Keposesifan

1238 Kata
Tiga bulan berlalu tanpa terasa. Hari-hari Qiandra tak banyak berubah. Rutinitasnya juga masih sama. Hubungannya dengan Nathan masih saa seperti semula, tak mengalami perkembanhan, juga tak mengalami kemunduran. Stagnan. Seolah-olah ada batas tak kasat mata yang mengontrol hubungan mereka untuk tetap pada frekuensi yang telah ditentukan. Jika ada riak dalam hubungan mereka, itu adalah rasa posesif Nathan yang mulai tampak dan tidak lagi disembunyikan. Keposesifan Nathan bukan sesuatu yang bisa Qiandra anggap enteng. Sering kali Nathan curiga pada sesuatu yang Qiandra anggap sepele. Berbincang dengan rekan kerja, tertawa dengan orang lain, berinteraksi dengan mertua sendiri, dan yang paling parah, setiap kali Qiandra keluar dengan teman kerjanya, Nathan seperti induk ayam yang kehilangan anaknya. Komunikasi Q iandra tak boleh terputus sama sekali, apa pun yang terjadi. Bahkan, beberapa kali Nathan memaksa datang menjemput Qiandra saat Qiandra sedang asik-asiknya keluar bersama teman-teman. "Gilà! Suami loe posesifnya minta ampun!" Wawan geleng-geleng kepala, melihat Qiandra pulang lebih dulu saat semua karyawan Q&Q mengadakan acara makan bersama di rumah Bang Andi untuk anniversary Q&Q yang ke-9. Qiandra yang melihat tatapan simpati teman-temannya, tersenyum minta maaf. "Atau kamu undang aja suamimu ke sini! Kita makan bareng!" Bang Andi yang menyadari kecanggungan Qiandra, mencoba meemberikan solusi baru. Mengundang Nathan ke sini dan membiarkan dia makan bersama? Apakah ini tetap akan menjadi makan malam bersama alih-alih tempat berseteru yang penuh ranjau? Dengan kepribadian Nathan, jika dia disatukan dengan teman-teman Qiandra, Qiandra yakin malam ini akan menjadi malam kekacauan. "Udah malam. Aku balik aja, Bang!" Qiandra menolak tawaran Bang Andi dengan sopan. "Beneran mau pulang? Nggak pulang nanti aja bareng-bareng sama yang lain?" "Nggak. Aku balik sekarang!" Semua orang menatap Qiandra penuh simpati. Terutama Feli. Dia yang sudah beberapa kali menjalin hubungan, belum pernah menemui orang yang posesifnya mampu menyamai Nathan. "Sebenarnya … gimana sih situasi pernikahan Qiandra?" tanya Wawan, mau tak mau jadi penasaran. "Nggak terlalu jelas juga gue!" Feli menjawab, menopang dagunya dengan wajah yang sedikit tertekan. "Tapi kayaknya pernikahannya nggak terlalu baik. Suami mana yang bisa baik jika kepercayaannya pada istri aja serendah itu?" Elli yang mendengar opini Feli, mengangguk membenarkan. Qiandra lebih seperti tahanan daripada pasangan. Lama-lama sikap posesif Nathan membatasi Qiandra dalam banyak hal. Sangat berbeda dengan Rifki dulu. "Kadang gue kasihan sama Qian!" Johan teringat bagaimana Nathan menghakimi kedekatannya dengan Qiandra beberapa waktu lalu. "Tau nggak sih sekarang gue udah nggak bisa kontak Qiandra lagi?" "Hah? Kenapa emang?" Kali ini Kristian yang penasaran. "Kontak gue diblokir sama Qiandra!" "Hah? Serius?" Feli memelototkan matanya. "Yang bener?" Wawan hampir tersedak. "Dua rius. Dua minggu ini gue nggak bisa menghubungi Qiandra. Gue pikir kuota gue habis tadinya. Setelah gue isi ulang, tetep nggak bisa. Ternyata emang diblokir!" jelas Johan, merasa dianiaya. "Memangnya loe ngapain sama Qiandra sampai kontak loe diblokir? Mungkin loe chatting yang nggak seharusnya?" Feli menebak. "Atau mungkin loe kirim foto plus plus yang nggak semestinya?" tebak Wawan, yang pada dasarnya hobi mengacaukan suasana. "Atau mungkin loe neror Qiandra dengan cara-cara yang nggak bener?" Kristian menambahi. "Atau mungkin kamu maksa pinjem duit puluhan juta? Ratusan juta? Miliaran?" Bang Andi ikutan menebak. Johan yang merasa disudutkan, memandang semua teman-temannya di meja makan dengan tatapan mengenaskan. Seolah-olah dia pengungsi Syuriah yang terdampar dan butuh suaka. "Chat normal, nggak pernah aneh-aneh. Cuma waktu itu kebetulan gue call Qian buat nanyain pindah libur. Yang angkat Si Nathan. Terus …." "Terus?" "Terus?" "Terus?" Feli, Wawan, dan Kristian bertanya serempak. Bang Andi juga terlihat penasaran. Lelaki tiga puluhan tahun yang mengelola rumah makan Q&Q yang biasanya tak mudah kepo, kali ini tak bisa menahan rasa ingin tahu. "Terus Nathan mutusin panggilan. Dia bilang Qiandra sibuk, nggak ada waktu untuk mengurusi hal-hal yang nggak penting. Sepuluh hari setelah itu, gue baru sadar kontak gue diblokir." "Dan loe baru sadar selama itu?" Entah Feli harus kagum dengan ketidakpekaan Johan, atau harus kasihan padanya. "Ya. Hehe!" Johan cengengesan, berhasil mendapat tatapan empati dari Bang Andi. Saat teman-teman Nathan membicarakan tentang Qiandra dan Nathan, objek yang mereka bicarakan tengah duduk di dalam mobil, meluncur menuju kediaman mereka dengan kecepatan di atas rata-rata. Pak Shodiq, memutar mp3 player, memperdengarkan lagu dangdut. Nathan dan Qiandra yang duduk di jok belakang, sudah terbiasa dengan kebiasaan Pak Shodiq dan memilih untuk tidak mengomentarinya. Jika bukan dangdut, pasti india. Dua genre musik itu yang paling Pak Shodiq minati. "Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Acara-acara nggak penting seperti itu terlalu membuang waktu!" Nathan mengingatkan. Malam ini lelaki itu mengenakan kemeja bergaris-garis, dipadukan dengan celana kain warna khakhi muda. "Ya!" Terlalu banyak berdebat. Terlalu sering berkonfrontasi. Terlalu mudah berseteru. Perdebatan mereka selalu berputar-putar pada kehendak Nathan yang ingin mendominasi Qiandra, dan perlawanan Qiandra menolak batas-batas yang coba Nathan terapkan. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Harus begini, harus begitu. Lebih baik begini, lebih baik begitu. Qiandra jenuh dengan situasi ini. Setelah melalui banyak konfrontasi yang sama berulang kali dan pembelaan diri yang tak berefek, Qiandra memutuskan untuk mengalah, mengangguk, dan menyetujui setiap kali Nathan berpendapat. Ini adalah solusi yang paling praktis dan ringkas. "Kalau ingin makan malam, kita bisa melakukan reservasi ke restoran yang loe inginkan!" Nathan melirik ke arah istrinya, menyadari wanita itu tengah asik mengoperasikan ponsel miliknya. "Ya." Lagi-lagi, Qiandra mencari jawaban yang praktis. Perdebatan tak lagi memiliki daya tarik selama itu terjadi dengan Nathan. Kita hanya seperti menabrak batu yang menjulang tinggi dan sulit ditaklukkan. Qiandra menatap sebuah kontak dengan nama Johan. Dua hari yang lalu, Qiandra sudah membuka blokir, sekarang nama ini memenuhi daftar blokir lagi. Pelakunya? Jangan tanyakan siapa. Dia sedang duduk manis di sisi Qiandra. Ponsel Qiandra tadinya berpola, tetapi Nathan selalu menyuruhnya untuk menghapus pola. Setiap kali Qiandra menolak, Nathan akan selalu membuat keengganan Qiandra sebagai petunjuk akan penyelewengan Qiandra. Lelah dengan tuduhan-tuduhan ini, akhirnya Qiandra hanya bisa menyerah dan mengikuti kemauan Nathan. Mungkinkah benar apa kata Elli? Perilaku Nathan menunjukkan sindrom Othello? Perlukah Qiandra menyarankan Nathan untuk menemui psikiter? "Jangan pernah berpikir untuk menbuka blokir kontak Johan!" Melihat Qiandra menatap ponselnya lama, Nathan beranggapan istrinya berniat untuk membuka daftar blokir kontak Johan. Nathan tak terlalu senang memikirkan hal ini. "Johan cuma temen gue!" Qiandra mulai kesal. "Semua hal bermula dari teman. Siapa yang akan tau ke mana arah pertemanan berkembang?" Nathan menjawab protes Qiandra dengan nada yang sengit. Teman? Bah. Jangan harap Nathan percaya. "Sikap loe benar-benar …." Qiandra kehabisan kata-kata untuk menjabarkan apa yang ada di kepalanya. Satu-satunya istilah yang ia miliki adalah "sindrom othello", tapi bisakah dia mengatakannya dengan santai? Qiandra bahkan tak bisa melakukan delusi setinggi itu. "Apa?" Nathan menaikkan satu alisnya, menunggu Qiandra melanjutkan. "Nggak apa-apa. Lupakan!" Lagi-lagi, Qiandra lebih suka perdamaian, meskipun palsu. "Jadilah istri yang baik. Tuntutan gue sebenarnya nggak banyak. Jangan pernah tertawa pada orang lain, jangan pernah tersenyum pada orang lain, jangan pernah bahagia untuk orang lain. Tetaplah di sisi gue, jadi satu-satunya. Menjadi hiasan bagi mata gue, menjadi telinga bagi setiap keluhan gue, menjadi semua yang gue butuhkan. Bahkan jika perlu, gantikan oksigen dalam setiap napas gue!" Suasana hening. Bahkan Pak Shodiq yang sebelumnya asik menikmati dangdut, berubah canggung dalam sekejap. Suara Nathan mengalahkan musik, sehingga Pak Shodiq yang memiliki pendengaran baik, mau tak mau terpaksa mendengarkan kata demi kata yang Nathan ucapkan. Sementara Qiandra, memilih diam demi kebaikannya sendiri. Malam ini Nathan terlalu delusional. Apa yang bisa Qiandra katakan sebagai respon? Sebenarnya Nathan membutuhkan istri … atau … baby sitter penuh waktu? …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN