Siang itu suasana cafe cukup ramai, selain karena banyaknya pengunjung, Ade, dan Raihan sedang berkumpul dan mengajak Naura dan Alyssa yang sedang berkunjung ke cafe Lotus untuk makan siang bersama. Sebenarnya Naura agak malas untuk makan siang bersama mereka, entahlah dia merasa aneh dengan hubungan diam-diam dua orang dekatnya itu dan Naura masih belum bisa mengenyahkan dengan sempurna perasaannya kepada Raihan yang terlanjur bercokol di hatinya.
Masih ada rasa sakit ketika melihat Alyssa dan Raihan yang diam-diam saling mencuri pandang. Apakah mungkin dia bisa memiliki perasaan kepada dua orang sekaligus? Naura juga sudah terlanjur nyaman dengan Ade walaupun perasaannya tidak sedalam perasaannya kepada Raihan.
'Lagi-lagi Raihan' batin Naura sambil tersenyum miris. Kapan dia bisa menghilangkan perasaannya ini. Naura sekarang mengerti mengapa Alyssa dan Raihan menyembunyikan hubungan mereka, mungkin Alyssa sudah mengatakan kepada Raihan bahwa Naura mencintai laki-laki itu.
"Kok ngelamun aja sih dek, kamu mau makan apa? Apa kita delivery aja?" sahut Raihan menyadarkan Naura dari lamunannya yang tidak ada habisnya.
"Oh. .iya terserah aja sih," ucap Naura.
"Kamu mau makan apa?" seketika hati Naura berdegup kencang ketika Ade bertanya sembari memegang tangannya lembut. Wajahnya pasti sudah memerah sekarang. Naura berusaha melepaskan genggaman Ade walaupun rasanya percuma, genggaman Ade di tangannya malah semakin erat.
"Aku pengen makan es krim" lirih Naura yang semakin mengkeret karena malu. Alyssa hanya berdeham dan menyeringai senang melihat interaksi mereka.
"Makan nasi dulu baru es krim," sahut Ade yang mulai mengeluarkan Hp nya dan mencari resto terdekat untuk makan siang mereka. Seperti yang kalian ingat, cafe Lotus ini hanya menyediakan makanan ringan dan berbagai macam minuman, jadi mereka memilih untuk memesan makanan dari luar.
"Makan seafood ya, kamu mau kan?" lagi-lagi Ade bertanya kepada Naura yang dijawab anggukan pelan oleh gadis itu.
"Ya udah gue sekalian seafood aja deh, biar bisa bareng-bareng makannya," sahut Alyssa yang tersenyum senang. Sedangkan Raihan hanya menatap Naura dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Alyssa melihat tatapan Raihan, laki-laki yang sangat dicintainya itu.
Ya, Alyssa dan Raihan memang adalah sepasang kekasih. Mereka bahkan sudah menjalin hubungan selama 3 tahun, cukup lama bukan? Tapi hanya segelintir orang yang tau, bahkan karyawan cafe Raihan pun, tidak ada yang mengetahui status mereka berdua. Raihan belum siap untuk menunjukkan status Alyssa, mungkin terdengar kejam. Tetapi dia punya alasan sendiri mengapa dia tidak pernah terang-terangan mengenai hubungannya dengan Alyssa. Dan dia harap, Alyssa bisa bersabar dan mengerti apa yang dirasakan Raihan.
"Lo apa Re?"
"Hah, apa?" sahut Raihan yang kaget dengan pertanyaan Ade.
"Tadi Naura, sekarang giliran elo yang ngelamun? Kalian lagi ada masalah apa sih? Sampe barengan gitu?" sindir Ade yang membuat Naura memukul lengannya pelan. Jangan sampai mereka adu mulut lagi seperti kemarin, kondisi cafe lumayan ramai, dan itu akan sangat memalukan.
"Samain aja deh, gue makan apa aja," sahut Raihan tanpa berniat menjawab sindiran Ade. Alyssa hanya tersenyum kecut melihat ekspresi Raihan.
Naura terperanjat ketika ada getaran di saku celananya.
'SMS masuk, jangan-jangan dia lagi'
'Dek'
Naura mendengus kasar melihat sms itu, menghapus dan tidak berniat untuk membalasnya. Dia tidak sadar ketiga pasang di meja yang bersamanya menoleh bersamaan ketika mendengar dengusan nafas Naura seolah kesal dengan sesuatu.
"Siapa?" tanya Ade yang mencoba menengok layar Hp Naura.
"Bukan siapa-siapa, gak penting," ucap Naura yang kembali memasukkan Hp nya di saku celana.
"Kok lo kaya kesel gitu?" Alyssa yang sedari tadi diam bertanya kepada temannya itu. "Ada masalah, Ra?"
"Ga ada, cuma nomor nyasar aja tadi. Males nanggepin,"
"Sini aku liat," Naura melirik gemas tingkah posesif Ade yang mulai muncul.
"Ga ada lho, udah aku hapus tadi,"
"Kenapa dihapus?" tanya Ade yang menatap Naura semakin tajam.
"Ya kan tadi udah dibilang, cuma nomor nyasar. Jadinya aku hapus," akhirnya pesanan mereka datang, dan Naura sangat bersyukur karena Ade tidak lagi memaksa dan kemudian membayar pesanannya.
~~~
Naura hanya melihat Hp nya yang tergeletak di meja, berdering tanpa henti. Sudah 5 menit terakhir, nomor itu terus melakukan panggilan. Tidak ada niatan untuk mengangkat dan kembali menghadapi masa lalunya.
Gadis manis itu menghela nafas pelan ketika deringan itu akhirnya berhenti. Dadanya sesak, seolah ingin meluapkan kekesalan, tetapi entah kepada siapa. Di satu sisi, dia tidak ingin bertemu mereka lagi, yang membuangnya tanpa belas kasihan ke panti asuhan, tetapi di sisi lain, Naura rindu. Terlebih lagi dengan kakaknya yang sangat dia sayangi.
Naura terlonjak kaget, Hp nya kembali berdering dengan wajah lelaki tampan yang sudah beberapa bulan ini menjadi kekasihnya.
"Halo,"
"Sudah makan?" perhatian kecil yang diberikan Ade membuat jantungnya berdegup kencang.
"Kan sudah tadi sama kamu,"
"Itu tadi makan siang, cantik," wajah Naura yang pucat mengeluarkan rona merah yang membuatnya semakin manis.
"Tadi kan makannya jam 3 sore, itu udah rapel makan malem,"
Ade mendengus pelan, Naura bisa membayangkan wajah kesalnya.
"Susah banget sih disuruh makan doang,"
"Iya nanti juga makan, masih kenyang. Nanti malah mual kalo dipaksain," sahut Naura yang mulai merengut kesal.
"Ya udah aku sudah suruh Erina kesana, ngirim makanan buat kamu. Jangan lupa dimakan dan harus dimakan," ucap Ade dengan tegas. Dia tidak mau Naura sakit karena telat makan. Raihan pernah bercerita, Naura pernah sakit maag, walaupun sudah jarang kambuh, tapi Ade tidak mau ambil resiko sampai wanitanya itu sakit.
'Wanitanya.' pikir Ade senang.
"Ih, ga usah, Na. .,"
"Ga usah ngebantah. Aku gak mau kamu sakit. Dan Erina udah perjalanan pulang sekalian mampir ke tempat kamu. Awas aja kalo kamu ngelewatin makan malem. Ya udah, aku tutup dulu, aku masih ada kerjaan. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," Naura merengut kesal karena tidak diberi kesempatan untuk protes. Walaupun, tidak dapat dipungkiri hatinya berdesir dengan perlakuan manis Ade. Naura selalu berharap lelaki itu bisa mengetuk pintu hatinya, sehingga Naura tidak perlu lagi merasakan perasaan cintanya kepada Raihan dan bersaing dengan sahabatnya sendiri.
'Tok. .tok. .tok'
Suara ketukan pintu seketika memecahkan lamunan panjang Naura. Plastik berlogo restoran Jepang tiba-tiba membuat Naura merasa lapar. Untung saja Ade memaksa untuk mengirimkan makanan tadi. Naura jadi merasa malu karena tadi sempat menolak tetapi sekarang dia seakan bisa menghabiskan makanannya dalam sekejap.
'Makasih makanannya :)'
Naura sibuk mengetikkan pesan kepada Ade sebelum membereskan bekas makannya dan beranjak tidur. Besok dia harus bangun pagi karena janjinya menemani Alyssa ke toko buku.
'Aarrghh' Naura benci bangun pagi. Dia akan sangat berterimakasih apabila dia diijinkan tidur seharian tanpa gangguan.
'Dont judge me' Tidur adalah hobi yang paling menyenangkan, dan merupakan salah satu penghilang stres yang paling manjur. Ketika ada masalah, Naura akan mendekam di kamar menangis dan tidur seharian, maka keesokan harinya dia bisa memulai harinya dengan lebih baik.
~~~
"Ih muka lo bete gitu sih, Ra," Alyssa mencomot ayam goreng di depannya. Mereka sudah berada di foodcourt salah satu Mall favorit mereka. Alasannya simple, karena disini adalah Mall dengan standar kantong mahasiswa. Toko baju, aksesoris, jam, bahkan makanannya sesuai dengan kantong pas-pas an mahasiswa.
Naura menatap kesal Alyssa yang masih sibuk makan didepannya. Padahal mereka janjian jam 11 pagi, tapi Alyssa sudah meneror Naura dari jam 7. Bayangkan, jam 7! Mall saja baru buka jam 10, Alyssa terus menerus menelponnya sampai Naura mau tidak mau bangun dan bersiap-siap.
"Masih ngantuk tau," gerutu Naura kesal.
"Yaelah masih itu aja yang dibahas. Eh neng, cewek itu mah biasain bangun pagi, bukan kaya Elo. Kalo lo punya laki siapa yang nyiapin sarapan, bajunya. Lo mau ntar laki lo nyari perhatian diluar gara-gara bininya bangkong?" seru Alyssa tanpa mempedulikan tatapan-tapan di meja sekitarnya.
"Ih lo kalo ngomong sembarangan banget sih, masa doain laki gue berburu rumput tetangga. Nikah aja belom, udah doain gue janda. Pea lo!"
"Lah yang doain lo janda siapa?"
"Ya lo barusan," sahut Naura masih ngotot. Mereka tidak sadar, mereka mulai jadi pusat perhatian karena perdebatan tidak penting itu.
"Gue cuma ngomong bisa-bisa laki lo cari perhatian diluar, bukan berarti nyerain lo. Makan gih biar pokus,"
"Fokus nyet, bukan pokus. Lagian itu maksudnya sama aja,"
"Udah buru dimakan, malah bahas gak penting kan kita. Kita diliatin orang nyet, gara-gara bahas janda. Dikira lo beneran janda kali," bisik Alyssa sambil tertawa geli.
"Amit-amit, amit-amit. Gara-gara lo sih nyet, bikin emosi aja," dengus Naura pelan dan mulai memakan makanannya yang membuat Alyssa terkekeh geli.
Naura dan Alyssa mulai berpencar dan serius dengan dunianya masing-masing. Alyssa yang kebanyakan mencari buku resep baru dan diktat perkuliahan, sedangkan Naura yang sibuk memilih novel baru mana yang akan dibelinya. Walaupun nantinya, Alyssa pasti akan mengomel ketika Naura bisa menghabiskan berjam-jam untuk memilih dan memilih koleksi barunya.
Naura terperanjat dengan dering telpon yang memecah kesunyian di sudut Gram*dia yang memang sedikit yang berlalu lalang karena masih pagi. Belum banyak pengunjung yang datang memenuhi Mall, hal yang sangat disyukuri Naura.
"Lagi dimana sayang?" Suara sapaan Ade yang membuat pipi Naura bersemu merah. Selalu seperti ini ketika Ade memanggilnya dengan panggilan itu.
"Kan tadi udah dibilang, aku sama Al lagi di toko buku,"
"Udah makan?"
"Iya barusan sebelum ke toko buku mampir foodcourt dulu," ucap Naura sambil kembali memilih buku yang menarik perhatiannya.
"Lagi cari apa sih? Sampe-sampe ga mau aku ajakin jalan," Naura bisa mendengar dengusan nafas Ade di seberang yang menandakan lelaki itu kesal.
"Ya kan tiap hari udah ketemu, terus lagi kangen aja sama Alyssa lama ga jalan bareng,"
"Ya udah iya, terpaksa deh nge-jomblo hari ini," sahut Ade yang membuat Naura terkekeh geli. Pacarnya itu terkadang bisa menjadi childish dan menyebelkan seperti ini.
"O iya, tolong di cek rekening kamu, udah aku kirimin tambahan buat koleksi novel kamu," sahut Ade enteng dan membuat Naura seketika melongo. Kelakuan tak terduga inilah yang kerap kali membuat Naura speechless dan kesal. Apalagi ditambah ketika sifat pemaksanya keluar.
"Eh, ngapain? Aku ada kok, lagian udah dapet banyak,"
"Ya udah belanjain buat yang lain,"
Tut. .tut. .tut
Naura menjauhkan Hp nya dari telinga, memastikan apakah lelaki itu baru saja memutuskan panggilannya sepihak. Bahkan Naura belum sempat melancarkan protesnya. Mungkin banyak yang akan mencibirnya.
'Hari gini, mana ada orang yang matanya gak hijau pas liat saldo rekening bertambah 2 digit'
Oh ayolah, Naura juga wanita yang pasti berbinar-binar senang ketika dia melihat saldo rekeningnya bertambah. Tapi dia masih merasa risih, ketika ada orang yang notabene-nya masih menjadi pacarnya sudah mengirimkan uang layaknya suami.
Dan sekarang dia menyesali keputusannya yang dulu tidak menaruh curiga ketika Ade meminta nomor rekeningnya dengan alasan kartunya tertelan mesin ATM. Naura baru sadar sekarang, orang se-elite Ade tidak mungkin hanya memiliki 1 kartu. Akibatnya, Naura selalu dibuat kaget dan kesal dengan saldo rekeningnya yang tidak jarang bertambah secara tiba-tiba.
~~~