Chapter 7

1348 Kata
"Kamu sungguh-sungguh ingin kembali kesana?" Aku menoleh saat sabuk pengaman sudah ku lepaskan. Kulihat Adam tengah menatapku dengan tatapan khawatirnya. "Apapun yang terjadi aku memang harus kembali, entah dengan cara apapun aku ingin mengetahui dimana Mamaku di makamkan. Papa juga harus tahu karena bagaimana juga dia berhak atas wanita yang cukup berpengaruh di hatinya." "Aku bukan ingin membuatmu takut atau apa, tapi Lucas bukanlah orang yang suka di tentang. Bahkan walau itu Andre sekalipun Lucas tak akan meringankan hukumannya." Ya. Bagaimanapun aku sudah membuat Lucas marah tapi tak apa. Sebesar apapun konsekuensinya aku tetap tak akan mundur. "Terimakasih Dam. Sudah mau mengambil resiko besar dengan datang mengeluarkan aku dari penjara tanpa jeruji ini, tapi aku memang harus kembali." Kuberikan ia senyum terbaik yang kumiliki. Nyatanya aku memang takut bahkan tubuhku seolah gemetar tapi hatiku bekerja lebih keras dari seluruh tubuhku yang lain. Adam menghembuskan nafas. Terlihat pasrah. "Hubungi aku kalau kamu butuh apapun." Aku mengangguk. Langsung turun dari mobil tanpa mau berbalik lagi aku memacu langkah kakiku. Aku takut kalau aku bersama Adam lebih lama lagi, aku akan goyah dan meminta ia membawaku kabur untuk selamanya. Gerbang tinggi dengan ukiran unik itu sudah terlihat, seolah gerbang itu adalah vonis mati untukku. Langkahku semakin mendekat, dengan rok hitam selututku yang berkibar tertiup angin, semakin membuat aku menggigil. Bahkan malam pun ikut berpartisipasi membuatku gemetar. Apa yang akan ku temukan di dalam sana? Aku merapikan bajuku yang terlihat acak-acakan dan mataku Kurasa masih sembab, bahkan sekarang aku rasanya ingin menangis saja. Aku sampai di depan gerbang, seseorang yang ada di balik pintu gerbang menatap tak percaya kearahku. Ada rasa lega di matanya tapi juga rasa takut yang tak di buat-buat. "Nona." Ucap pria yang cukup tinggi dengan kumis hitamnya. Dia membuka gerbang dan langsung menuntunku masuk. "Semua mencari Anda tapi anda tidak bisa di temukan. Anda harus cepat masuk, Jev di siksa di dalam." Aku menatapnya aneh. Apa aku tak salah dengar? "Apa yang terjadi pada Jev?" Tanyaku terasa tak asing buatku nama itu. "Ceritanya panjang Nona, masuklah Nona." Aku mengangguk tak ingin membantah. Kurasa aku harus menyelamatkan siapapun itu. Aku meninggalkan si penjaga gerbang yang terlihat sangat bersyukur akan kedatanganku. Kurasa Jev cukup penting buat mereka. Halaman yang luas dengan jalan setapak di pinggirnya itu berhasil aku lewati dan pilar-pilar panjang sudah terlihat oleh mataku. Aku terdiam cukup ragu untuk kembali melangkah. Tapi keraguan itu hilang saat sosok yang ku kenali melihatku dari jauh. Andre. Dia datang mengahampiriku dengan tampang setengah jengkel tapi tak syukur senyumnya terkembang, membuat aku mengerutkan kening. "Kamu benar-benar ajaib, ayo masuk." Nada datarnya tak bisa menyembunyikan kalau dia cukup tak suka dengan kepergianku. Aku mengikuti Andre masuk, langsung kaget saat kulihat pria seumuran Papa tengah berlutut di tengah ruangan yang luas tersebut. "Maafkan saya tuan, saya pantas mendapatkannya." Pria itu menunduk hingga aku tak bisa melihat wajahnya. Sedangkan Lucas masih berdiri tegap membelakangi aku dan Andre. "Kak dia kembali." Ucap Andre cepat. Aku memegang lengan Andre bersembunyi di balik bahunya, entah bagaimana Lucas sekarang menatapku tapi aku sungguh tak berani melihat tatapan marahnya. Dia sangat menakutkan. "Pergilah." Entah kata itu tertuju untuk siapa tapi Andre masih diam di sana, mungkin menunggu kata-kata kakaknya. "Apa yang membuatmu kembali? Bukankah seharusnya kamu menghilang saja?" Pertanyaan itu entah bagaimana membuat dadaku terasa sakit. Dia tak mengharapkan aku kembalikah? Aku diam tak terlalu ingin menjawab pertanyaan itu. "Tinggalkan dia sendiri." Detik itu juga Andre berlalu entah kemana dan tinggallah aku sendiri di sana yang hanya menunduk tak berani beradu tatap dengan mata sekelam malam itu. Suara langkah kaki itu terdengar seperti musik kematian saja, aku dapat melihat sepatu hitam mengkilat sudah ada dekat kakiku. Aku mundur beberapa langkah hanya untuk di tarik lagi dengan kasar, wajahku berada di depan wajahnya. Tak ada cara mengelak. "Senang mempermainkan aku?" Pertanyaan sedingin es itu membuat aku ingin berlari tapi kakiku seolah terpaku di tempatnya. Hawa dingin merayapi leherku. "Kamu ingin diam saja. Ha?" Aku terkejut mendengar bentakannya itu dan untuk sesaat tubuhku goyah tapi tangannya memegang pinggangku, tangan yang satu lagi menyingkirkan rambutku yang ada di wajahku. Aku masih tak bisa menatapnya. "Aku.." suara ku tercekat di tenggorokan saat bibirnya merangkum bibirku dengan kekasaran yang baru pertama kali kurasakan. "Sakit.." Aku menyuarakan kata itu di dalam mulutnya saat giginya berhasil membuat bibirku berdenyut tak nyaman. Aku ingin menangis tapi airmata tak kunjung mau keluar, Lucas tak berhenti mengulum bibirku walau rasa perih mendera. Ia melepaskan ciuman kasarnya. "Kamu pantas mendapatkannya." Dia menarik tanganku masih dengan kekasaran yang sungguh membuat aku tak dihargai sama sekali. Pintu kamar dibuka, masih di kamar yang sama. Lucas mendorongku masuk hingga aku terhuyung hampir jatuh dengan menyedihkan. Di tutupnya pintu dengan kasar sampai jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Kali ini airmata ku keluar dengan derasnya. Dia berbalik, menatapku seolah aku adalah mangsanya. Aku sudah ada di samping ranjang, kutatap pintu toilet yang terbuka. Ingin saja lari kesana dan kembali saat Lucas sudah cukup baik untuk di ajak bicara tapi langkahku tak sampai kesana karena tangan Lucas sudah lebih dulu mencengkeram bajuku dan naasnya baju itu sobek di area punggungku. Aku menatapnya tak percaya, tapi semua itu tak menyurutkan api kemarahan di matanya. Aku beringsut duduk di ranjang berusaha menyembunyikan ketelanjanganku. Aku sesenggukkan tak tahu harus berucap seperti apa lagi agar dia berhenti. Tangan nya dengan dingin mengangkat daguku, membuat aku bisa melihat mata sekelam malam itu yang kini seolah memilik percikan api di sana. Aku menggeleng penuh permohonan agar dia berhenti. Dia mendekatkan wajahnya, menatap dengan kebuasan yang untuk pertama kalinya aku melihat ada dalam dirinya. "Kamu milikku. Tak akan ada yang mampu mengambilmu karena akan ku bunuh siapapun yang melakukannya." Dia melepaskan daguku dengan kasar dan berlalu meninggalkan aku seorang diri di kamar. Aku berteriak menangis, melampiaskan apapun yang sedang dirasakan hatiku Kutenggelamkan wajahku di bantal, memohon agar kematian menjemputku. Aku menangis sampai aku merasakan kegelapan menyelimutiku. *** Julie masih mengoleskan obat yang entah apa itu ke bibirku, dia masih terus berusaha walau aku menepisnya. Rasanya sangat perih. Aku bangun pagi-pagi hanya untuk mendapati bibirku bengkak dengan luka yang sangat kentara. Beruntunglah Julie masuk kamarku membantuku untuk mengobati lukaku. "Kurasa cukup." Ucapku tak tahan lagi dengan rasa perihnya. "Sedikit lagi Nona." Julie kembali mendaratkan apapun itu ke bibirku, membuat aku kembali meringis. "Apa aku boleh meminta tolong?" Tanyaku pada Julie yang sudah selesai dan mengembalikan obat itu keatas meja. "Asal jangan melanggar perintah Tuan. Tentu Nona boleh meminta tolong." Ya ya ya, aku tahu. Aku memutar mata bosan. "Panggilkan aku Jev, aku harus meminta maaf padanya. Karena ulahku dia kena masalah." Ucapku merasa bersalah. "Maaf Nona. Dia ada di rumah sakit sekarang." Aku melotot tak percaya. Bagaimana bisa ia ada di rumah sakit padahal baru tadi malam aku melihatnya. "Apa yang terjadi padanya?" "Karena tadi malam." Aku memejamkan mata dengan frustasi. Tentu saja Lucas memang menyiksanya tapi separah itukah? "Kapan aku bisa bertemu dengannya?" Tanyaku cepat. "Mungkin beberapa hari lagi, kalau Nona memang ingin bertemu dengannya cobalah bersikap baik karena yang saya dengar dia tak di izin kan berdekatan dengan Nona. Dia masih menjadi tersangka atas pelarian Nona." Aku mengangguk. Berjanji akan bersikap sebaik mungkin agar bisa meminta maaf. "Nona makanlah. Nanti saya akan kembali saat Nona sudah selesai dengan sarapannya." "Terimakasih Julie." Julie keluar dari kamar. Aku menatap sarapan, enggan memasukkan apapun di mulutku apalagi bibirku masih perih saja. Suara pintu di buka membuat aku mendongak. Aku mencibir melihat siapa si pembuka pintu. "Ada yang sedang sarapan cantik nih." Ucapnya menjengkelkan. "Apa yang kamu inginkan, setelah itu cepat keluar." Jawabku dingin dan dia malah terbahak tak tahu malu. "Kamu persis macan betina." Dia berdecak dramatis. Aku melotot kearahnya, dia sarapan pagi yang bagus kayaknya. "Ya dan kamu curut sialan, keluar!" Bentakku tak bisa menahan kesal. "Wow.. Aku takut sekali." Mata hitamnya mendelik menyebalkan. Kulempar dia dengan garpu yang tengah ku pegang, pinggangnya kena. Dia mengaduh entah beneran sakit atau tidak. "Oke oke.. maaf maaf.. Aku kesini atas pesan Mami." Piring yang ingin ku lempar tak jadi mendarat di wajahnya. "Apa kata Tante Delila?" Tanyaku mencoba tak terlihat antusias, rasanya akan menyenangkan keluar dari sini. "Besok kalian harus datang kita akan camping. Dan dengar, jangan membuat masalah di sana." Andre menyilangkan tangan. "Kalau kamu tidak memancing tentu tidak akan ada masalah." Ucapku cepat. "Kamu tahu bukan itu maksudku." Nadanya tajam. "Oke aku mengerti. Sekarang keluarlah." Jawabku sebal. Dan tanpa banyak bicara lagi dia ke luar sebelum lebih dulu tersenyum dan menunjuk bibirku yang terluka dengan matanya. Andre sialan dan menyebalkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN