Ini harusnya adalah hari terakhir Eveline dirundung. Semoga saja. Karena hari ini Dion akan kembali dari olimpiadenya. Pria itu beruntung mendapatkan medali emas utama. Ah tidak, itu bukan sebuah keberuntungan karena dia memang cerdas. Agaknya lagi dan lagi Adya akan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi di pidatonya sore ini. Bukan sebagai seorang gubernur, melainkan seorang papa yang bangga akan prestasi anaknya. Walau itu tidak terlihat di rumah, dia bersikap seolah tidak terjadi apa pun. Dion sedari kecil tak pernah sekali pun menerima pujian. Terakhir kali saat ibunya meninggal, ia dipuji tampan oleh perempuan yang melahirkannya itu sesaat sebelum meninggal. “Robert Dowardo. Hidup yang mati. Datanglah…. Apa ini?” tanya Eveline setelah membaca lembar kertas di atas meja kerja kakaknya

