Bu Mega dan Pak Subagio duduk di ruang tamu kecil berukuran empat kali lima meter, duduk di kursi anyam berukir. Di depan mereka, duduk wanita berusia lima puluhan dengan wajah lembut, kelopak matanya berkeriput karena usia, tetapi sorot matanya menyiratkan kehangatan. "Silakan diminum, Bu, Pak!" Bu Yani, Ibu Qiandra, menunjuk teh panas yang baru saja ia sajikan untuk mereka. Bu Mega, dengan dress hitamnya yang selutut, mengambil cangkir dengan anggun, kelopak matanya bergetar sedikit sebelum akhirnya menyesap teh dalam genggamannya. Kuku-kukunya yang berwarna maroon bersentuhan dengan cangkir keramik, menghasilkan guratan ringan. Bu Yani adalah orang yang sopan. Dia tahu dengan baik bagaiman status keluarga Rajendra dan betapa besar jarak antara keluarga mereka dengan keluarganya. J

