Chapter 2

1035 Kata
Chapter 2                “Iya nanti om transfer hari ini.” Jawab Yuda tanpa ragu. Untuk keponakan kesayangn Yuda yang satu ini apapun yang Sarah minta pasti diberikan kapdanya. Mengingat bahwa hanya Sarah sajalah yang masih tersisa sebagai saudara yang masih memiliki hubungan darah. Maka dari itu Yuda tanpa ragu memberikan apapun yang Sarah mau.                Setelah telepon itu di tutup Yuda langsung melaksanakan apa yang Sarah mintakan tadi. Akan tetapi setelah berulang kali Yuda berusaha mentransfer menggunakan mobile banking gagal terus. Sampai genap hampir 10 kali ternyata masih gagal terus.                Karena tak ingin keponakannya menunggu terlalu lama Yuda langsung berhambur keluar dari tempat tugasnya saat ini setelah mendapatkan ijin dari komandan atasan Yuda, untuk mencari mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) terdekat.                 Akan tetapi usaha Yuda juga gagal terus, entah kesialan apa yang menimpa Yuda saat ini. Kartu ATM yang tadi sudah dimasukkan kedalam mesin tiba-tiba tertelan.                Seakan-akan dunia menolak niat baik Yuda untuk menolong keponakannya itu. Dengan derakan cepat tangan Yuda meraih saku celana yang didalamnya terdapat benda pipih berlogo apel sisa gigitan putri salju itu.                “Sarah sayang… om minta maaf yaa belum bisa kirim apa yang kamu minta, karena om ada sedikit problem. Ini malah kartu Anjungan Tunai Mandiri milik om tertelan sama mesinnya. Om urus dulu sebentar yaa…” Yuda mengirim pesan kepada keponakan yang paling ia sayangi itu.                “Iya om Yud ganteng, tidak apa-apa kok Sarah masih setia menunggu.” Balas Sarah.                Setelah mendapat balasan dari keponakannya itu, lalu Yuda langsung bergegas masuk ke gedung BN* . Yuda masuk dan langsung mengambil nomor antrian menuju customor service.                Setelah menunggu sekitar 10 menit “nomor antrian sepuluh silahkan menuju ke loket customor service”  sebuah speaker dengan lantang memanggil seseorang menunjukan bahwa antriannya sudah sampai pada giliran.                Setelah mendengar sebuah suara robot itu memanggilnya Yuda segera bergegas menuju ke customor service “ dengan bapak Yuda? Silahkan duduk pak.” Ucap seorang yang sangat cantik. Seoarang yang dulu sangat imut. Seorang yang selama ini dicari-cari oleh Yuda.                “Deg…!” bukannya menjawab pertanyaan customor servise Yuda malah justru mematung tanpa kata untuk beberapa saat. Yuda melirik meja memastikan disana ada papan nama yang tertera.                Dan dugaan Yuda itu memang benar adanya, orang yang sekarang berada dihadapannya adalah orang yang sudah 12 tahun ini ia cintai. Orang yang selama ini sudah dicari tanpa ada kabar apapun.                “Bapak, ada yang saya bantu?” seseorang yang ada dihadapannya itu berucap lagi dengan kata yang sama. Hingga Yuda benar-benar tersadar.                “Em…iii..iya ini saya mau melaporkan kalau kartu Anjungan Tunai Mandiri milik saya baru saja tertelan oleh mesin yang berada di depan gedung ini.” Jelas Yuda dengan apa adanya.                Setelah selesai melaporkan peristiwa itu ke customor service Yuda bergegas keluar dari gedung itu dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan entah perasaan apa yang lebih tepat namanya.                “Oh Tuhan engkau memang Maha Baik, seseorang yang selama ini saya cari ternyata sekarang sudah saya temukan dan dia ada di depan mataku sendiri.” Gumam Yuda dalam batinnya sangking bahagianya.                “Wajahnya masih sama, hanya sekarang dia terlihat lebih cantik dengan penampilannya yang elegant dan berkelas.” Gumamnya kembali.                Dalam perjalan Yuda menuju tempat parkir yang sudah disediakan di gedung itu, Yuda bertemu dengan seorang security. Ia berniat untuk menanyakan langsung tetntang orang baru saja ia temui untuk beberap saat yang lalu.                Dan itu semua adalah benar, setelah Yuda bertanya dan memastikan bahwa wanita itu tadi adalah Shifa. “Ternyata memang benar dia adalah Shifa.” Gumamnya lagi.                  SHIFA POV.                Hari ini temanku tidak datang ke kantor karena cuti melahirkan yang maju dari tanggal perkiraan. Akhirnya setelah apel pagi tadi aku di berikan tugas untuk menggantikan teman aku di bagian customor service.                Mula-mula semua berjalan dengan sangat lancar dan normal. Aku berusaha melayani nasabah dengan ramah dan sabar. Hingga ketika aku bertemu dengan seorang nasabah dengan nomor urut 10.                Aku merasakan ada hal yang tidak biasa ketika aku bertemu dengan pria itu tadi. “Dia siapa ya?” gumam Shifa dalam batinnya.                Otaku terus saja berputar mencari sesuatu yang memang aku sulit untuk mendapatkan jawabannya. “Orang itu namanya Yuda, dia itu siapa? Seperti tidak asing dengan wajah pria itu tadi.” Ucap Shifa lirih. Dan tetap saja Shifa tidak bisa menemukan jawabannya.                Menit sudah berubah menjadi jam, dan sinar mentari sudah tidak nampak menghiasi langit yang biru cerah. Hingga langit itu sudah berubah warna menjadi warna hitam legam dan dihiasi dengan terangnya rembulan dan bintang-bintang.                Malam itu sudah menunjukan pukul 21.00 WIB, dan sekarang terlihat seorang wanita yang baru saja keluar dari gedung perkantoran milik BUMN itu.                Shifa berjalan denganlangkah yang sedang dengan sebuah benda pipih ditangannya. Ia berniat untuk memesan taksi online untuk mengantarkannya kembali kerumah orang tuanya.                Ketika Shifa sudah berada di halte bus yang berada tepat di depan gedung tempat ia bekerja, tiba-tiba ada sebuah mobil Mitsubishi Xpander berwarna putih berhenti tepat di depan ia berdiri saat ini.                Shifa sebenarnya sedikit takut, apalagi malam itu sudah cukup larut untuk kalangan orang yang pulang kerja sebagai karyawan. Ia melihat ke dalam aplikasi taksi online yang ada di benda pipih milik Shifa.                Ia membuka kembali dan memastikan bahwa plat mobil taksi online yang ia pesan memang tidak sama.                Hingga terlihat seorang pria turun dari balik kemudi mobil yang berada tepat didepannya itu. Sebenarnya Shifa sudah mulai curiga ketika langkah kaki orang itu mendekatinya. Akan tetapi tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh Shifa selain fokus pura-pura untuk menatap layar ponsel miliknya.                “Permisi nona..?” Ucap seorang yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Shifa.                “Em, iya pak. Ada yang bisa saya bantu?” Jawab Shifa dengan sopan. “Lho ini kan kalau tidak salah orang yang tadi ketemu di kantor.” Ucapnya dalam hati meski sebenarnya ia cukup terkejut setelah memastikan pria yang sekarang ada di hadapannya adalah orang yang beberapa jam yang lalu sudah bertemu.                Tiba-tiba pria itu mengangakat tangan kanananya “maaf nona, nona tidak usah takut ataupun terkejut. Perkenalkan nama saya Yuda.” Yuda mengatakan hal yang sudah lama sekali ingin ia katankan padanya.                Untuk beberapa saat Shifa masih terdiam, dia takut kalau orang ini adalah orang jahat. Tapi lagi dan lagi hati nurani Shifa mengatakan bahwa orang yang sekarang berada di depannya ini adalah orang baik.                                            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN