“Terima kasih.” Suara itu membuat Dion mendongak. Didapatinya Eveline menyodorkannya sehelai plester tangan. “Karena sudah menolongku.” Dion mengangguk, meraih plester itu gugup. Menutupi luka kecil di tangannya. “Lain kali kalau ada bahaya seperti tadi, jangan ragu menghubungiku.” Dua manusia itu berada dalam kecanggungan yang luar biasa. Ini bahkan lebih buruk saat mereka pertama kali bertemu. “Omong-omong kenapa kau tahu aku ada di sana?” “Tadi saat ke kantin, aku tak sengaja melihat kalian bolos dan—maf Ev, signal keberadaanmu di hapeku masih aktif sampai sekarang. Kalau kau keberatan, aku akan menonaktifkannya.” “Tidak perlu, aku masih membutuhkanmu Dion.” Eveline menelan ludah, tersenyum getir berusaha mengalikan pandangannya ke manapun, asal jangan mata Dion. Tetapi pria diha

