Pagi tiba, matahari bersinar sangat terang, sinarnya sungguh menghangatkan. Lihatlah sinar matahari begitu terang, sedangkan wajah perempuan ini sangat murung. Mata ia sembab dan bengkak, akibat semalaman menangis terus menerus. Bentuk matanya berubah, mata ia menjadi sipit. Padahal mata ia lumayan besar, belo. Ia mengecek kembali dandanannya melalui cermin, dan mendekatkan wajahnya ke cermin. Mungkin ia berharap agar matanya kembali normal, seperti biasanya. Penampilannya sudah rapih, ia turun ke lantai bawah untuk sarapan. "Pagi, sayang..." Sapa seorang perempuan paruh baya. "Sya..." Nando mengguncangkan pelan tangan Nasya, dan membuat Nasya tersadar. "Eh, kenapa ka?" Nasya mendudukan bokongnya di salah satu kursi. "Mata kamu sembab kenapa?" "Engga, kayanya kegigit binatang. Owh

