"Ya sudah deh. Kalau begitu aku pergi sebentar ya untuk siapkan makananmu." "Iya Daniar yang cantik." "Oke.." Dinda memejamkan matanya, menikmati baluran hangat aroma terapi yang Daniar teteskan. Ini sangat membuatnya rileks. "Kira-kira apa yang akan Arjun lakukan pada Dona ya? Hmmmm.." ---- Lagi dan lagi adegan dimana tuan Arjun Saputra menyeret sebuah kursi terjadi kembali. Tangan kanannya menyeret kursi, sementara tangan kirinya memegangi cambuk yang menjadi momok menakutkan di kediaman itu. Karena cambuk itu, sudah banyak darah yang menetes bercucuran. Dona yang di ikat tangan dan kakinya hanya bisa pasrah saat perlahan tuan Arjun Saputra berjalan mendekat ke arahnya. Meletakkan kursi yang di bawanya ke depan Dona yang terlihat sangat gugup. "Arjun." panggil Dona.

