Mata coklat terang itu terlihat berkaca-kaca penuh ironi. Ayahnya terluka? Rasanya bagai godam di pukul ke dadanya mendengar kabar tak mengenakkan. Apalagi baru tadi pagi dia bertengkar dengan sang Papa hanya karena dia tak mau mengambil jurusan yang Papanya inginkan untuknya. Ini adalah balasan untuk pembangkangan yang telah ia perbuat pada sosok panutannya. "Apa ayah baik-baik saja Om, kepala nya tak apa kan?" Lagi pertanyaan itu yang ia suarakan. Melihat pria yang menyampaikan kabar buruk itu masih terus terdiam di balik setir kemudinya. "Kurasa tak akan terjadi masalah besar padanya." Dea terdiam. Nada dingin yang di suarakan si pria tak cukup membuat dia curiga. Rasa takutnya terlalu besar hingga kecurigaan itu lenyap dari dirinya. Dea terus meremas jemarinya, merasakan keringat d

