14 TEKA TEKI

1129 Kata
Marsha kembali merasakan kepalanya pening. Padahal dia sudah minum obat dan langsung tidur setelah memakan sop buatan Melani.   Wanita itu akhirnya berpamit pulang. Marsha sendiri akhirnya memilih untuk tidur sehari semalam di dalam kamarnya. Dan sekarang saat alarm membangunkannya Marsha merasa masih kurang untuk tidur.   Suara dering ponsel lah yang membuat Marsha kini memicingkan matanya. Lalu keluar dari selimut tebalnya dan mulai mencari-cari ponselnya yang semalam di letakkan sembarangan di atas nakas di sebelahnya.   "Halo.."   Dengan suara serak Marsha kini mencoba untuk fokus menjawab telepon. Hari sepertinya sudah siang saat ini. Karena Marsha merasa panas matahari menerpa wajahnya dari sela-sela ventilasi kamarnya.   "Ical sudah bangun? Aku khawatir kamu masih sakit. Aku sudah ada di depan pintu rumah kamu."   Ucapan di ujung sana membuat Marsha langsung mengerjapkan matanya. Melani ada di depan pintu rumahnya?   Marsha langsung beranjak turun dari atas kasur. Terhuyung karena terburu-buru turun.   "Owh Ok wait aku bukain pintu."   Marsha segera melangkah keluar dari kamarnya. Menuruni tangga yang membawanya sampai ke lantai satu dan segera menuju ruang tamu.   "Oh hai.."   Marsha akhirnya membuka pintu dan menemukan Melani sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Wanita itu siang ini sepertinya tampak begitu santai. Dengan rambut panjang tergerai. Celana jins dan juga kaos putih membuat Melani berbeda.   "Aku ada shif malam jadi pagi ini aku bebas. Aku bawain kamu bubur ayam. Pasti belum makan  ya?"   Marsha tersenyum mendengar ucapan Melani. Kenapa wanita ini sangat perhatian kepadanya kali ini?   "Owh iya. Aku masih mengantuk dan baru terbangun saat menerima teleponmu. Ehm masuklah." Marsha memberi jalan kepada Melani untuk segera masuk ke dalam rumahnya. Dan wanita itu mengikutinya.   "Masih pusing ya?"   Melani kini duduk di atas sofa dan membuka bungkusan yang di bawanya. Aroma bubur hangat langsung menguar di udara.   Marsha sendiri kini duduk di depan Melani. Mengusap wajahnya yang pasti tampak kuyu itu.   "Sekarang tenggorokannya yang sakit."   Marsha menjawab dan melihat Melani kini menatapnya.   "Kalau flu memang masa inkubasi nya dua hari. Yang harus memang digunakan untuk istirahat total. Sudah. Makan dulu, abis ini minum obat dan tidur lagi."   Marsha mengangkat alisnya mendengar perintah Melani. Tapi wanita itu tersenyum.   "Kenapa? Jangan tanya kenapa aku baik kepadamu gitu?"   Kali ini Marsha tertawa lebar. Wanita di depannya ini memang tidak pernah berbasa-basi.   "Aku tuh kalau liat orang sakit pengen ngerawat sampai sembuh. Ehm mungkin memang karena naluriku ya."   Marsha mengangguk membenarkan. Lalu menerima bubur yang di angsurkan kepadanya.   "Ehm terimakasih karena sudah ke sini."   Marsha menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya. Dan kini menatap Melani yang hanya mengangkat bahu.   "Tidak usah canggung. Aku kan masih karyawanmu juga. Ehm boleh ke toilet sebentar?"   Marsha mengangguk dan menunjukkan toilet tamu. Melani langsung melangkah menuju toilet.   Sedangkan Marsha kembali menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya.   Suara ketukan di pintu membuat Marsha mengernyit. Tapi dia langsung beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu.   "Halo sayang. Ehm maaf ya aku baru bisa ke sini siang ini."   Marsha terkejut saat melihat siapa yang ada di depannya saat ini.   Wina sudah berdiri dengan cantik di depannya. Kekasihnya itu tetap tampil cantik seperti biasa.   "Owh Wina."   Marsha hanya mengucapkan itu membuat Wina memberengut.   "Kenapa cuma owh. Kamu gak kangen sama aku?"   Wina melangkah mendekati Marsha dan kini merangkul salah satu lengannya.   "Ehm aku kangen nih. Aku menjemput kamu untuk ke rumah sakit. Kamu masih sakit?"   Marsha mengangguk dan kini menatap Wina yang tampak kecewa.   "Jadi nanti malam tidak bisa menemaniku ke acara nikahan sepupu ya?"   Marsha langsung menggeleng. Dia benar-benar masih merasa pusing untuk saat ini.   "Cal kenapa buburnya gak dimakan?"   Suara itu membuat Marsha langsung menoleh ke arah belakangnya. Dan tentu Wina juga tampak terkejut. Wanita itu bahkan melepaskan lengannya dan kini bergeser untuk melihat siapa yang ada di belakang Marsha.   Melani berdiri di belakang Marsha dan kini tampak tidak terkejut saat melihat Wina.   "Owh Dokter Melani?"   Suara Wina yang terkejut membuat Marsha tidak enak. Dia langsung merengkuh bahu Wina. Tidak mau kekasihnya itu salah paham.   "Halo." Melani kini malah duduk di sofa dan menatap Wina dengan sinis.   "Apa yang.?"   Wina menoleh kepada Marsha dan dia langsung tersenyum untuk menenangkan Wina.   "Dokter Mel ke sini untuk menjengukku. Kebetulan dia kemarin yang mengantarkan aku pulang. "   Wina tampak tidak suka. Tapi kemudian hanya tersenyum tipis.   "Owh iya Cal, kemejamu nih. Udah aku cuci ya."   Melani mengeluarkan kemeja yang kemarin di pakai wanita itu. Lalu meletakkan di atas meja.   "Makasih loh udah mau minjemin kemejanya ya." Melani mengerling genit membuat Wina kini memberengut lagi.   Wina langsung menarik Marsha untuk keluar dari dalam rumah. Tentu saja Marsha hanya menurut.   "Memangnya apa yang dia lakukan sampai pinjam kemejamu segala?"   Setelah sampai di teras Wina langsung menegurnya.   "Owh itu. Kemarin dia masak sop di dapur, dan bajunya basah lalu pinjem kemejaku."   Wina kembali menatapnya tidak suka.   "Kenapa dia ada di sini dan memasak? Kamu memangnya sudah kenal sama dia sebelumnya?"   Marsha langsung menggeleng. Tapi dia kemudian mengusap pipi Wina untuk menenangkan.   "Dia hanya menolongku saja tidak lebih. Jadi sayang jangan cemberut begitu."   Wina menatap ke arah pintu dengan tidak suka. Tapi kemudian mengangguk dan tersenyum.   "Ya sudahlah. Aku mau berangkat ke rumah sakit. Sayang istirahat saja ya."   Wina mengusap lengannya dan membuat Marsha tersenyum. Dia menerima kecupan di pipi lalu mengangguk saat wanita itu melangkah menuju mobil yang di parkir di halaman rumahnya.   "Owh iya. Kamu tahu rumah ini dari siapa?"   Pertanyaannya membuat Wina menoleh ke arahnya.   "Dari papa kamu. Katanya kamu ada di sini. Ah rumahnya bagus ya dan sangat indah. Ya sudah ya aku ke rumah sakit dulu. Owh iya, kartu kreditmu semalam aku buat beli baju. Kamu pasti akan terpesona melihatku besok memakai gaun itu. Jadi cepatlah sembuh ya. Biar kita bisa maka. Malam berdua."   Marsha mengangguk dan membantu menutup pintu mobil. Dia melambai saat Wina melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.   Saat Marsha berbalik untuk masuk ke dalam rumah, dia menemukan Melani sudah berdiri di belakangnya.   "Ehm wow kartu kredit. Aku juga mau baru jadian beberapa hari di beri kartu kredit."   Sindiran sinis itu membuat Marsha tersenyum. Lalu menatap Melani.   "Aku hanya ingin membahagiakan kekasihku."   Melani mengangkat alisnya. Lalu kini mendekati Marsha. Aroma manis khas Melani membuat Marsha sedikit mundur.   "Wah aku juga mau menjadi kekasihmu."   Tapi kemudian wanita itu tersenyum sinis lagi.   "Tapi sayang, aku sudah memiliki kekasih."   Marsha kini menarik lengan Melani. Dia menunduk untuk menatap wajah Melani yang tampak terkejut itu.   "Jadi Kevin itu kekasihmu?"   Melani mengangguk dan tersenyum.   "Kekasih yang sudah menjadi tunangan."   Tentu saja ada sedikit rasa kesal saat mendengar ucapan itu. Entah kenapa Marsha merasa tertantang.   "Sudah punya tunangan tapi kenapa kamu masih berada di rumah pria lain yang bukan siapa-siapa kamu?"   Pertanyaannya membuat Melani tampak terkejut untuk sesaat. Wanita itu bahkan kini tampak gelisah.   "Berarti kamu ingin aku memperhatikanmu kan?"   Mata indah itu membelalak. Terkejut dengan penuturan Marsha. Dan Marsha merasa senang karena membuat Melani kembali tidak bisa berkutik. Sungguh itu merupakan kepuasan untuk dirinya sendiri.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN