegan yang Qiandra sendiri bingung harus mendeskripsikannya seperti apa. Jika mata bisa membunuh, Qiandra yakin Johan sudah mati di tempat saat itu juga. Meskipun Nathan tak mengucapkan satu kata pun, tapi situasi di antara mereka jelas menjadi canggung. Qiandra masuk ke rumah makan beriringan dengan Johan, menyadari dengan jelas pandangan Nathan mengikuti punggungnya hingga dia berbelok ke sudut yang tak terlihat. Johan tidak berkomentar apa-apa. Namun, Qiandra bisa mersakan sikap temannya itu jadi sangat canggung. Senyum dan caranya bercanda jadi ekstra hati-hati. Menyadari perubahan ini, Qiandra jadi tak enak hati sendiri. "Curigaan gimana maksudnya?" Feli mengambil kursi rotan di dekatnya, menyeretnya dengan asal, dan duduk di sisi Qiandra. "Lusa gue ngobrol sama Johan, kebetulan Nathan melihatnya, dia curiga gue selingkuh. Semalam, mertua laki gue datang, dia bilang seharusnya gue nggak terima kunjungannya, dan pagi ini … Si Johan bantuin gue pegangin waktu gue mau jatuh. Itu tatapan Nathan serasa membunuh Johan di tempat. Seolah-olah Johan telah melanggar wilayah kekuasannya!" Qiandra menggosok hidungnya beberapa kali hingga memerah, menunjukkan ketidaknyamana. "Menurut kalian, ini normal nggak sih?" Qiandra menatap Feli dan Elli bergantian. Wajah kedua temannya tercengang, masih shock dengan infirmasi yang Qiandra berikan. "Loe udah jelasin ke Nathan, di antara Johan dan loe nggak ada apa-apa?" Felli bertanya. "Mungkin cara loe ngobrol sama Johan mencurigakan?" Elli kali ini bertanya. "Nah itu dia. Kali aja loe cipika cipiki, cium tangan kanan, cium tangan kiri!" Feli menambahkan. "Atau mungkin adegannya ambigu! Pelukan, desah-desah nggak pada tempatnya?" "Atau bisa jadi loe—" "Bisa nggak kalian lebih masuk akal? Kalau nebak, seenggaknya pakai sedikit IQ yang tersisa!" Qiandra menghentikan tebakan kedua temannya yang semakin kacau. "Yah, ini sekadar bertanya. Jangan terlalu diambil hati!" Eli menepuk bahu Qiandra, mencoba membujuk Qiandra agar tidak kesal. "Iya, ini cuma evaluasi. Siapa tau loe khilaf nggak sadar tempat. Ya … ini siapa tau, kan!" Feli membela diri. "Khilaf nggak tau tempat? Siapa terakhir yang katanya pacaran di gudang belakang dengan Kristian dan ketauan Bang Andi?" Qiandra menatap Feli yang langsung membulatkan bola matanya, wajahnya memerah semerah tomat. "Hei. Itu masa lalu, oke?" Feli jadi malu sendiri. "Loe sih. Lagian pacaran di jam kerja, mana pelanggàn lagi banyak-banyaknya. Banyak yang mau bayar, eeeeehhh … kasirnya malah pacaran, ngumpet di gudang belakang!" Eli memukul lengan Feli, menatap temannya tak berdaya. Apa wanita satu ini sudah bosan kerja dan ingin di-PHK? Bisa-bisanya melakukan kenakalan seperti itu. "Iya. Memang parah tu Si Feli. Mana dia pacarannya sama sesama karyawan!" Qiandra kembali mengangkat topik yang beberapa waktu viral di rumah makan ini. "Sebetulnya gue baru pertama kali lakuin itu. Sebelumnya, gue sama Kristian waktu itu berantem seminggu, diem-dieman gara-gara salah paham. Nah hari itu kita damai. Wajar kan kalau mencaru tempat untuk mencari prifasi!" Feli mencari pembenaran. Sebelum topik sepenuhnya membahas tentang hal-hal buruk Feli, Feli mengembalikan lagi topik semula pada Qiandra. "Laki-laki, termasuk Kristian, rata-rata gampang cemburu. Ada yang nggak mudah cemburu, tapi persentasenya mungkin hanya sekian persen. Nathan bisa jadi termasuk yang mudah cemburu!" Feli menjelaskan panjang lebar. "Tapi separah-parahnya cemburu, kalau sampai dia juga membatasi istri sendiri buat berkomunikasi sama mertua, itu masuk abnormal. Iya nggak sih? Mungkin Nathan mengidap sindrom Othello? Semacam kecemburuan patologis yang agresif, mudah tersinggung, dan mempengaruhi kondisi mental!" Elli yang suka up to date dalam berbagai informasi, menyatakan pandangannya. "Kecemburuan seperti itu emang bener-bener ada. Jadi semacam kecemburuan gilà gitu. Itu seharusnya masuk dalam ranah psikiater. Kecemburuan patologis itu biasanya rentan melakukan pembunuhan dan bunuh diri!" Tak bisa berkata-kata, Qiandra hanya terbengong m endengar penjelasan Elli. Sumpah, ini orang bukannya menenangkan, malah memberikan penjelasan yang menakutkan. "Sindrom Othello ini biasanya mengumpulkan bukti basis kejadian secara acak. Merekam percakapan, menscreen shoot chat media sosial, menjadikan tata letak barang-barang rumah tangga sebagai bukti dukungan kecurigaan mereka. Terus—" "Stop, El! Stop!" Qiandra menatap Feli yang menunjukkan ekspresi bingung seperti dirinya, dan saling mengedipkan mata, membentuk komunikasi tanpa suara. "Ada pelanggan yang mau bayar. Gue ke depan dulu!" Feli ngacir dalam hitungan detik. "Ada pelanggàn yang baru aja dateng. Gue kasih menu dulu!" Qiandra menyusul Feli, meninggalkan Elli seorang diri. "Lain kali loe curhat masalah apa pun, jangan di depan Elli. Alih-alih loe dapat solusi, masalah loe malah makin runyam!" Feli membisikkan sesuatu di telinga Qiandra. "Iyakah?" "Iya. Loe tau nggak waktu gue cerita masalah dadà gue nyeri. Nyeri karena kebentur ujung meja waktu kita bersih-bersih habis lebaran. Si Elli nyeramahin gue tanda-tanda tumor dan kanker, komplit sampai gejala demi gejalanya. Gilà! Itu dari benturan sederhana, larinya ke tumor dan kanker yang bikin gue nggak doyan makan dua hari dua malam. Kapok gue cerita sama Elli lagi!" "Hebat juga pengetahuannya!" "Si Elli macem ensiklopedia berjalan, tapi IQ-nya sering kali nggak beres!" "Kenapa dia nggak jadi guru aja?" "Pernah kan dia jadi guru honorer! Tapi nggak lama. Katanya dia nggak betah ngajar. Tertekan ngajarin anak-anak yang kepribadiannya liar!" "Beruntung muridnya bukan loe! Gue yakin kalau Elli punya murid seperti loe, dia sekarang udah menderita cacat mental!" Qiandra berkomentar. "Yang ada juga gue yang cacat mental punya guru seprekfesionis dia!" …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN