Tidur Arin terusik saat merasakan sebuah tangan memeluknya bagaikan guling. Arin mengerjapkan matanya. Sepertinya ia hapal dengan pemilik aroma tubuh ini. Mata Arin sudah sepenuhnya terbuka. Ia pun menatap seseorang yang masih asik memejamkan matanya itu. Senyum Arin mengembang menatap kembarannya yang masik terlelap. Kalau sedang tidur seperti ini wajah Gio terlihat sangat menggemaskan. Arin berdecak saat melihat warna biru di pipi Gio yang belum juga menghilang. Ia ingat bagaimana sang Daddy panik saat melihat wajah lebam Gio dan Erlan. Ia bahkan tidak bisa menahan tawanya saat sang mommy mengompres luka lebam di wajah Gio dengan kesal, membuat daddy-nya memekik panik sendiri. Dengan pelan Arin mengusap luka lebam itu membuat tidur Gio terusik. "Selamat pagi," sapa Arin saat Gio membuka

