Mataku tertunduk menatap tangan yang berdarah itu, apa yang dia lakukan? Kenapa dia memukul pohon itu? Apa ada masalah? Aku berjalan memasuki lorong menuju kamarku. Kujatuhkan tubuhku diatas ranjang, menatap nanar kearah lampu kamar yang aku nyalakan. Mati. Hidup. Mati. Hidup. Suara-suara itu mendera indera pendengaranku, membuat aku tersentak entah oleh apa. Aku terbangun menatap seluruh ruangan. Tanganku menggigil. Bayangan kematian itu memang nyata, aku pernah merasakannya. Mengakhiri nyawa orang lain itu juga memang nyata, aku pernah menghadapinya. Akulah si pembunuh itu. Akulah sang pencabut nyawa. Akulah tersangka di balik korban. Aku masih ingat bagaimana aku menancapkan pisau kearah jantung orang itu. Aku juga masih ingat bagaimana orang itu terjatuh kearahku dengan darah ya

