"Papa Dinda datang." Tuan Arjun Saputra menggandeng tangan Dinda menuju ke dalam rumah itu. Memegangnya dengan erat seakan ingin memberitahu pada dunia jika Dinda adalah miliknya dan akan selalu begitu selamanya. "Tuan." sapa dokter Raihan. "Bagaimana keadaan papa mertuaku dok?" tanya tuan Arjun. "Keadaannya masih kritis. Meski ada perubahan, namun perubahannya belum signifikan." "Lalu bagaimana dengan racunnya?" "Untunglah racunnya masih bisa di tekan. Anak buah anda membawanya tepat waktu kemari. Sehingga nyawanya bisa tertolong." Dinda meremas tangan tuan Arjun begitu merinding ketika melihat ayahnya yang tidak berdaya diatas bangsalnya. "Kenapa dengan papaku?" kata Dinda lirih. Ingin menyapa namun tidak bisa, ingin memeluk namun tak lara. Dinda hanya bisa menahan tang

