15 CANTIK

2151 Kata
"Tadaaaaa" Marsha terkejut saat menatap ambang pintu ruangan kantornya. Wina sudah ada di ambang pintu dan tersenyum dengan manis.   Marsha membalas senyum kekasihnya itu. Harusnya hari ini dia masih sedikit lemas. Flunya masih belum mau pergi. Tapi kalau di rumah dia juga merasa bosan maka Marsha akhirnya pergi ke rumah sakit.   Marsha melihat Wina melangkah masuk mendekatinya.   "Aku lihat mobil kamu di depan. Kamu sudah sembuh?"   Wanita itu langsung mendekatinya. Dan kini mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Marsha.   "Ehm masih sedikit anget. Udah minum obat sama sarapan?"   Marsha mengangguk. Lalu menarik jemari Wina yang masih menempel di dahinya. Dan menggenggamnya lalu membawa ke bibirnya dan mengecup jemari itu.   "Aku kangen sama kamu."   Ucapannya itu membuat Wina langsung merona merah.   "Semalam harusnya aku jenguk kamu di rumah. Tapi Mama minta anterin belanja. Maafin ya?"   Marsha kembali tersenyum dan mengangguk.   "Aku tahu kamu sibuk."   Wina lalu melepaskan genggaman tangannya dan melangkah mundur. Lalu menunjukkan tas yang di bawanya.   "Aku beliin kamu sweater. Biar hangat."   Marsha tentu saja terkejut dengan perhatian kekasihnya itu. Dia menerima bungkusan itu dan langsung mengambil sweater yang ada di dalamnya.   Sweater warna merah burgundy itu kini di pegangnya. Tapi kemudian dia mengernyitkan keningnya. Karena melihat label harga yang masih tertempel di sweater.   "3 juta?"   Marsha mengangkat alisnya dan menatap Wina. Wanita itu kini sudah duduk di tepi meja kerjanya. Tepat menghadap ke arahnya   "Bagus gak? Ini limited edition. Merk terkenal. Halus, lembut dan pastinya kamu makin kelihatan keren."   Marsha menghela nafasnya. Dia sebenarnya tidak setuju dengan selera Wina yang tinggi itu. Tapi dia tidak mau membuat Wina kecewa. Bukankah wanita itu sudah perhatian kepadanya?   "Makasih ya sayang?"   Marsha kini mengusap lengan Wina. Dan wanita itu tersenyum manis.   "Iya. Apa sih yang gak buat kamu. Owh ya nanti siang makan siang bareng ya?"   Marsha mengangguk. Lalu wanita itu beranjak berdiri dan kini membungkuk untuk mengecup pipinya. Ciuman yang begitu hangat.   "Sampai nanti ya?"   Marsha menatap Wina yang berbalik dan melangkah keluar dari ruangannya. Tapi kemudian terkejut melihat siapa yang masuk berikutnya. Sang papa menatapnya tajam.   "Kamu dan Dokter Wina?"   Marsha hanya mengangkat bahunya.   "Namanya juga anak muda pa."   Dan papanya kini mengernyitkan keningnya. Menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja kerja Marsha.   "Baru tahu anak papa bisa punya kekasih. Katanya kamu mencintai adiknya Adrian sahabat kamu itu. Siapa namanya?"   Marsha menghela nafasnya. Dia kembali teringat Bintang. Wanita itu tetap masih memeluk hatinya sampai saat ini.   "Bintang pa. Itu kan udah jadi istri orang. Ical bisa apa? Lagipula Wina cantik dan lemah lembut. Ical suka."   Sang papa kembali mengerutkan keningnya.   "Yah asal kamu senang sih papa dukung aja. Yang penting jangan salah pilih."   Marsha mengangguk. Dia juga masih memilih. "Eh iya kamu nanti anterin Dokter Melani ya? Tadi pagi tuh papa ketemu dia di jalan. Mobilnya mogok dan akhirnya di bawa ke bengkel. Kasian lah."   Marsha kali ini yang mengernyitkan keningnya. Ada urusan apa dia harus mengantar Melani? Sebenarnya kemarin Melani langsung pulang dan marah saat Marsha menyinggung kalau Melani sudah punya tunangan tapi masih mau ke rumahnya. Hal itu membuat Marsha menyesal.   "Kan dia udah punya kekasih eh tunangan pa?"   Papanya kini menatapnya dengan bingung.   "Kata siapa? Papa nih yang kenal sama papanya Melani. Dia aja sampai bingung kok mau jodohin Melani sama pria. Anaknya itu terlalu memikirkan karir dan dedikasinya sebagai dokter. Sehingga sampai sekarang juga belum punya pacar."   