06 LUPA

1237 Kata
Marsha mengamati acara amal yang memang sangat membuatnya bangga. Papanya sungguh peduli dengan semuanya. Di sini ada stand untuk berobat gratis dan juga periksa gratis. Anehnya lagi dia melihat Melani bertransformasi menjadi dokter anak yang begitu cekatan dan baik.   Sejak sampai di lokasi ini, Melani sepertinya langsung terlarut menjadi bagian dokter-dokter yang di tugaskan di sini. Banyak anak-anak kecil yang awalnya menangis saat akan di periksa tapi begitu ditangani oleh Melani menjadi tenang.   Marsha sendiri hanya mengawasi. Sebagai owner dari rumah sakit yang digunakan sebagai tempat acara. Marsha tentu saja disambut dengan baik oleh panitia. Dan dia tidak diperbolehkan untuk  melakukan apapun kecuali duduk dengan diam di singgasananya.   Tapi Marsha bukanlah orang yang mau di anggap bos. Dia akhirnya berkeliling dan sempat mendonorkan darah juga di Stan PMI.   "Pak Marshal. Maaf mengganggu...semuanya sudah di siapkan ya. Anda dan Dokter Melani menginap di hotel yang ada di sebelah rumah sakit ini. Semoga anda berkenan."   Marsha mengangguk dan tersenyum ke arah Pak Wisnu. Manajer pelaksana rumah sakit cabang milik papanya ini.   "Terimakasih. Saya sangat terkesan dengan acara ini."   Pak Wisnu mengangguk. "Papa Anda selalu mengadakan acara ini satu tahun dua kali. Ini dapat membantu kalangan menengah bawah yang tidak bisa memeriksakan penyakitnya karena biaya yang mahal."   Marsha mengangguk-anggukkan kepalanya.   "Aku juga senang dengan acara seperti ini. Jadi kita bisa menolong orang yang membutuhkan. Baik Pak, saya mau berkeliling dulu ya?"   Pak Wisnu mengangguk dan memberi jalan kepadanya.   "Silakan pak."   Marsha melangkah meninggalkan Pak Wisnu. Sebenarnya dia tadi sangat kesal dengan Melani selama di mobil. Tapi begitu sampai di sini, kekesalan itu menguap. Dia melihat Melani begitu senangnya memeriksa pasiennya di sini.   "Semoga lekas sembuh ya. Nanti Bu dokter mau kasih Chiko coklat kalau udah sembuh ya. Di minum obatnya ya."   Marsha menghentikan langkahnya saat melihat Melani sedang berbicara dengan balita yang baru saja di periksanya.   Senyum Melani begitu tulus saat ini. Dan Marsha mengernyitkan keningnya. Kenapa wanita itu bersikap sangat berbeda?   "Dadah doktel..."   Marsha ikut tersenyum saat balita itu berpamitan dengan Melani. Dan Melani tersenyum senang dan mencium pipi gemb bocah itu.   Marsha melangkah mendekati Melani yang kini sudah akan berbalik ke standnya. Wanita itu sudah berganti baju. Dengan celana panjang dan snelli putih membuat Melani terlihat begitu anggun.   "Kamu sudah makan?"   Pertanyaannya itu membuat Melani berbalik dan melihatnya wanita itu langsung merubah raut wajahnya.   "Mau ngajakin aku makan?"   Sapanya genit dan kini melangkah mendekatinya. Bahkan Melani menyentuh lengan Marsha dengan posesif. Menempelkan tubuhnya kepada Marsha.   "Aku cuma menanyakan kamu sudah makan siang belum?"   Marsha agak menjauh dari Melani. Dia benar-benar tidak suka mencium aroma manis dari Melani. Karena itu akan membuatnya lumpuh dan tidak bisa berpikir jernih.   Melani tersenyum genit lalu mengibaskan rambutnya  itu.   "Wait aku akan berpamitan dulu sama tim."   Melani menjauh dan melangkah ke arah standnya. Sementara Marsha kini mengusap tengkuknya. Kenapa wanita itu selalu menyebalkan kalau berada di dekatnya.   "Ok. Mau ngajakin aku makan dimana?"   Marsha terkejut saat melihat Melani sudah berada di sampingnya lagi. Tapi toh dia tidak bisa mengelak lagi karena dia yang menawarkan diri   "Well. Ada restoran di hotel dan.."   Tapi Melani sudah menggelengkan kepalanya dan mencibir dengan sinis.   "Aku bukan tuan putri pujaanmu yang selalu makan di restoran mahal."   Melani melangkah mendahului Marsha. Membuat dia segera berlari untuk mensejajarkan langkahnya.   Akhirnya mereka keluar dari lobby rumah sakit. Alih alih menuju parkiran mobil, Melani malah mengajaknya menyeberangi jalan. Dan saat wanita itu masuk ke dalam sebuah warung tenda. Marsha makin dibuat bingung.   "Bu nasi rendangnya satu ya sama air putih."   "Baik neng."   Marsha masih berdiri saat Melani sudah duduk di kursi panjang warung itu. Dia masih tidak percaya dengan Melani yang membawanya makan di sini.   "Kenapa tidak duduk? Kamu gak mau makan di sini?"   Marsha langsung menggelengkan kepalanya dan langsung ikut duduk di samping Melani.   "Akangnya mau makan apa?"   Marsha menoleh ke arah ibu pemilik warung. Dan dia mengedarkan pandangannya ke arah menu yang ada.   "Soto aja Bu. Sama teh hangat satu ya?"   "Baik."   "Ini neng silakan dimakan ya."   Marsha mengamati Melani yang dengan antusias menerima piring berisi nasi rendang itu.   Suara dering ponsel tiba-tiba berbunyi. Dan Melani langsung meraba saki celananya. Lalu mengeluarkan ponselnya dan menjawab.   "Ya ibu gimana?"   "Owh iya obat turun panasnya sudah di minumkan ya? Tadi pagi Adi sudah mau buang air kecil kan? Iya di imbangi dengan s**u dan makan ya?"   Marsha kini bersedekap dan mengamati Melani yang berubah lembut lagi saat menerima telepon yang diyakininya sebagai pasiennya.   "Owh enggak apa-apa kok Bu. Enggak terlambat, ini saya juga sudah ada di Bandung. Saya enggak merasa terganggu dengan kedatangan Adi tadi pagi buat periksa."   Marsha mengernyitkan keningnya. Periksa? Tadi pagi?   Jadi wanita di sampingnya ini terlambat karena ada pasien? Bukan karena mengecat kukunya?   "Baik semoga Adi cepet sembuh ya."   Marsha melihat Melani mengembalikan ponsel ke dalam saku celananya. Lalu wanita itu menoleh kepadanya bersamaan dengan soto yang di pesannya datang.   "Silakan kang."   Marsha mengangguk dan tersenyum kepada pemilik warung.   "Kamu gak suka ya aku aja ke sini?"   Marsha menatap Melani yang kini tengah menyuapkan nasinya ke dalam mulutnya sendiri. Wanita itu tampak menatap dengan sinis.   "Kenapa aku harus tidak suka? Aku sudah terbiasa makan di warung seperti ini. Asal kamu tahu aja aku bukan pria songong."   Melani mengangkat bahunya dan kini meneruskan makannya.   "Jadi tadi pagi kamu ada pasien? Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?"   Melani kembali menatapnya dengan senyum sombong di bibirnya.   "Buat apa aku bilang. Toh kamu juga tidak merasa suka aku ikut di acara ini. Yang pasti aku memang berhasil membuat Dokter Wina tidak ikut kan? Bukankah itu membuatmu kesal?"   Marsha menggelengkan kepalanya. Tidak tahu dengan sikap sinis Melani untuknya. Apa yang salah dengan dirinya?   "Kenapa kamu begitu membenci Wina sepertinya?"   Tapi Melani mengibaskan tangan di depan Marsha.   "Bukan urusanmu juga. Tapi yang pasti jangan samakan aku dengan tuan putrimu itu."   Marsha hanya menghela nafasnya. Sulit untuk berbicara baik-baik dengan Melani.   *****   "Sore Marsha. Acaranya masih berlangsung ya? Kamu pasti sibuk. Tapi jangan lupa makan y!"   Marsha tersenyum membaca pesan dari Wina. Dia baru saja akan mengetikkan balasannya ketika terdengar sebuah teriakan membuat dirinya langsung mengalihkan pandangannya ke arah suara itu.   "Astaga!"   Marsha langsung berlari ke arah halaman rumah sakit. Setelah dari makan siang dengan Melani tadi dia memang disibukkan dengan Pak Wisnu yang mengajaknya berkeliling rumah sakit. Dan dia baru saja akan kembali ke stand-stand yang ada di taman rumah sakit saat mendengar teriakan itu.   Dia langsung menyingkirkan semua orang yang menghalanginya dan langsung berlutut di depan Melani.   Dokter itu sedang memeluk seorang anak yang sepertinya akan tertabrak sebuah mobil yang melintas dengan cepat.   "Cup cup. Sayang kamu aman ya?"   "Ratih. Makasih ya Bu dokter. Maaf jadi buat anda terluka. "   Marsha kini menatap kerumunan orang di sekitarnya. Dan melihat anak yang di selamatkan Melani sudah berada di gendongan ibunya lagi.   "Iya gak apa-apa. Sayang jangan nangis lagi ya?"   Melani menepuk-nepuk kepala anak itu. Tapi Marsha langsung menangkap pergelangan tangan Melani yang berdarah.   "Kamu terluka."   Melani langsung menoleh ke arahnya. Tampak senyum tulus terukir di wajahnya.   "Cuma luka dikit. Yang penting adik ini selamat."   Tentu saja Marsha langsung beranjak berdiri. Mencari pemilik mobil yang menabrak Melani. Tapi sepertinya mobil itu susah melarikan diri.   Dua orang security langsung mendekati mereka. Dan beberapa perawat mendekati Melani dan anak itu. Marsha melihat  Melani menggeleng saat akan di berikan pertolongan. Wanita itu malah mencoba berdiri. Tapi sebelum dia bisa berdiri tegak. Melani sudah terjatuh, Untung saja Marsha bisa langsung menangkap tubuh Melani.   "Kenapa kamu begitu keras kepala?"   Marsha menatap muram ke arah Melani yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN