"Dokter Melani terluka?"
Suara merdu di ujung sana membuat Marsha kini memandang brankar yang ada di depannya. Dia sekarang sedang duduk di sofa di dalam sebuah kamar di dalam rumah sakit.
Dokter Melani tengah tertidur. Tadi sebenarnya wanita itu jatuh pingsan. Tapi dia sudah sadar dan sekarang sedang tidur. Kata dokter Melani terlalu lelah.
"Cuma tangannya saja. Tapi selebihnya tidak ada yang serius. Dan dia berhasil menyelamatkan seorang anak kecil
"
Marsha sedikit tersenyum saat teringat Melani yang begitu berani itu.
"Owh syukurlah. Kamu sendiri juga harus jaga kesehatanmu ya? Minum vitamin."
Marsha kali ini tersenyum lebar mendengar perhatian Wina. Wanita itu memang sangat lemah lembut dan penuh kasih sayang. Setelah dari sini, dia akan serius mendekati Dokter Wina.
"Iya. Pasti. Kamu juga ya."
Terdengar suara riang di ujung sana. Dan membuat Marsha kembali tersenyum. Lalu Dokter Wina berpamitan mengatakan ada pasien yang harus di tanganinya. Marsha sendiri setelah memasukkan ponsel ke dalam sakunya kini dia melangkah mendekati brankar.
"Sudah bangun?"
Dia langsung bertanya seperti itu saat melihat Melani sudah membuka matanya.
Wanita itu menatapnya muram.s
"Aku harus segera bangun. Kita ke hotel saja."
Melani berusaha untuk bangun dan akan mencabut selang infus yang ada di pergelangan tangannya.
"Hei, kata dokter kamu harus istirahat di sini paling tidak semalam."
Melani langsung menatapnya dengan kesal.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin tidur di atas kasur empuk. Bukannya di atas brankar dan bau obat."
Marsha mendesah. Wanita ini kenapa bersikap menyebalkan lagi?
"Kamu kan sakit?"
Marsha mengangkat alisnya saat Melani kini memberengut. Dan tidak jadi beranjak dari kasurnya
"Aku tidak apa-apa."
Berkeras seperti itu membuat Marsha kini mengusap rambutnya. Lalu menatap Melani yang tampak pucat itu.
Dia sendiri juga bingung, kenapa ya dia peduli dengan wanita di depannya ini?
"Aku akan bicara dengan dokter yang merawatmu."
Sebelum Melani menjawab. Marsha sudah berderap pergi meninggalkan kamar itu. Dia tidak mau mendengar bantahan dari Melani.
****
Akhirnya Melani memang boleh meninggalkan kamar rumah sakit. Dan kini Marsha sudah mengantarkan ke kamar hotel yang sudah di pesan untuk mereka.
"Kamu di suruh istirahat total hari ini oleh Dokter Hari."
Marsha kini meletakkan obat yang di bawanya tadi dari rumah sakit ke atas meja. Dia berada di dalam suit kamar hotel yang memang sangat nyaman.
Melani kini duduk di atas sofa. Menggerai rambutnya dan mengeluarkan laptop dari dalam tas yang sejak tadi memang di tentengnya itu. Lalu memasang kacamata saat menyalakan laptopnya.
"Kamu mau apa? Aku sudah bilang kan kamu tidur."
Melani hanya meliriknya sekilas dan kini mengalihkan tatapannya lagi ke layar laptop yang ada di pangkuannya. Wanita itu benar-benar mengacuhkannya.
Marsha merasa kesal. Kenapa dia harus peduli dengan kesehatan dokter itu? Harusnya di sekarang sudah berendam di dalam bath ub air panas. Dan setelah itu melakukan telepon dengan Wina. Daripada harus tertahan di sini.
"Kenapa masih di sini? Menunggu aku membuka baju?"
Ucapan sinis Melani membuat Marsha menggelengkan kepalanya. Kenapa wanita ini bertingkah b***h lagi. Padahal beberapa jam yang lalu seperti malaikat yang menolong semua orang.
"Percuma aku ngomong sama kamu."
Marsha segera melangkah keluar dari dalam kamar Melani. Dan kini berderap menuju pintu kamarnya yang memang bersebelahan dengan kamar Melani.
Dia segera membuka kuncinya dan masuk ke dalam kamar. Menghela nafas lega saat dia dapat sendiri saat ini. Dia segera membuka kemejanya dan melangkah menuju kamar mandi. Sepertinya mendinginkan otak dengan mengguyur kepalanya dengan air dingin akan lebih baik.
Marsha langsung melepaskan semua pakaiannya dan menyalakan shower. Air dingin langsung mengguyur badannya dari kepala sampai kaki.
Terlalu pusing dengan sikap Melani yang tidak dapat di duga. Tapi Marsha sendiri masih menerka ada apa dengan Melani dan Wina? Kenapa wanita itu sepertinya sangat membenci Wina yang notabene sangat baik, lemah lembut dan cantik itu.
Marsha menggerutu saat terbayang lagi kaki jenjang milik Melani. Harus tubuhnya yang membuat Marsha kelimpungan.
Dia segera menuangkan sabun cair ke atas telapak tangannya dan mulai membasuh tubuhnya.
"s**t!" Marsha mengumpat karena aroma sabun itu ternyata strawberry. Kenapa lagi-lagi aroma itu?
Dia segera membasuh tubuhnya dan mulai mengguyur seluruh badannya. Tidak mau berlama-lama dengan aroma itu. Marsha segera menyambar jubah handuk yang sudah di sediakan di kabinet yang ada di dekat shower.
Lalu segera melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Tapi terkejut saat melihat Melani sudah duduk dengan cantik di atas sofa warna merah yang ada di dalam kamar itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Marsha menyipitkan matanya melihat Melani yang kini tersenyum menggoda itu.
"Listrik di kamarku mati. Entah kenapa. Padahal aku ingin mengisi baterai laptop ku. Jadi yah aku ke sini."
Dengan santainya Melani kembali fokus ke laptopnya dan tanpa merasa bersalah telah menerobos kamarnya.
"Kamu menggangguku."
Marsha kini duduk di depan Melani dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil berwarna putih yang tersedia.
"Jadi kalau sama aku terganggu? Kalau sama Wina tidak? Maaf aku mengecewakanmu karena aku yang ada di sini bukan Wina."
Marsha menggelengkan kepalanya. Dan kini bersandar di sofa dan bersedekap. Melani masih terus sibuk dengan laptop di pangkuannya.
"Kamu sedang apa sih? Bukannya tanganmu sakit?"
Marsha menatap tangan kanan Melani yang terbalut beban itu.
"Ehm menyelesaikan data pasienku hari ini."
Marsha kembali mengernyitkan keningnya. Di saat sakit begini Wanita itu masih memikirkan pasiennya?
"Kamu itu dokter yang sangat sibuk ya?"
Melani kini hanya kembali mengangkat bahunya.
"Itulah aku. Kalau tidak sibuk, tak mungkin aku bisa mejabat sebagai ketua dokter anak di rumah sakit. Aku itu cerdas dan bertanggung jawab penuh kepada pekerjaanku."
Ucapan sombong Melani membuat Marsha kini menatap wanita itu lekat. Lagi. Melani sepertinya bersikap sengaja terlihat angkuh. Padahal sebenarnya Melani tidak seperti itu. Marsha semakin penasaran dengan hal itu.
"Kenapa selalu bersikap tidak menyenangkan denganku?"
Melani kini menatapnya dan tersenyum genit. Jenis senyuman yang mengatakan ' kamu masuk perangkapku'
"Kamu ingin aku bersikap menyenangkan? Mari kita lakukan di atas kasur."
Astaga!
Marsha kembali menggelengkan kepalanya. Bersamaan dengan ponselnya berdering. Dia langsung beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar tempat dia meletakkan tas yang dibawanya.
Lalu menemukan ponsel miliknya di dalam tas dan tersenyum kembali melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Pak Marsha sekedar mengingatkan jangan lupa makan dan istirahat ya"
Tentu saja hati Marsha menghangat menerima pesan itu. Dia langsung duduk di atas kasur lalu menempelkan ponsel di telinganya. Menelepon Wina.
"Halo"
"Hai..aku sudah istirahat. Baru saja mandi. Kamu sedang apa?"
"Owh syukurlah. Aku sedang lembur di rumah sakit. Karena Dokter Melani tidak ada kami kekurangan dokter."
Marsha menganggukkan kepalanya. Merasa kasihan dengan Dokter Wina saat ini.
"Kalau begitu kamu yang harusnya istirahat ya. Jaga kondisi."
"Iya pasti."
Sepetinya ada senyum di ujung sana. Dan Marsha juga tersenyum.
"Cal, ada handuk kering gak? Aku mau mandi di sini."
Suara Melani membuat Marsha langsung menoleh ke arah ambang pintu kamar. Dan melihat Melani kini tengah berdiri dengan seksi di ambang pintu. Kakinya terlihat indah tanpa alas kaki. Wanita itu kini memang tengah mengganti kemeja dan celana panjangnya dengan gaun di atas lutut.
"Itu suara Dokter Melani?"
Wina tentu saja yang menanyakan itu. Astaga. Dia tidak mau Wina salah paham Dengan keadaan ini.
"Aku boleh kan mandi di sini. Gerah dan lengket ini tubuhku."
Marsha menggelengkan kepalanya lagi. Sungguh situasi ini menjadi rumit.