"Gimana menurutmu, Mas. Apa baju ini cocok untukku?" tanya Syifa.
Wanita cantik itu memakai lingerie berwarna merah yang begitu tipis, tubuhnya yang indah terlihat jelas oleh Ryan hingga membuat lelaki itu menelan saliva nya. Ia yang belum selesai menuntaskan rasa yang menggebu pada Sherly tadi, kini menatap Syifa dengan penuh minat.
"Sangat cocok, cantik, dan seksi," ucap Ryan seraya mendekati Syifa.
"Aku memesan baju ini di aplikasi online beberapa hari yang lalu, niatnya ingin aku pakai setiap malam Jumat untuk servis kamu. Namun, belum sampai baju ini datang kamu sudah membawa gundikmu ke rumah ini. Jadi sepertinya baju ini tidak perlu aku pakai lagi," ucap Syifa seraya berjalan menuju kamar mandi.
Ryan menahan tangan sang istri, ia menarik dan membawa Syifa ke atas tempat tidur. Lelaki itu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menikmati tubuh sang istri yang nampak sangat menggoda.
"Maafkan Aku, Sayang. Sekarang tidak ada lagi Sherly di rumah ini, jadi pakailah baju itu untuk memuaskan ku," ucap Ryan.
Syifa tersenyum dan menatap Ryan, dulu saat awal pernikahan lelaki itu selalu meminta Syifa untuk memakai baju seperti itu setiap malam. Namun, setahun belakangan Ryan tidak pernah memintanya lagi, pada awalnya Syifa tidak berpikir macam-macam dia justru senang saat Ryan tak memintanya untuk memakai pakaian seperti itu lagi karena sebenarnya ia merasa malu. Namun, setelah Syifa pikir-pikir mungkin Ryan tidak memintanya lagi karena sudah ada Sherly yang selalu memberikan kepuasan kepada Ryan dengan baju-baju seksi seperti itu.
"Aku tidak bisa, Mas. Ingat sebentar lagi kita akan bercerai," tolak Syifa dengan halus.
"Tapi saat ini kita masih menjadi suami istri yang sah, kamu masih punya kewajiban melayani aku!" ucap Ryan.
"Baiklah, aku akan melayani kamu asalkan ...."
"Asalkan apa?" tanya Ryan.
"Asalkan kamu kasih tahu aku password handphone dan mobile banking kamu," ucap Syifa.
"Oh itu oke," ucap Ryan.
Lelaki itu mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan password handphone dan mobile banking miliknya, Syifa dan menganggukan kepala. Ryan yang sudah tidak bisa menahan keinginan nya langsung merengkuh sang istri, Syifa terpaksa melayani Ryan demi menjalankan rencana balas dendamnya.
Setelah melakukan aktivitas panas yang membuat Ryan sangat puas, lelaki itu pun akhirnya tertidur pulas. Syifa meraih ponsel Ryan, ia memblokir nomor ponsel Sherly dan Dina lalu menghapusnya dari ponsel Ryan, dua orang itu harus di jauhkan dari Ryan selama ia menjalankan rencana.
Setelah itu Syifa melihat aplikasi mobile banking milik Ryan dan melihat mutasi rekening, begitu banyak transaksi transfer ke rekening atas nama Sherly Agustin membuat Syifa menggelengkan kepala.
"Ternyata hidupnya selama ini di manjakan Mas Ryan, bukan hanya uang dari toko, uang dari rekening pribadi Mas Ryan pun selalu mengalir padanya," ucap Syifa.
Syifa melihat saldo ATM Ryan dan mentransfer setengahnya ke rekening miliknya, setelah itu ia mandi dan meninggalkan Ryan di dalam kamar. Wanita cantik itu kini sedang menuliskan list tempat-tempat yang dulu pernah ia dan Ryan datangi saat pacaran sampai awal menikah. Ia ingin mulai memupuk perasaan Ryan dari tempat-tempat itu.
"Syifa kamu sedang apa?" tanya Ryan saat bangun dari tidurnya.
"Aku sedang menulis tempat-tempat yang akan kita datangi, Mas."
"Oh."
Ryan duduk dan bersandar di kepala ranjang, ia meraih ponselnya dan mencari nomor Sherly, tetapi lelaki itu tak menemukannya. Hal itu membuat Ryan kebingungan dan menatap Syifa penuh curiga.
"Syifa, kamu hapus nomor Sherly dan mama?" tanya Ryan.
"Iya," jawab Syifa singkat dan jujur.
"Kenapa?"
"Aku gak mau mereka mengganggu pikiran kamu, aku mau kamu fokus hanya padaku sampai kita selesai sidang. Kalau kamu keberatan kita batalkan saja perjanjian!" ucap Syifa.
"Iya aku tidak keberatan," ucap Ryan seraya menghela nafasnya.
Syifa tersenyum lalu memberikan catatan pada Ryan, lelaki itu membaca catatan yang di berikan Syifa. Ia mengangguk dan tidak keberatan dengan rencana tersebut, yang penting setelah bercerai toko furniture jadi miliknya.
Syifa keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur, ia memasak karena perutnya sudah merasa lapar. Wanita cantik itu akan membuat hari-hari Ryan sibuk hingga jauh dari mama dan istri mudanya.
Setelah selesai masak ia memanggil Ryan dengan suara yang lembut, ia akan memperlakukan Ryan dengan baik dan melayani lelaki itu hingga tidak bisa melupakannya setelah cerai.
"Mas, aku masak makanan kesukaan kamu. Mulai hari ini sampai kita resmi bercerai aku akan masak semua makanan kesukaan kamu," ucap Syifa.
"Terima kasih," ucap Ryan.
Syifa menyendok kan makanan di piring Ryan, lalu Ryan mulai menikmati makanan itu. Masakan Syifa memang sangat lezat dan Ryan tidak menampik hal itu, tetapi bagi Ryan makanan enak bisa ia beli jika ia memiliki uang yang banyak jadi tak masalah jika nanti bercerai dengan Syifa.
"Besok kita mulai ya, Mas. Aku mau kita ke danau, sekarang kamu habiskan makanan ini. Makanlah sampai puas karena nanti aku tak akan lagi memasak untukmu," ucap Syifa.
Ryan menganggukan kepala menuruti keinginan istrinya, ia menghabiskan makanan tersebut dan merasa senang di layani seperti raja oleh Syifa. Tak pernah terpikirkan oleh Ryan jika Syifa memiliki niat lain dan kini istri mudanya di rumah sang mama sedang uring-uringan karena tidak bisa menghubungi nomor ponsel Ryan.
"Kenapa Sherly?" tanya Dina.
"Nomor mas Ryan gak bisa di hubungi, Mah. Aku kirim pesan pun cuma ceklis satu," ucap Sherly.
"Coba mama hubungi," ucap Dina.
Dina mencoba menghubungi Ryan dan tenyata ia pun tidak bisa, mereka keheranan dan curiga jika Syifa di balik semua itu.
"Mah, aku udah gak boleh ketemu mas Ryan. Sekarang gak bisa berkomunikasi juga, mbak Syifa jahat banget padahal aku sedang hamil dan butuh perhatian dari mas Ryan," ucap Sherly.
"Kamu sabar aja, sebentar lagi mereka akan resmi cerai. Perhatian Ryan nanti cuma untuk kamu, kalau mau ketemu Ryan nanti kita datangi aja toko furniture nya," ucap Dina.
"Bener juga, Mbak Syifa pasti gak akan tahu kalau kita datang kesana," ucap Sherly.
"Yaudah sekarang kamu makan ni, tadi mama beli makanan di warteg," ucap Dina.
"Gak ada makanan lain, Mah?" tanya Sherly.
"Gak ada, uang mama bentar lagi habis. Kalau kamu mau makanan enak pakai uang kamu aja dulu," ucap Dina.
"Aku belum di transfer sama mas Ryan, makanya aku mau minta di transfer, tapi nomor mas Ryan gak bisa di hubungi," ucap Sherly.
"Sama mama juga, jatah mingguan mama dari Ryan besok. Jadi yaudah sekarang makan seadanya, besok kita datangi toko furniture ketemu Ryan sekalian minta uang," ucap Dina.
Sherly menganggukan kepalanya, mereka pun makan makanan seadanya.
Keesokan harinya, Dina dan Sherly benar-benar datang ke toko furniture milik Syifa. Mereka begitu kesal karena Ryan tidak ada dan karyawan bilang ia pergi bersama Syifa, mereka tambah kesal karena ada dua bodyguard yang berjaga di toko itu dan melarang Dina serta Sherly masuk ke toko.
"Siapa kalian berani-beraninya melarang kami masuk, kalian tidak tahu siapa kami?!" ucap Dina.