“Sang pembunuh tahu kalau dia seorang atletik. Jadi masuk akal kalau orang berpikir anak itu terlalu banyak berlatih untuk kompetisi taekwondo nasionalnya, sampai kelelahan saat berenang.” “Pembunuhnya cerdas,” timpal Grace. “Aku sangat penasaran dia siapa.” “Pastinya tidak jauh dari teman sekelas kita Grace. Aku yakin,” kata Rania. “Wait.” Eveline menenggak saliva, manatap semua orang satu persatu. “Di kelas, kita tinggal bertujuh. Aku, kalian bertiga, Bella, Dion dan Axton.” “Antara Axton dan Bella,” sela Grace. “Aku kenal Dion sejak TK, aku tahu dia anak seperti apa.” “Baiklah, kalau begitu Axton dan Bella.” Rania melanjutkan “Eveline, Grace, kalian berdua tahu, kalau aku, Hugo dan Thomson sudah mencurigai Bella sejak awal. Dia yang paling aneh.” “Ya.” Thomson membenarkan. “Te

