Pesta yang menyenangkan seandainya aku tidak teledor meninggalkan kekasihku yang terlihat tesiksa dengan kehadiran Indri seakan mengancam gadisku. Setelah berhasil menghalaunya pergi, kurengkuh pundak Rere dengan tangan kananku sambil menepuk bahunya perlahan. "Kamu gak apa-apa kan Sayang?" tanyaku yang diangguki dengan senyum sedikit dipaksakan. "Dia yang pernah datang ke rumahmu waktu itu?" Aku jadi ingat saat Rere kuminta berpura-pura menjadi kekasihku ketika Indri datang menemuiku di kontrakan. "Iya, dia perempuan licik" bisiku ke telinganya membuat mata bulatnya membelalak. "Kalau kamu gak suka sama dia,gak usah ngatain jelek gitu dong Bi" kesal Rere dan aku hanya tersenyum. Akan kubuktikan sebentar lagi Sayang, bahwa dia benar-benar licik, dia dan keluarganya. Acara inti seger