Tentu saja Marsha langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan sang papa. Ini siapa yang membohonginya?   "Hah papa yakin?"   Sang papa mengangguk dengan mantap. "Yakinlah. Orang papanya malah pengen kamu di jodohin sama dia. Tapi kan papa tahu kamu udah mencintai wanita lain . jadi ya udah."   Sang papa mengangkat bahunya. Dan membuat Marsha makin bingung.   "Ya udah. Papa cuma minta tolong itu ya." Papanya sudah beranjak berdiri. Tapi kemudian menatapnya lagi.   "Eh kamu sakit ya? Melani tadi cerita sama papa."   "Cuma flu aja pa."   Marsha kini mengibaskan tangannya. Dan membuat papanya tersenyum.   "Pulang ke rumah aja. Mamamu pasti Masakin kamu sop."   Marsha jadi teringat SOP buatan Melani kemarin. Dia tersenyum sendiri.   "Udah makan sop kok pa."   Papanya mengusap-usap dagunya dan mengangguk.   "Ok deh. Papa tinggal ya. Jangan lupa antar Melani pulang."   Marsha hanya menghela nafasnya mendengar perintah itu. Dia masih belum nyaman berada di sisi Melani. Sepertinya salah karena dia sudah memiliki Wina.   ****   "Mel."   "Melani."   Marsha melangkah cepat, untuk mengejar Melani. Sore ini dia langsung mencari Melani. Tapi wanita itu sepertinya menghindarinya.   Wina juga akhirnya tidak bisa ditemuinya lagi. Wanita itu ada pasien yang harus di periksanya saat makan siang tadi.   "Apa?"   Melani membalikkan tubuhnya dan kini menatapnya tajam. Mereka berdiri di halaman rumah sakit yang mengarah ke parkiran mobil.   "Aku di suruh nganterin kamu sama papa. Katanya mobil kamu mogok."   Melani kini mendengus dan menatapnya sinis. Wanita itu tetap terlihat seperti biasa. Dengan rok span di atas lutut dan blouse yang memperlihatkan lekuk tubuhnya di balik snelli putihnya. Stiletto warna putih juga menghiasi kakinya yang indah. Tapi Marsha memang tidak menemukan cela di tubuh dan wajah Melani. Karena wanita di depannya ini cantik.   "Tidak usah repot-repot. Bukankah kamu kemarin mengusirku dan mengatakan aku w**************n karena meski sudah memiliki tunangan aku masih mengunujungimu?"   Marsha mengacak rambutnya. Dia memang kemarin salah. Entah kenapa dia emosi saat mendengar Melani mengaku kalau Kevin itu tunangannya. Lalu melontarkan kalimat menyakitkan itu.   "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu."   Marsha melangkah maju untuk menyentuh jemari Melani. Tapi wanita itu melangkah mundur.   "Aku sudah sakit hati. Asal kamu tahu ya aku bukan tuan putrimu yang langsung memberikan ciuman kalau di kasih kartu kredit. Aku ini..."   Mata Melani tampak berkaca-kaca. Dan Marsha tahu kalau dia telah menyakiti Melani.   "Aku minta maaf. Sungguh. Maksudku bukan begitu Mel. Aku hanya.."   Marsha mengedarkan pandangannya ke sekitar halaman. Masih bingung dengan apa yang akan di ucapannya sendiri. Saat dia kembali menatap Melani, wanita itu tengah mengusap sudut matanya dengan punggung tangannya.   Marsha mendesah. Dan dengan cepat menarik tangan Melani.   "Yang penting kamu ikut aku dulu. Aku sudah kedinginan ada di sini."   Badan Marsha memang menggigil. Melani awalnya ingin menolak. Tapi akhirnya wanita itu mengikutinya.   Dengan cepat Marsha membawa Melani ke mobilnya. Dan langsung membuka pintu dan mempersilahkan Melani untuk masuk ke dalam   Saat akhirnya Marsha sampai di dalam mobil, Melani mengulurkan botol s**u langsung minum.   "Nih minum dulu. Kamu perlu banyak minum ini biar flu MU cepet hilang."   Tentu saja Marsha terkejut dengan sikap Melani yang sudah melunak itu. Marsha menerimanya. Dan kini menusukkan sedotan dan menyesap s**u instan itu.   "Ehm kamu bawa-bawa kayak gini?"   Melani mengangguk. "Iya aku suka minum itu. Sehat."   Marsha akhirnya tersenyum. Lalu beralih menatap Melani. Dan hatinya berdenyut. Kenapa sore ini wanita itu terlihat begitu cantik? BAB 16 KENAPA? "Kemana tunangan kamu?"   Marsha akhirnya tidak tahan untuk menanyakan hal itu. Kalau ucapan sang papa benar, berarti Melani membohonginya.   Marsha Kini melirik Melani yang duduk di sampingnya. Mereka masih berada di dalam mobil. Tapi Marsha belum melajukan mobilnya. Masih berhenti di halaman parkir rumah sakit.   Wanita itu langsung menoleh ke arahnya dan menyipitkan mata.   "Memangnya apa urusanmu nanyain Kevin?"   Jawaban sinis dari Mel seperti biasanya kini di dapat olehnya. Dan Marsha tersenyum. Wanita di sampingnya ini selalu bersikap sinis tiap kali terdesak.   "Katanya tunangan. Kenapa di saat kamu butuh kayak gini dia gak datang?"   Marsha langsung menatap Melani yang langsung memberengut. Tahu kalau wanita itu pasti akan marah. Marsha tidak mau mengambil resiko. Dia langsung menyalakan mobil dan segera melajukan mobilnya.   "Dia sibuk."   Jawaban tidak terduga terdengar dari mulut Melani. Dan Marsha kini menoleh sedikit. Melihat Melani yang kini mengedarkan pandangannya ke arah jalanan yang mereka lewati.   "Owh. Jadi kapan nikah?"   Kembali pertanyaan itu membuat Melani langsung menatapnya dengan sebal.   "Bukan urusanmu juga. Urusin tuh tuan putrimu."   Jawaban ketus itu membuat Marsha tersenyum. Dia melakukan mobilnya dengan hati sedikit riang. Entah kenapa info dari papanya tentang Melani membuat hatinya menghangat.   "Kamu kenapa selalu menyebut Wina tuan putri?"   Kali ini Melani menoleh dan merubah duduknya. Wanita itu menghadap ke arahnya. Dan tersenyum sinis.   "Ya memang dia tuan putri kok. Liat aja. Hidupnya dari dulu bergelimang harta. Dia sekolah kedokteran juga gampang-gampang aja. Jadi yah..kamu yang harus nyiapin tabungan kalau mau nikahin dia."   Marsha kini mengangkat alisnya. Nada bicara Melani sedikit meninggi.   Marsha melihat kedai kopi langganannya ada di depan sana. Dan dia belum ingin langsung membawa Melani pulang.   "Kita ngopi dulu ya?"   Marsha tidak menunggu jawaban Melani dia langsung membelokkan mobilnya memasuki halaman kedai kopi di depannya.   "Suruh siapa ngopi? Kamu kan lagi minum obat."   Marsha langsung menoleh ke arah Melani yang kini sudah menatapnya dengan serius.   "Kata siapa aku masih minum obat?"   Melani langsung mencondongkan tubuh ke depan. Membuat jarak di antara mereka lebih dekat. Lalu Melani mengulurkan tangan untuk menyentuh keningnya.   "Tuh masih demam gini kok gak mau minum obat."   Melani menegurnya dengan galak. Dan membuat Marsha langsung tersenyum dan menggelengkan kepalanya.   "Susah nih pergi Ama Bu dokter."   Jawabannya membuat Melani langsung melotot.   "Udah deh. Sekarang antarin aku pulang. Kamu aku buatin s**u hangat atau coklat aja gimana?"   Marsha mengangkat alisnya. Tapi kemudian mengangguk.   ******   "Nih. Diminum."   Marsha menatap Melani yang kini baru saja meletakkan s**u hangat dan ada roti lapis di sampingnya. Yang di tata cantik di atas nampan.   Marsha tengah duduk di teras depan rumah Melani. Berbeda dengan rumah Wina yang memang mewah, rumahnya Melani sangat sederhana. Tapi rapi.   "Kamu di sini sendiri?"   Marsha kini menatap Melani yang duduk di sebelahnya. Mereka memang duduk di lantai teras dimana pemandangan depan rumput hijau langsung menyambutnya.   "Ehm sama papa. Tapi kalau jam segini papa belum pulang dari kantor. Biasa workaholic banget si papa mah."   Marsha mengangguk dan kini mengambil cangkir berisi s**u hangat itu. Menyesapnya dan menatap Melani yang kini memainkan rumput yang di injaknya itu.   "Cuma berdua? Mama kamu?"   Melani langsung menatapnya dan tersenyum.   "Mama sudah di surga. Mama meninggal saat melahirkan ku. Jadi yah aku cuma sama papa."   Marsha merutuki dirinya sendiri karena lancang menanyakan hal itu.   "Owh maaf. Aku tidak tahu kalau.."   Tapi Melani sudah menggelengkan kepalanya. Lalu mengangkat bahunya.   "Udah lama juga. Jadi bagiku aku memang hidup cuma sama papa. Dan sangat bangga dengan papa selama ini tetap tidak mau punya istri lagi. Jadi yah, aku menjadi teman papa untuk selamanya."   Marsha mengernyitkan keningnya. Melani kini tersenyum dan mengambil kue lapis yang sudah di iris-irisnya tipis itu.   "Jadi kamu tidak mau punya pacar dan menikah itu karena tidak mau meninggalkan papamu?"   Tentu saja celetukannya membuat Melani tersedak. Dan membuat Marsha langsung mengangsurkan cangkir berisi s**u kepada Melani.   Dengan cepat Melani menerima cangkir itu dan langsung meminumnya. Masih sedikit terbatuk tapi kemudian sedikit berkurang.   "Maaf."   Ucapannya langsung membuat Melani menatapnya galak.   "Aku sudah bertunangan. Siapa bilang aku belum punya pacar."   Tentu saja hal itu membuat Marsha tersenyum. Dia tahu Melani sudah berbohong. Tapi dia tidak mau membuat wanita itu malu. Dia akan membiarkan Melani mengakuinya sendiri.   "Iya percaya deh. Yang udah punya tunangan."   Melani kini menatapnya lagi. "Aku memang sudah punya Kevin yang mencintaiku."   Jawaban Sombong itu membuat Marsha mengangguk. Kenapa Melani menutupi dirinya? Kenapa wanita ini memakai topeng yang berbeda?   "Syukur deh." jawabannya membuat Melani menepuk lengannya dengan keras.   "Kamu ngejek aku?"   Marsha langsung menggelengkan kepalanya. Dia melihat Melani kini seperti biasanya. Bersikap sinis.   "Kevin itu cinta mati sama aku. Kamu Sono tuh urusin tuan putrimu. Kamu kan tergila-gila sama dia."   Celetukan Melani membuat Marsha teringat Wina. Menunduk menatap sweater yang di berikan wanita itu tadi.   "Aku masih belum tahu. Namanya juga sedang menjajaki. Orang pacaran itu kan lagi mempelajari. Jadi yah aku dan Wina itu baru masa pendekatan."   Melani menggeleng.   "Huh kasian deh tuan putri. Belum dapat hati kamu ya? Tapi pasti udah dapat uang kamu kan?"   Marsha kini menghela nafasnya. Lalu menatap Melani dengan serius.   "Jadi kamu yang lebih beruntung daripada Wina? Sudah dicintai oleh tunanganmu?"   Melani terlihat terkejut. Tapi kemudian wanita itu memainkan rambutnya yang di biarkan tergerai itu.   "Tentu saja aku lebih menang daripada dia. Aku sudah punya tunangan. Dan lebih baik daripada dia."   Marsha penasaran dengan Melani yang tampak sangat ingin bersaing dengan Wina itu.   "Aku percaya kamu lebih baik daripada Wina."   Melani kini memutar bola matanya. Lalu memainkan jari-jari kakinya yang telanjang itu di atas rumput.   Hari sudah beranjak malam. Mereka sampai di rumah Melani setelah Maghrib.   "Gak perlu di tegaskan seperti itu. Aku memang lebih baik daripada Wina. Tapi kamu kan cintanya sama dia."   Marsha terkejut dengan penuturan wanita disampingnya itu. Apa maksud Melani? Sedikit cemburu?   "Ah sudahlah. Aku lelah. Kamu pulang sana."   Melani tiba-tiba beranjak dari sisinya. Berdiri dan meregangkan tubuhnya. Lalu berbalik untuk menatapnya.   Marsha merasa di usir oleh Melani. Kali ini menunjuk cangkir s**u yang masih setengah isinya itu.   "Aku mau minum ini dulu."   Marsha langsung mengambil cangkir itu. Dan menatap bekas lipstik yang ada di tepi cangkir. Dia tersenyum, lalu memyesapnya tepat di bekas lipstik milik Melani.   "Eh tapi itu...kan. "   Melani membelalak saat menatap Marsha meneguk semuanya. Setelah selesai Marsha mengusap bibirnya. Lalu menunjukkan jarinya yang berwarna merah sedikit terkena bekas lipstik yang ada di cangkir.   "Kita sudah berciuman."   Dan Marsha hampir tertawa saat melihat wajah Melani yang memerah itu. Sungguh membuat hatinya senang karena menggoda Melani.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN