"Balasan kita setimpal nyonya cumi." ledek Dinda sembari menggaruk lengannya. "Obat apa yang kau berikan pada nyonyaku." Daniar kesal. "Bukan urusan mu babu rendahan." kata Denok. "Kamu tidak sadar diri hah? Memangnya kamu itu seagung apa di sini?" Denok tentu saja tidak terima dengan perkataan Daniar "Sepertinya jika ada nyonyamu ini kamu jadi songong sekali ya Daniar." Dinda tidak berdiam diri, dia menyeret Denok dan memaksanya untuk berlutut. "Apa yang kamu lakukan." Denok memekik. "Apakah aku benar-benar harus merobek mulutmu itu hah?! Berani sekali kau." Dinda menatap tajam Denok yang justru berani menatapnya. "Lepaskan dia sialan!!" Dona menghempaskan tubuh Dinda ke lantai. Tidak terima dengan perlakuan Dona. Dinda dengan sengaja menendang kaki Dona dari belakang.

