Musim dingin di Paris yang tertutup salju. Oza mengehela napas berat. Memperhatikan jam dinding di rumah classic milik pamannya Alvin. Rumah ini masih sama, beraroma mint. “Ada apa beb?” Oza menoleh, mendengar suara itu. Alvin berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya dengan segelas kopi di tangan. “Kau baik-baik saja, kan?” Oza menggeleng. “Bagaimana mungkin Al.” “Hahaha… tak perlu mendengar apa yang mereka katakan. Kalaupun banyak hujatan, kita harusnya bisa bertahan dan melaluinya. Lagi pun, sampai kapan kita akan bersembunyi. Lebi baik jujur dan memperbaiki semuanya dari awal ketimbang harus menutupi dan menjalani hari-hari buruk.” Dengan berat Oza tersenyum. Pria dihadapannya membaanya ke ruang tengah. Terduduk di depan kamera yang terhubung langsung dengan saluran TV

