Arin mengusap peluh yang membasahi wajahnya. Cuaca pagi ini entah kenapa baginya terasa sangat panas. Kakinya mulai lelah berdiri, tapi kepala sekolah masih semangat memberikan petuah. Arin menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya dari sinar matahari. Namun, tiba-tiba ia bisa merasakan siswa di depan dan di samping barisannya bertukar posisi. Kini terik matahari tidak begitu terasa menyengat. Arin pun mengangkat wajahnya. Senyumnya mengembang saat mengetahui Gio sudah di depannya dan Erlan kini berada di sampingnya. "Masih kepanasan, Seblak?" tanya Erlan pelan tanpa menoleh. "Enggak terlalu," jawab Arin. "Makasih yah," "Jadi cuma Erlan doang nih yang diucapin makasih?" celetuk Gio dari depan Arin tanpa menoleh juga Arin terkekeh. "Makasih, Gio." Sudut bibir Gio tertarik ke atas. Ka

