BAB 12

1509 Kata
Sudah 10 menit terakhir ini Naura selalu melihat ke arah jam. Dua puluh menit lagi waktunya dia pulang, tetapi debaran jantungnya tidak kunjung berhenti. Kali ini bukan karena Raihan, tetapi dengan pacar posesifnya itu. “Ra, kamu jangan pulang dulu, Ade dateng telat soalnya macet,” Naura tersentak ketika mendengar suara Raihann yang membuyarkan lamunannya. “Eh, bang, Naura nebeng bang Rai aja ya pulangnya. Kan udah lama Abang gak nganterin Naura lagi,” pinta Naura memelas. Sudah cukup pagi ini dia sudah diamuk Raihan, rasanya Naura tidak sanggup kalau harus menghadapi satu Hulk lagi. “Kenapa? Biasanya juga ngintilin Ade terus,” sahut Raihan geli, walaupun Naura melihat kilat sedih di mata abangnya itu. “Ya kan Naura kangen sama bang Rai,” sahut Naura polos dan mendapat jitakan pelan di kepalanya yang membuat Naura meringis. “Kali ini gak mempan rayuan kamu. Ade udah pesen kamu disuruh jangan kemana-mana. Kamu disuruh nunggu disini, duduk manis nungguin dia. Lagian mau kabur-kaburan sampek kapan, hmm?” Naura semakin cemberut mendengar ocehan Raihan yang menohok itu, tentu saja Naura memang berniat kabur dari Ade. “Maksud Naura gak gitu kok. .” “Kalo ada masalah diselesain, bukan malah dihindarin kayak gini, semalem itu akibatnya. Malah kabur-kaburan bikin semua orang khawatir,” Naura meringis mengingat tingkahnya semalam dan amukan Raihan tadi pagi. Naura berjanji dalam hati tidak akan bertingkah konyol seperti semalam, dia tidak mau menghadapi Raihan yang emosi seperti tadi. Cukup sekali!!! Batinnya. “Tapi Naura udah lama banget gak jalan-jalan sama bang Rai, yah kali ini aja yah, kita jalan-jalan bang. Naura bosen di rumah. Ya ya ya??” Naura memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. Raihan juga kangen sekali dengan adik kecilnya ini, sudah lama mereka tidak menghabiskan waktunya berdua, terutama sejak Naura menjadi pacar Ade. “Mau kemana lagi, hmmm? Mau kabur kemana lagi?” Suara yang sangat dikenali Naura membuat Naura dan Raihan menoleh dan menatap Ade yang sudah terlebih dahulu menatap Naura dengan tajam. “Ambil barang-barang kamu, ayo pulang,” sahut Ade dingin. Naura memainkan jar-jarinya gelisah, berharap Raihan membawanya kemana saja asalakan tidak menghadapi Ade yang wajahnya tidak bersahabat itu. “Sekarang Ra!!” sentak Ade ketika Naura tidak kunjung beranjak dari tempatya berdiri. Naura tersentak dan buru-buru ke dalam untuk membereskan barang-barangnya. Samar-samar naura mendengar suara tinggi Ade dan Raihan, sepertinya mereka sedang bertengkar. “Ada apa, Ra? Tanya Imel yang melihat ekspresi takut Naura. “Ada Ade di depan. Dia marah besar kayaknya,” “Gara-gara semalem?” “Iyaa,” rengek Naura seakan meminta pertolongan kepada Imelda. “Ra, ayo cepat diberesin barang-barang kamu, Ade udah nunggu di depan.” Rasanya Naura ingin menangis saja. “Yahhhh, abang yang nganterin Naura yaaa??” pinta Naura dengan mata merebak. Melihatt kondisi Naura itu, Raihan sebenarnya tidak tega. Tapi masalah mereka juga harus segera diselesaikan. “Udah Naura tenang aja, Ade gak bakal nyakitin Naura. Seperti yang abang bilang tadi, kalo ada masalah dihadapi ya. Ini kan salah Naura, Naura juga harus berani menghadapi resikonya. Sahut Raihan yang semakin membuat Naura cemberut. Dengan berat hati dan langkah pelan, Naura berjalan ke arah Ade yang sedang duduk membelakanginya. Ade yang mendengar langkah pelan di belakangnya, menoleh ke belakang dan dengan diam membawakan tas Naura lalu berjalan ke arah mobil. Tangan Naura semakin dingin menghadapi Ade yang tidak banyak bicara seperti ini. Suasana di dalam mobil hening, tidak ada satupun yang berbicara, yang terdengar hanya deru mobil. Tangan Naura sudah gatal ingin memencet tombol on radio, tapi dia tidak berani. Alhasil, Naura melihat ke luar jendela, berusaha mengabaikan keheningan di dalam mobil. “Kita mampir ke tempat makan dulu, aku laper.” Naura sedikit tersentak dengan ucapan Ade yang tiba-tiba itu yang disahuti Naura dengan anggukan kecil. Tempat makan yang dimaksud Ade adalah memesan makan melalui drive-thru salah satu gerai fast food yang tidak jauh dari cafe Lotus. Naura sudah gatal ingin memperingati Ade untuk tidak sering-sering memesan makanan fast food. Seingatnya, dua hari lalu, Ade juga memesan makanan fast food ke kantornya, tetapi melihat raut wajahnya yang masih menyeramkan, Naura lebih memilih untuk diam. Tidak ada percakapan apapun antara keduanya yang membuat Naura merasa perjalanan kali ini merupakan yang paling membosankan. Bahkan sampai rumah pun, Ade masih belum mengatakan apa-apa. Naura menyiapkan makanan yang dipesan mereka tadi dan menyiapkan jus apel untuk Ade. “Maaf,” sahut Naura sambil memberikan jus yang sudah Dia siapkan. “Aku mau makan dulu,” seketika membuat Naura diam, dan membiarkan atmosfir rumahnya yang sepi menjadi semakin hening dan menegangkan. Dia juga tidak berselera untuk menyentuh makanan di depannya. “Kenapa gak dimakan?” “Maaf” Lagi-lagi hanya itu yang Naura ucapkan. Urusan perutnya biar dia pikirkan nanti. “Makan dulu,” “Gak laper,” gara-gara muka nyeremin kamu, tambah Naura dalam hati. Dia semakin menundukkan mendengar helaan nafas Ade. “Apa sih yang ada di pikiran kamu tuh, ngilang ga jelas ga ada kabar,” Ini dia investigasinya baru saja dimulai. Batin Naura yang mulai menyiapkan segala jurus untuk merayu dan merengek. “Kan udah ditungguin tapi kamu ga ada kabar, aku takut sendirian kemaren,” lirih Naura dengan suara sedikit bergetar. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat kekasihnya itu. “Kamu kan bisa minta tolong temen kamu itu buat ngabarin Raihan, kenapa coba pake menghilang ga ada kabar kaya gitu,” “Ya abisnya, kan kesel. Ditungguin lama kamunya ga jemput, ditelpon juga ga aktif,” “Hp aku hilang di resto tempat ketemu klien, mangkanya aku langsung ke cafe. Seharian juga sibuk banget ga sempet ngecek Hp. Aku minta maaf karena ga ngabarin kamu dulu, tapi aku ga suka sama cara kamu. Gimana kalo semalem ada apa-apa sama kalian, pulang malem berdua, cewek lagi. Kamu ga mikirin ya gimana khawatirnya aku, atau Raihan?” jelas Ade panjang lebar, suaranya mulai melunak melihat Naura yang hanya diam dan menunduk. “Ya maaf,” isak tangis yang dibenci Ade mulai muncul ke permukaan membuat laki-laki itu mengusap wajahnya frustasi. Dia tidak suka melihat Naura menangis, tapi dia juga tidak mau kejadian semalam terulang dan mungkin menyebabkan Naura dalam bahaya. Ade hanya menggamit tangannya dan mengajak Naura duduk di sofa. Kemudian dia berlutut di depannya dan mengusap air mata di wajah pacar cantiknya. Mendapat perlakuan yang manis, ditambah akumulasi ketakutan dan kelelahannya seharian ini membuat Naura semakin terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kok malah jadi tambah nangis sih, sayang?” Diraihnya Naura dalam pelukan dan mengusap kepala gadis itu sayang. “Oke, udah aku maafin. Tapi jangan ulangi lagi ya. Aku khawatir banget sama kamu dan aku ga suka kamu pulang malem sendirian atau cuma berdua sama temen cewek kamu itu. Kalo Raihan ga bisa anter atau aku lagi sibuk, kamu harus tunggu disana, biar sopir kantor yang jemput. Kamu ngerti?” Naura yang masih terisak hanya menganggukkan kepala dan menenggelamkan diri ke pelukan Ade yang hangat dan nyaman. Ade menghela nafas lelah dan semakin mengeratkan pelukannya. Tidak akan dia lepaskan gadis ini apapun alasannya, bahkan untuk Raihan sekalipun. Entah apakah Naura sudah mencintainya atau tidak, tidak akan dia lepaskan. ~~~ “Kenapa si, muka lo butek banget,” sahut Alyssa yang melihat Naura mengaduk-aduk makanannya sambil melamun. “Ga kenapa-kenapa, Al” “Ga kenapa-kenapa gimana, dartitadi itu nasi lo aduk-aduk, bisa balik jadi beras lagi entar noh,” “Sableng,” Naura terkekeh dan menoyor kepala Alyssa. “Ya lagian, gue udah diliat seisi kantin gara-gara daritadi ngomong sendiri udah kayak orang gila,” ucap Alyssa kesal sambil merapikan rambutnya. “Ya lo kan emang sejenis sama orang gila,” “k*****t lo, Maemunah,” pekikan kesal Alyssa membuat Naura terbahak dan melupakan sedikit kekalutannya. “Pinjem Handphone dong, main game,” sahut Naura setelah tawanya mereda sambil menjulurkan tangan. “Ish elo mah, ditanya serius juga, ujung-ujungnya malah ngabisin batre Hp gue lagi,” dumel Alyssa yang tetap memberikan Hp-nya. “Lama-lama, lo udah mirip sama emak kontrakan gue kalo nagih uang sewa,” “Bodo ah, cantikan gue kemana-mana dibandingin emak lo, udah jutek, pelit, galak lagi,” “Nah iya, sama ama lo,” sahut Naura yang mulai serius dengan game memasak di Hp Alyssa. Alyssa sempat menanyakan kenapa dia tidak mendownload sendiri game itu di Hp nya, Naura hanya bilang dia tidak mau ketagihan bermain game dan melupakan tugas-tugasnya. 'Ya tapi gue yang rugi, batre malah cepet banget abisnya' rutuk Alyssa dalam hati. 'Ting' bunyi dering sms masuk mengagetkan Alyssa dan segera mengambil Hp nya dari Naura. Naura sendiri tau dari siapa sms itu tanpa sengaja sebelum Alyssa merebutnya. Hanya satu kata 'sayang', tapi sms itu cukup mengganggunya. Dia semakin yakin ada hubungan khusus antara Alyssa dan Bang Raihan walaupun Alyssa masih tetap tidak mengakuinya. Sejujurnya, Naura tidak akan pernah marah. Perasaan itu hak setiap orang dan kita tidak bisa mengatur dengan siapa kita akan melabuhkan perasaan itu, baginya Alyssa jauh lebih penting dari perasaannya sendiri, dia hanya bertanya-tanya, sejak kapan hubungan mereka terjalin, dan kenapa Naura melihat ketika mereka bertemu mereka seolah-olah baru mengenal. “Kenapa lo sampe panik gitu si, Al. Emang dari siapa?” tanya Naura sambil lalu. “Bukan siapa-siapa,” sahut Alyssa sambil buru-buru memasukkan Hp nya ke dalam tas. 'lagi-lagi ngelak' batin Naura. Mereka memang bersahabat, tetapi Naura merasa persahabatan mereka tidak terlalu intim. Maksudnya Naura dan Alyssa hanya saling memahami di permukaan. Mereka tidak saling tahu dan memahami gejolak hati masing-masing. Naura memang tidak lagi membuka hati lebar-lebar, baik untuk teman, sahabat, ataupun kekasih. Dia terlatih untuk mengontrol dirinya sendiri, karena dia sudah tau rasanya kehilangan orang yang dia cintai dan dia tidak ingin merasakan itu lagi. ~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN