Gadis yang selalu membuat hari-hariku berwarna, dulu dan kuanggap serta kuyakini akan selalu dan tetap seperti itu kedepanya nanti, masih dalam dekapanku. Rasa hangat menyelimuti hati dan juga kemeja putihku yang ternyata sudah basah oleh air mata Rere. Isakannya semakin lemah seiring belaian tanganku pada rambut panjangnya. Madein... ah... empat tahun tanpa melihatnya benar-benar sudah merubah penampilanya. Madesuku sudah lulus mencapai level tertinggi seorang Madein. "Kenapa malah nangis sih Re?" Tanyaku lembut sambil menangkup kedua pipinya menjauhkan dari dadaku. "Aku takut kalo ini cuma mimpi, bukan kenyataan " ucapnya disela isak tangis "Memangnya aku hantu yang gak nyata?" Dicubitnya pinggangku hingga mengaduh, dia langsung tertawa girang meski airmata terlihat meleleh di p

