Athar membaca kertas berisi perjanjian sebelum perceraian yang baru saja Syifa buat, ia mengerutkan keningnya karena ada beberapa perjanjian yang menurut Athar tidak perlu di lakukan Syifa.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Athar.
"Ryan menjeratku dengan cinta, lalu pada akhirnya melukaiku. Aku juga ingin melakukan hal itu, aku ingin menjerat Ryan dengan cinta sebelum akhirnya aku tinggalkan dengan luka," ucap Syifa.
"Pikirkan lagi, Syifa. Aku takut malah kamu ragu untuk bercerai dan hubungan kalian kembali membaik,'' ucap Athar.
"Itu tidak mungkin, Athar. Sekarang aku tahu jika ia selama ini tidak mencintai ku, itu sebabnya aku ingin membuatnya jatuh cinta padaku sebelum berpisah hingga akhirnya ia hancur setela kehilangan semuanya," ucap Syifa.
Athar menghela nafas dan terpaksa setuju dengan apa yang di katakan Syifa, ia sadar meskipun Syifa adalah sahabatnya sejak kecil. Namun, untuk masalah pernikahan Athar tak punya kuasa, ia hanya bisa memberi saran dan membatu jika Syifa membutuhkannya.
Syifa mengirim pesan ke nomor Ryan, wanita cantik itu ingin Ryan, Dina, dan Sherly mendatangi rumahnya. Ia ingin membuat perjanjian sebelum perceraian dengan Ryan dan Dina sebagai mertua menjadi saksi dalam perjanjian itu.
Karena Ryan dan ibunya sangat ingin memiliki toko furniture itu, maka mereka pun bersedia datang ke rumah Syifa kembali dan membahas masalah tersebut.
"Kamu bilang mau menalak aku jika aku memberikan toko furniture kepadamu, kan?!" ucap Syifa seraya memandang Ryan.
"Iya, apa kamu mau memberikan toko furniture itu untuk ku?" tanya Ryan dengan tidak tahu malu.
"Iya, tapi ada syaratnya," ucap Syifa.
"Apa syaratnya?" tanya Ryan, Dina, dan Sherly begitu kompak.
Syifa tersenyum kecut melihat kekompakan ketiga orang itu jika membahas masalah harta dan kepemilikan, wanita cantik itu menyodorkan sebuah kertas kepada Ryan dan membuat ketiga orang itu mengerutkan keningnya.
"Aku bersedia memberikan toko furniture untukmu setelah kita bercerai, asal kamu mau memenuhi pernjanjian sebelum perceraian ini," ucap Syifa.
Ryan menerima kertas itu dan mulai membaca isinya, setelah itu Sherly dan Dina bergantian membaca. Mereka keheranan dengan perjanjian yang di berikan oleh Syifa karena di luar dugaan mereka.
Isi perjanjian itu adalah.
*Pertama Sherly tidak boleh tinggal di rumah mereka sebelum Syifa dan Ryan resmi bercerai.
*Kedua Ryan tidak boleh bertemu Sherly selama proses perceraian dengan Syifa.
*Ketiga selama proses perceraian Ryan harus membawa Syifa ke tempat-tempat yang pernah di datangi saat awal pernikahan.
*Keempat Syifa dan Ryan ke rumah sakit memeriksakan kondisi kesuburan.
*Kelima mereka menghadiri sidang perceraian menggunakan baju saat akad nikah dulu.
"Udah turuti aja kemauannya, kamu gak akan rugi. Perempuan mandul ini masih cinta sama kamu dan butuh belaian dari kamu makanya bikin pernjanjian lebay kaya gini," bisik Dina di telinga Ryan.
"Tapi gimana dengan Sherly, apa dia akan setuju?" tanya Ryan.
"Aku bisa tinggal sama ibu selama proses perceraian kalian, gak apa-apa kan, Bu. Paling lama dua bulan kan kalau proses cerai," ucap Sherly.
"Iya kamu benar, Sherly. Paling lama dua bulan, bahkan ada yang sebulan sudah ketuk palu," ucap Dina.
Ryan mengangguk dan menyetujui perjanjian tersebut, lelaki itu membubuhkan tanda tangannya diatas kertas putih tersebut. Syifa tersenyum karena rencana balas dendamnya akan segera di mulai, sementara Athar hanya bisa menjadi saksi perjanjian diantara mereka dan berharap Syifa tidak goyah dengan keputusannya.
"Sekarang bawa pergi barang-barang istri muda mu dari rumah ini, aku tak ingin ada satu barang pun yang tersisa!" ucap Syifa.
Ryan mengangguk patuh seperti kerbau yang di cocok hidungnya, demi toko furniture yang ia inginkan lelaki itu bersedia menuruti permintaan Syifa dan menyetujui perjanjian tersebut. Sherly mulai mengemas barangnya, Dina dan Ryan pun membantu.
"Baru beberapa hari tinggal di rumah dan kamar besar, sekarang udah harus angkat kaki lagi," ucap Sherly pelan, tapi masih bisa di dengar Ryan.
"Sabar ya, Sayang. Nanti aku akan belikan rumah besar untuk kita," ucap Ryan.
"Iya, Mas. Aku akan bersabar demi pernikahan dan anak kita," ucap Sherly.
Ryan mengantar istri mudanya untuk tinggal di rumah sang mama, wanita itu menempati kamar Ryan yang lama dan sedikit iri dengan sang mertua yang kamarnya lebih besar dari kamar yang ia tempati.
"Mas, gak bisa di tukar ya? Mama yang tidur di sini, aku yang di kamar Mama, di kamar ini sumpek gak ada jendela nya, Mas."
"Gak bisa, Sayang. Nanti mama marah, udah kamu sabar aja nanti aku pasang AC biar kamar ini gak terlalu panas untuk kamu," ucap Ryan.
"Bener ya, Mas. Kan selama proses perceraian kamu gak boleh ketemu sama aku, pasti aku akan kangen banget," ucap Sherly dengan suara manja. Kepalanya di sandarkan di d**a bidang Ryan, sementara jemari lentiknya menari membuat lingkaran di bagian payudar4 Ryan.
"Iya, aku juga akan sangat kangen sama kamu, Sayang. Kamu pintar menggoda," ucap Ryan langsung mencium bibir Sherly.
Mereka saling melumat penuh nafsu, tangan Ryan tak tinggal diam menjalar ke seluruh tubuh Sherly. Saat nafsu sudah berada di ubun-ubun ponsel Ryan berdering, Sherly melarang Ryan mengangkat panggilan itu dan ingin melanjutkan aktivitas panasnya. Namun, ponsel itu kembali berdering dan membuat Ryan terpaksa menghentikan aktivitas nya dengan Sherly.
"Dari Syifa, aku angkat dulu takut penting," ucap Ryan.
Sherly menghela nafas dan raut wajahnya berubah kesal, setelah mengangkat panggilan telepon dari Syifa lelaki itu mengancingkan dan merapikan pakaiannya. Ia langsung pamit pada Sherly untuk kembali ke rumah Syifa.
"Gak bisa di tunda satu jam aja, Mas?" tanya Sherly.
"Gak bisa, Sayang. Nanti Syifa marah perjanjian batal dan toko itu gagal aku miliki," ucap Ryan.
"Ih, tapi nanggung ini, Mas," ucap Sherly begitu kesal karena belum selesai menuntaskan nafsunya.
"Sabar ya, Sayang. Nanti aku akan jadi milikmu seutuhnya dan kita bisa kapanpun melakukannya," ucap Ryan.
Ryan mencium kening dan bibir Sherly lalu pergi dari rumah sang mama meninggalkan istri mudanya, ia kembali ke rumah istri pertama dan mulai melakukan apa yang ada dalam perjanjian sebelum perceraian.
Lelaki itu rela meninggalkan istri muda yang sudah setahun ini membuatnya tergila-gila, demi bisa memiliki toko furniture peninggalan kedua orang tua Syifa. Ryan tiba di rumah yang sudah dua tahun ia huni bersama Syifa, rumah itu nampak sepi sepertinya Athar sudah tidak ada dan ia mencari keberadaan Syifa.
"Syifa kamu dimana?" tanya Ryan sedikit berteriak.
"Aku di kamar, Mas. Kamu kesini dong, jangan lupa kunci pintu luar!" ucap Syifa sedikit berteriak.
Ryan mengunci pintu luar, lalu berjalan menuju kamar. Begitu ia membuka pintu kamar mata Ryan tak berkedip menatap Syifa yang berdiri di depan meja rias.
"Syifa, kamu ...."