"Qian! Ada yang nungguin loe di depan!" Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, saat Kristian menepuk bahu Qiandra, memberikan informasi. "Nathan?" Qiandra menebak, mengingat biasanya laki-laki itu akan menjemputnya lebih awal jika dia kebetulan tidak lembiur. Namun, akhir-akhir ini Nathan sering lembur, menyelesaikan banyak proyek katanya. Mungkinkah laki-laki itu memiliki waktu lebih santai hari ini? "Tebak!" Bukannya menjawab, Kristian malah terlihat menggoda Qiandra. "Nathan pastilah. Siapa lagi!" Qiandra memukul main-main bahu Kristian. "Rifki!" "Oh Rifki. Eh … siapa? Rifki?" Qiandra yang sedang berjalam menuju tempat loker karyawan, berhenti mendadak. Tuhan … ini benar-benar bukan halusinasi, 'kan? "Iya, Rifki. Dia nungguin loe di parkiran sebelah timur!" Tak tahu harus

